Share

Profil 3 Jenderal TNI Bintang 5 di Indonesia, dari Soedirman hingga Soeharto

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Senin 26 September 2022 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 26 337 2675305 profil-3-jenderal-tni-bintang-5-di-indonesia-dari-soedirman-hingga-soeharto-K5ZgBaA5Hu.jpg Seoharto merupakan salah satu jenderal TNI bintang 5. (Ist)

DI Indonesia terdapat 3 orang dengan pangkat militer bintang 5. Tak banyak petinggi militer di dunia yang menyandang bintang 5.

Sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber Senin (26/9/2022), berikut 3 sosok jenderal di Indonesia yang menyandang bintang 5 :

1. Soedirman

Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman atau yang biasa disebut Jenderal Soedirman merupakan salah satu tokoh besar di Tanah Air. Mengutip situs resmi Pusat Sejarah TNI, Soedirman dianugerahi Pangkat Kehormatan Jenderal Besar TNI pada 30 September 1997.

Penganugerahan Pangkat Jenderal Berbintang Lima ini adalah peristiwa yang sangat istimewa. Itu karena pangkat tersebut hanya diberikan kepada prajurit yang sangat berjasa untuk bangsa dan negara.

Soedirman dilantik menjadi Panglima Besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dengan pangkat Jenderal oleh Presiden Soekarno pada 18 Desember 1945. TKR kemudian berganti nama menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) pada 24 Januari 1946.

Kisah Jenderal Soedirman yang paling terkenal adalah saat gerilya selama 7 bulan demi mempertahankan kemerdaan Indonesia. Saat itu, Soedirman tengah sakit. Ia pun harus ditandu anak buahnya. Perang gerilya yang dilancarkan TNI dengan rakyat itu akhirnya berhasil memukul Belanda.

Setelah perang gerilya tersebut, kesehatan Soedirman menurun. Ia beberapa kali jatuh pingsan dan wafat pada 29 Januari 1950.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

2. AH Nasution

 

Abdul Haris Nasution lahir di Tapanuli Selatan pada 3 Desember 1918. Ia mulai tertarik pada bidang miiliter dan mengikuti pendidikan Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) atau KNIL di Bandung pada 1940-1942.

Di tubuh TNI AD, Nasution terkenal sebagai seorang pemikir dan konseptor ulung. Berdasarkan Pusat Sejarah TNI, Nasution memiliki beberapa gagasan dalam rangka pembangunan TNI. Gagasan itu di antaranya konseptor perang gerilya, konseptor operasi penumpasan PKI Madiun 1948, memimpin MBKD (Markas Besar Komando Djawa) pada masa agresi militer II Belanda, pemerkasa politik “Kembali ke UUD 1945”, dan perumus Konsepsi Jalan Tengah.

Nasution pun berperan dalam pembebasan Irian Barat dengan menasionalisasikan perusahaan-perusahaan Belanda sebagai langkah awal. Kemudian, Nasution turut menghadapi gerakan PKI dengan menolak beberapa gagasan yang diajukan PKI di berbagai bidang. Di antaranya bidang pers, budaya teritorial, dan militer.

Karena kemampuannya yang luar biasa itulah, Nasution mendapat penghargaan dari beberapa universitas. Gelar Doktor diterimanya dari Universitas Padjadajaran dan Universitas Islam Sumatera Utara. Sementara itu, gelar Doktor Causa dalam bidang Politik Ketatanegaraan didapatnya dari Filipina.

Penganugerahan pangkat Jenderal Besar TNI diterimanya pada 30 September 1997 dan tertuang dalam Keppres No.46/ABRI/1997. Ia wafat 3 tahun setelahnya yakni pada 6 September 2000 karena sakit.

3. Soeharto

Jenderal Besar selanjutnya asal Indonesia adalah Soeharto. Lahir pada 8 Juni 1921 di Bantul, Yogyakarta, Soeharto wafat di Jakarta, 27 Januari 2008 pada usia 86 tahun. Soeharto menjabat sebagai presiden ke-2 RI pada 1967 sampai 1998.

Menurut biografi yang dipublikasi oleh laman resmi Puspen Mabes TNI, Soeharto terkenal dengan sebutan “the Smiling General” atau “Sang Jenderal yang Tersenyum” karena raut wajahnya yang selalu tersenyum di depan khalayak ramai dan awak media, dalam setiap kesempatan atau acara resmi kenegaraan.

Sebelum menjadi presiden, Soeharto memimpin militer pada masa pendudukan Jepang dan Belanda. Pangkat terakhir yang ia sandang adalah Mayor Jenderal.

Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum dan berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Di usianya yang ke-41, ia dinaikkan pangkat menjadi Mayor Jenderal dan menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat, merangkap juga sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar.

Lanjutnya, pada 1962 Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat atau Kostrad hingga 1965.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini