Share

Humor Gus Dur: Ketika Kiai Diminta Pidato dengan Bahasa Arab

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 24 September 2022 05:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 23 337 2673721 humor-gus-dur-ketika-kiai-diminta-pidato-dengan-bahasa-arab-xYIYj0jphW.jpg Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Foto: Istimewa/Okezone)

JAKARTAPresiden RI ke-4 KH. Abdurrahman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur selalu memiliki humor yang tak pernah habis. Humor ini biasanya dilontarkan ke siapapun yang kala itu menjadi tamunya ada saat Gus Dur melakukan kunjungan.

Salah satunya adalah kisah seorang iai menghadapi intelijen pemerintah orde baru yang diambil dari tulisan ‘Strategi Kontra Intelijen Para Kiai’ karya Rijal Mumaziq.

Menurut kisah ini, di zaman Orde Baru, Gus Dur sebagai ketua PB NU sering dikuntit intel pemerintah karena Gus Dur tergolong tokoh yang kritis terhadap pemerintah. Gus Dur berdoa semoga tidak benar-benar dihabisi oleh rezim saat itu.

Pada Muktamar NU di Situbondo, ketika NU memutuskan kembali ke khittahnya, para intel berkeliaran di arena muktamar. Bahkan para agen pemerintah menyusup masuk ke ruang-ruang sidang, memata-matai setiap pembicaraan para kiai.

Baca juga: Humor Gus Dur: Ketika Dipanggil Jenderal Bintang Tiga

Dalam sebuah rapat penting yang dihadiri oleh para kiai yang membahas tentang Pancasila, tiba-tiba Gus Dur meminta KH. Prof. Tolchah Mansoer dan KH. Achmad Siddiq agar memimpin sidang dan berpidato menggunakan bahasa Arab.

 Baca juga: Humor Gus Dur: Kisah Polisi Gugup Lapor Mobil yang Disopiri Paus Kecelakaan

Kiai Tolchah dan Kiai Achmad yang belum paham sepenuhnya maksud Gus Dur segera memimpin rapat menggunakan bahasa Arab. Rapat berjalan mulus karena, tentu saja, para kiai yang hadir memahami bahasa Arab sepenuhnya.

Usai rapat, Kiai Tolchah Mansoer bertanya kepada Gus Dur mengenai hal tadi.

“Mas, rapat kita di dalam tadi itu diawasi oleh intelnya pemerintah, makanya sampeyan saya suruh berbahasa Arab. Mengapa? Karena intelnya pemerintah itu intel kepet (abangan) yang nggak bisa bahasa Arab..hehehe,” ujarnya.

Dalam buku “Belajar dari Kiai Sahal”, termuat kisah bagaimana dengan cara yang khas Kiai Sahal menghadapi jaringan telik sandi pemerintah.

Suatu hari, dalam suatu acara besar yang digelar selama beberapa hari, Kiai Sahal selalu rutin diantar jemput oleh seseorang bertubuh tegap memakai sepeda motor.

“Wah, njenengan enak ya kiai. Ke sana-kemari ada yang ngantar pakai sepeda motor!” kata beberapa sahabat Kiai Sahal yang melihatnya diantar naik motor.

“Lha, enak gimana, wong itu intel-nya Kodim,” jawab Kiai Sahal.

Dalam beberapa kali bahtsul masail di MWCNU Margoyoso Pati, ada pihak intel yang mengawasi dengan menyaru sebagai kiai maupun santri.

Kiai Sahal membuka acara, mempersilahkan sambutan beberapa pihak, memulai diskusi fiqh sebagai pengantar, sampai menunggu intelnya menyingkir pulang.

Setelah si intel pulang, barulah bahtsul masail sebenarnya dimulai dan dilakukan dengan serius.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini