Share

Jejak Komunis di Malang Sebelum Peristiwa Berdarah G30SPKI

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 29 September 2022 08:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 29 337 2677115 jejak-komunis-di-malang-sebelum-peristiwa-berdarah-g30spki-7tTB1OarZ1.jpg PKI (Foto: Dok Okezone)

MALANG - Kebiadaban Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30SPKI) pada 1965 masih tergiang di ingatan masyarakat Indonesia. Kala itu, terjadi tragedi berdarah penculikan dan pembunuhan para jenderal yang didalangi PKI.

Pasca peristiwa berdarah ini banyak simpatisan PKI di Pulau Jawa, termasuk Malang yang dipenjara dan dibuang ke luar pulau.

BACA JUGA:Strategi PKI Menangkan Hati Rakyat di Pemilu Sebelum Peristiwa G30S 

Menurut Sejarawan Malang Faishal Hilmy Maulida, peristiwa 1965 pemberontakan PKI sebenarnya tak bisa dilepaskan dari suatu peristiwa saja. Ada beberapa rangkaian peristiwa yang akhirnya melatarbelakangi terjadinya gerakan 30 September 1965.

Salah satunya, kata Faishal, melihat kembali ke tahun 1950, di mana tidak ada sekat di antara partai - partai berdasarkan ideologi masing-masing.

"Meskipun antara Masyumi dan PKI secara ideologi ya beda, satu ideologi Islam moderat, satunya Marxis Leninisme. Kemudian kenapa PKI dan Masyumi itu bentrok karena mereka tidak berada dalam satu front yang sama. Logikanya perbedaan ideologi," ucap Faishal Hilmy Maulida saat berbincang, Kamis (29/9/2022).

BACA JUGA:Kisah Njoto, Tokoh PKI yang Masih Hadir dalam Rapat Kabinet Usai G30SPKI 

Namun, faktor ideologi bukan menjadi hal mutlak adanya pergesekan antar partai politik di masa itu. Persoalan politis menjadi hal utama terlebih saat tahun-tahun politik di 1955, namun pergesekan menjadi unsur ideologi menjadi muara di tahun 1960-an.

"Tahun 60-an konfliknya muaranya sudah unsur ideologis, apalagi pasca (pemberontakan) PRRI, dan Masyumi diteguhkan, karena dianggap terlibat PRRI - Permesta. Artinya sudah nggak ada yang beku, sebelumnya ketika Pemilu 55 sampai 57 itu ada kubu Masyumi dan PSI," katanya.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

"Kemudian, ketika PKI leading pasca Pemilu 57, kemudian dianggap sebagai ancaman bagi kelompok-kelompok poros tengah terutama PNI, kemudian NU dan Masyumi akhirnya ketika kekuatan kekuatan oposisi sudah berkurang yang ada di dalam gelanggang politik itu kan antara PNI," imbuhnya.

Di Malang sendiri jauh sebelum PKI menjadi partai politik yang diperhitungkan ada partai politik bernama Akoma yang berintegrasi dengan ideologi komunis. Partai ini salah satu tokohnya adalah Ibnu Parna yang merupakan pengikut Tan Malaka.

Diakui Faishal, tidak semua anggota Partai Akoma pro PKI dan upaya-upaya yang dilakukannya. "Jadi kalau tokoh - tokoh Malang tokoh - tokoh kiri tapi tidak semua tokoh kiri pro PKI, bisa pro Murba, Akoma, keterkaitan dengan Madiun 48 nggak ada, kalau ada tokoh - tokoh yang memang memiliki kaitan dengan orang - orang terlibat peristiwa itu ada jelas. Karena Ibnu Parna sosok yang sangat kontra dengan Amir," tuturnya.

Menariknya dari catatan dosen di Binus University Malang ini, Malang justru menjadi kantong - kantong suara bagi PKI di Pemilu 1955. Roda partai berhasil menggerakkan kaum buruh dari pabrik gula, buruh transportasi, dan buruh lainnya untuk bergerak. Bahkan PKI pernah menjadi partai politik dengan mengumpulkan massa hingga mencapai 200 ribu.

"Tidak heran kalau suara PKI di Malang di tahun 55 cukup besar dan diperhitungkan. Soal bertemunya Masyumi dan PKI rapat Akbar di Alun-alun Kota Malang itu jadi salah satu pertemuan akrab yang luar biasa besar. Padahal, antara Masyumi dan PKI terjadi gesekan luar biasa besar saat itu," jelas dosen sejarah ini.

Pasca peristiwa berdarah di 30 September 1965, banyak simpatisan PKI di Malang yang juga turut menjadi korban. Mereka yang dituduh komunis dan dicap terlibat peristiwa 30 September 1965, langsung dijatuhi hukuman.

"Di Malang pasca gerakan 30 September kemudian ada banyak orang-orang yang dituduh komunis dan dicap terlibat 30 September, kemudian dieksekusi dan diasingkan ke Pulau Buru (Ambon, Maluku)," katanya.

Kendati Faishal belum mengetahui persis catatan sejarahnya di titik mana saja lokasi eksekusi para simpatisan PKI di Malang. Hanya beberapa referensi dan cerita-cerita salah satu lokasi pembuangan jasad simpatisan PKI berada di Jurang Mayit, yang ada di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini