Share

Cerita Sri Sultan Hamengku Buwono IX Terpaksa Pulang dari Kuliah Doktoralnya di Belanda

Nadilla Syabriya, Okezone · Kamis 22 September 2022 17:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 337 2672746 cerita-sri-sultan-hamengku-buwono-ix-terpaksa-pulang-dari-kuliah-doktoralnya-di-belanda-OI914nCcLp.jpg Sultan Hamengku Buwono IX (Foto; Ist)

JAKARTA - Dengan memburuknya situasi dunia, suasana genting makin terasa di mana-mana, terutama di seluruh Eropa. Dan ketika bulan September 1939 Hitler mengadakan penyerbuan ke Polandia, pecahlah Perang Dunia II.

Dalam perkembangan situasi seperti ini, masih ada anggapan bahwa Negeri Belanda akan dapat bertahan bersikap netral, tetapi semua orang pun melihat betapa cepat Jerman bertindak.

Melihat keadaan dunia itu, Sultan Hamengku Buwono VIII hanya dapat merasa cemas. Segera dikirimkannya telegram agar semua putranya yang sedang menuntut studi di Belanda pulang selekas mungkin, selagi keadaan masih mengizinkan.

Api peperangan telah berkobar di mana-mana, bahaya pun mengintai setiap saat berupa ledakan bom, granat ataupun ranjau. Tak terkecuali keadaan di samudra sehingga pelayaran jauh dianggap mengandung risiko yang amat besar.

Meskipun demikian, ada satu kapal barang yang masih akan berangkat dari Negeri Belanda ke Nederlands Indie waktu itu. Walaupun sebenarnya kapal "Dempo" adalah pengangkut barang, banyak penumpang yang mendaftarkan untuk ikut pelayaran bulan September itu.

Pejabat Belanda yang menguruskan tiket kapal "Dempo" untuk putra-putra Hamengku Buwono VIII menemukan tinggal satu tempat kosong. Diputuskan bahwa di antara kelima putra Sultan, Dorodjatun akan berangkat lebih dulu.

Pelayaran yang memakan waktu berminggu-minggu, bagi Dorodjatun memberikan banyak kesempatan untuk berpikir. la teringat bagaimana reaksi pertama ketika menerima telegram panggilan dari ayahanda.

Terselip rasa kecewa sejenak karena ia merasa sebagai mahasiswa tingkat doktoral sebaiknya menyelesaikan studi sampai tuntas, lalu pulang membawa gelar yang diinginkan.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Akan tetapi, dalam surat-surat dari runtah ia merasakan kecemasan keluarganya. la maklum, situasi memang darurat. Lagi pula ia mendengar, kesehatan ayahanda akhir-akhir ini mundur keadaannya.

“Ah, semoga saja studi yang tinggal sebentar ini dapat diselesaikan pada waktu lain dan naskah skripsi yang boleh dikatakan telah siap dan kini berada di kopernya itu dapat juga diajukan kepada sidang eurbelar di Universitas Leiden kelak,” ucap Sri Sultan Hamengku Buwono yang dikutip dari buku Takhta Untuk Rakyat.

Kini ia baru merasa bahwa sebenarnya ia tak pernah mengenal betul ayahnya. Hubungan antara mereka selalu hanya formal, dan satu jurang pemisah terasa menganga antara ayah dan anak. Keadaan seperti ini berlanjut terus selama ia berada di negeri orang karena dia juga bukan orang yang rajin menulis surat.

"Keadaan ini harus berubah, saya ingin menyelami pikiran dan cita cita ayah yang sebenarnya. Saya harus dekat dengan beliau, banyak ngomong dengan beliau," cetus niatnya waktu itu, yang ingin dilaksanakannya segera setelah sampai di tanah air.

Selama 23 tahun penuh ia lebih mengenal cara kehidupan Barat, cara berpikir dan bertindak sederhana telah mendarah daging pada dirinya, dan bahasa Belanda pun mengalir lebih lancar dari mulutnya. Bukannya ia lupa pada bahasa Jawa, tetapi selama bertahun-tahun praktik menggunakannya memang sangat kurang.

Selama berminggu-minggu menempuh pelayaran antara Holland dan Nederlands Indië, Dorodjatun benar-benar mempunyai banyak kesempatan untuk merenungkan keadaan dirinya, ayah-bundanya, keluarganya yang lain, dan hal-hal yang ada hubungannya dengan masa depannya.

Dan niatnya semakin mantap untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan ayahanda, sesuatu yang dianggap sebagai kunci penting dalam melangkah ke masa yang akan dihadapinya.

Namun, manusia boleh mempunyai rencana, Tuhan jugalah yang menentukan. Bagi Dorodjatun demikian jugalah keadaannya. Sedikit pun ia tak menyangka bahwa kejadian akan berubah begitu drastis, begitu ia menginjakkan kaki di bumi Betawi.

Jangankan mengenal ayahanda lebih akrab, bahkan kesempatan melepaskan rindu setelah perpisahan selama sembilan tahun pun hampir tak dialaminya. Dan seakan-akan sebelum ia menyadari betul apa yang terjadi, dalam waktu beberapa hari saja Dorodjatun yang masih berbau bangku kuliah itu telah menemukan dirinya menjadi putra mahkota Keraton Yogyakarta. Berarti dalam waktu dekat ia akan menjadi Sultan Hamengku Buwono IX.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini