Share

3 Kali Kudeta Berdarah PKI di Indonesia, Salah Satunya G30S

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 28 September 2022 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 27 337 2675828 3-kali-kudeta-berdarah-pki-di-indonesia-salah-satunya-g30s-PYAl7qTazO.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Eksistensi PKI atau Partai Komunis Indonesia sudah berlangsung cukup lama, yakni sejak masa penjajahan Belanda. Disebutkan dalam Jurnal Sejarah Lontar (2008) bertajuk “Kehancuran Golongan Komunis di Indonesia”, adalah Josephus Fransiscus Marie Sneevliet yang menjadi orang pertama penyebar paham komunis di Tanah Air. Ia merupakan tokoh intelektual Marxis dan menjabat sebagai ketua persatuan buruh kereta api dan trem di Belanda pada tahun 1909.

Sneevliet pindah ke Hindia Belanda pada 1913 dan menghimpun banyak buruh kereta api dan trem. Sekitar setahun setelahnya, Sneevliet mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Partij). Melalui partai ini, Sneevliet mempengaruhi banyak kader dari SI (Sarekat Islam) di wilayah Semarang, hingga akhirnya SI pecah menjadi 2 bagian yakni SI Merah dan SI Putih.

Meskipun Sneevliet diusir oleh pemerintah Belanda di tahun 1918, namun paham komunis tidaklah hilang. Posisi Sneevliet diambil alih oleh Dharsono dan Semaun. Dua kader terbaik ISDV ini mendirikan Perserikatan Komunis Hindia Timur yang sebagian besar beranggotakan SI Merah. Bersamaan dengan kebangkitan nasionalisme Indonesia, nama Perserikatan Komunis Hindia Timur berganti menjadi Partai Komunis Indonesia. Lantas, berapa kali PKI melakukan pemberontakan?

1. 1926-1927

Selama berdiri, PKI terhitung melakukan 3 kali pemberontakan. Pertama adalah di tahun 1926-1927, yang membuat para tokohnya diasingkan ke Boven Digul, Irian Barat oleh pemerintah Belanda. PKI memberontak di Banten dan Silungkang.

Melansir Sindonews, pemberontakan PKI di Banten dipimpin oleh KH Tubagus Achmad Chatib pada 12 November 1926. Anggota PKI melakukan serangan ke rumah Asisten Wedana, Mas Wiriadikoesomo. Bersama dengan keluarganya, Asisten Wedana tersebut ditangkap dan dibawa ke Caringin. Di sisi lain, pihak pemberontak berhasil melumpuhkan polisi pengawal keluarga Mas Wiriadikoesomo.

Baca juga: Kisah Akhir Hayat Musso, Tokoh PKI yang Jasadnya Dibakar dan Abunya Berserakan

Setelahnya, PKI juga melakukan penyerangan ke rumah Haji Ramal dan menewaskan dua orang. Diserang pula rumah seorang pegawai pemerintahan yang sudah membocorkan rencana PKI bernama Mohammed Dahlan. Adapula Benyamis, pegawai kereta api, yang rumahnya juga dijadikan sasaran empuk penyerangan. Dalam insiden itu, ia dan dua orang polisi penjaga tewas. Jasad Benyamis diketahui diperlakukan keji, dengan dipotong-potong dan dibuang.

Usai pemberontakan itu, Gubernur Hindia Belanda di Jawa Barat, WP Hillen, langsung melakukan perburuan dengan 64 kali penangkapan di wilayah Banten. Jika ditotal, setidaknya terdapat 916 orang ditangkap terhitung sejak 13 November hingga 8 Desember 1926. Di tahun yang sama, pemberontakan tercatat terjadi di wilayah lain, seperti Banyumas, Kedu, dan Pekalongan.

Baca juga: Kisah Ketegangan NU dengan Soekarno Usai G30S hingga Karnaval Banser Diserang Massa PKI

Setahun setelahnya, pemberontakan kembali terjadi di Silungkang. Memasuki pukul 11 malam di malam tahun baru 1927, pemberontak sudah mulai melakukan serangan kepada Kepala Nagari Silungkang, Muhammad Djamil. Mereka juga menyasar Guru Mahmud, Djumin, dan Ramhman. Dalam peristiwa itu, ketiga guru dibunuh di rumahnya tanpa melakukan perlawanan. Pedagang emas, Kari Sutan dan Menek, juga tewas di tangan PKI bersama anaknya yang masih sangat kecil. Dalam pemberontakan saat itu, PKI membunuh 7 pegawai pemerintahan Belanda dan menghancurkan fasilitas umum.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

2. 1948

Pemberontakan selanjutnya terjadi di tahun 1948 dan terkenal dengan nama pemberontakan Madiun atau peristiwa PKI Madiun 1948. Melansir laman Kemendikbud, peristiwa ini bermula saat Kabinet Amir Sjarifuddin jatuh. Setelahnya, Amir membuat FDR atau Front Demokrasi Rakyat dan menggalang kerja sama dengan barisan paham kiri, seperti BTI (Barisan Tani Indonesia), PKI, dan Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). Amir juga diketahui mempunyai hubungan dekat dengan Muso dan berencana ingin menyebarkan paham komunisme lebih luas lagi di Tanah Air.

Propaganda anti pemerintah dilancarkan dan kaum buruh melakukan mogok kerja. PKI juga melakukan penculikan dan pembunuhan kepada beberapa tokoh, salah satunya adalah Koloner Sutarto, Gubernur Jawa Tengah RM Ario Soerjo, dan Dr. Moewardi. Puncak peristiwanya sendiri terjadi di tanggal 18 September 1948, ketika para pemberontak menguasai Madiun dan menyerukan kehadiran Republik Soviet Indonesia.

3. 1965

Pemberontakan PKI yang paling terkenal sekaligus menjadi akhir pergerakan partai kiri ini terjadi di tahun 1965. Dalam peristiwa ini, setidaknya ada 6 jenderal dan 1 perwira TNI AD yang dibunuh di Jakarta. Sementara itu, ada 2 perwira TNI yang juga tewas di Yogyakarta, yakni Letkol Sugijono dan Brigjen Katamso. Kelompok pemberontak tersebut dipimpin oleh DN Aidit.

Sebelum dibunuh di Lubang Buaya, Jakarta, para perwira TNI AD tersebut terlebih dahulu diculik di kediamannya masing-masing. Beberapa ada yang dibunuh di rumahnya, ada pula yang dibawa dan dibunuh di Lubang Buaya. Pemberontak melalui Letkol Untung memberikan pengumuman melalui RRI, yang berisi bahwa gerakan 30 September dialamatkan kepada Dewan Jenderal dan ingin melakukan kudeta kepada Presiden Soekarno.

Ada beberapa penyebab atau latar belakang terjadinya pemberontakan ini. Di antaranya, pengaruh PKI berkembang pesat di kalangan seniman, guru, wartawan, perwira TNU, dan cendekiawan. Selanjutnya, kondisi sosial-politik Indonesia di era demokrasi terpimpin memberikan kesempatan kepada PKI untuk menyebarkan doktrik Nasakom (nasionalisme, agama, dan komunisme). Hal ini juga menjadikan PKI sebagai partai elite di politik Indonesia. Selain itu, PKI cepat bangkit pasca pemberontakan Madiun 1948. Kebangkitan PKI ini tak lepas dari peran penting DN Aidit yang menjadikan PKI masuk dalam jajaran 5 besar partai politik terbesar pada pemilu 1955.

Usai peristiwa Gerakan 30 September, keberadaan PKI langsung ditumpas oleh pasukan pimpinan Mayor Jenderal Soeharto. Ia berhasil menyadarkan kesatuan TNI yang sebelumnya sudah terkena doktrin PKI. Mereka yang terlibat dalam pemberontakan ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru atau Nusakambangan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini