Share

Di Mana Soeharto saat Malam Jahanam G30SPKI, Kenapa Dirinya Bisa Selamat?

Putra Tangguh Salsabil, Okezone · Rabu 28 September 2022 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 28 337 2676731 di-mana-soeharto-saat-malam-jahanam-g30spki-kenapa-dirinya-bisa-selamat-1aYAExJHAP.jpg Soeharto (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA – Enam jenderal dan satu perwira TNI AD gugur menjadi korban dalam peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 atau G30SPKI. Para pahlawan ini dibunuh dengan kejam dan dibuang ke sumur di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Mereka adalah Letjen Anumerta Ahmad Yani, Mayjen Raden Soeprapto, Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen Siswondo Parman, Brigjen Donald Isaac, Brigjen Sutoyono Siswodiharjo, dan Lettu Pierre Andreas Tendean.

 BACA JUGA:Kisah Letjen Suprapto, Sosok Sayang Keluarga yang Gugur Pada Peristiwa G30SPKI

Lettu Pierre Tendean adalah korban salah sasaran, yang mana seharusnya Jenderal AH Nasution yang menjadi sasaran untuk dibunuh.

Pada saat tragedi malam jahanam itu terjadi, Soeharto yang berpangkat Mayjen tidak terdapat pada list target pembunuhan. Padahal, dirinya menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategi Angakatan Darat.

Lantas banyak yang heran dan bertanya, ke mana Soeharto pada malam pembantaian 30 September 1965?

 

Saat malam itu ternyata Soeharto sedang berada di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, menemani anak bungsunya Hutomo Mandala Putra. Anaknya dirawat di RSPAD, karena ketumpahan sup panas.

“Tanggal 30 September 1965. Kira-kira pukul sembilan malam saya bersama istri saya berada di Rumah Sakit Gatot Subroto. Kami menengok anak kami. Tommy, yang masih berumur empat tahun dirawat di sana karena tersiram sup yang panas. Agak lama juga kami berada di sana, maklumlah menjaga anak yang menjadi kesayangan semua," dikutip dari buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, yang ditulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Keterlibatan Soeharto dalam G30SPKI tertulis dalam buku Abdul Latief dan buku John Roosa. Latief bersaksi bahwa ia memberi tahu Soeharto sebelum malam 30 September tentang rencana penculikan beberapa jenderal kala itu.

Pada saat kesaksian Latief pada Mahkamah Militer, dirinya membeberkan alasan mereka tidak memasukkan Soeharto karena Soeharto adalah loyalis Bung Karno.

"...karena kami anggap Jenderal Soeharto loyalis Bung Karno, maka tidak kami jadikan sasaran," kata Latief seperti dikutip dari buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang (2010).

Sedangkan dalam wawancaranya bersama Der Spiegel pada 19 Juni 1970, Soeharto mengaku oleh Latief di RSPAD Gatot Subroto pada malam 30 September 1965. Tapi katanya. Latief akan membunuhnya saat itu, bukan untuk memberitahunya.

"Dia justru akan membunuh saya. Tapi karena saya berada di tempat umum, dia mengurungkan niat jahatnya itu," kata Soeharto.

Sayangnya, pernyataan Soeharto berbeda dengan yang ada pada otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1988). Soeharto mengaku hanya melihat Latief dari jauh, tidak sempat untuk berinteraksi dengan dirinya.

Sementara itu, peneliti senior bidang Sejarah dan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Asvi Warman Adam menyebut, belum ada bukti kongkret terkait keberadaan Soeharto hingga 1 Oktobber 1965.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini