Share

Forum Kyai, Nyai, Gus, dan Ning Pesantren se-Indonesia Gelar Musyawarah, Lahirkan 9 Poin Penting

Tim Okezone, Okezone · Selasa 20 September 2022 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 20 337 2671563 forum-kyai-nyai-gus-dan-ning-pesantren-se-indonesia-gelar-musyawarah-lahirkan-9-poin-penting-1Iht4oHyhS.jpg Forum Gus Discussion (FGD)/Foto: Istimewa

JAKARTA - Perkembangan teknologi dan informasi yangg begitu pesat telah banyak mempengaruhi tatanan hidup masyarakat, tak terkecuali kepada dunia pesantren. Oleh karenanya sudah selayaknya dunia pesantren berubah menghadapi dan menyikapi perkembangan zaman tersebut.

Berbagai kasus yang belakangan ini muncul, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, bullying dll. di area pesantren, semuanya diakibatkan karena kurangnya kesiapan kita menghadapi perkembangan teknologi dan informasi serta perkembangan zaman yang begitu cepat dan pesat perubahannya, tentu tidak menafikan minimnya pengawasan, control, termasuk pengawalan spiritual dari stakeholder kalangan pesantren.

 BACA JUGA:Bawa Celurit dan Mandau, Dua Pelajar SMA Ditangkap di Pejaten

Oleh karena itu dalam menyikapi problem-problem di atas, para kyai dan bunyai, gus dan ning, yang tergabung dalam Forum Kyai, Nyai, Gus, dan Ning Pesantren se-Indonesia menggelar musyawarah di Pondok Pesantren Ora Aji Sleman Yogyakarta asuhan Gus Miftah Maulana Habiburrohman, pada tanggal 18 September 2022.

Hadir dalam acara ini dari unsur PBNU, PWNU, dunia akademisi, dan kalangan kampus, serta dari SAS Institute, tentunya para kyai, bunyai, gus, dan ning perwakilan dari daerah di Jawa dan Sumatera.

 BACA JUGA:Running Text Homestay di Borobudur Diretas, Tulisannya Menjadi Hacker by Bjorkanism Kw

Hasil musyawarah dan diskusi menyikapi problematika dunia pesantren belakangan ini adalah dunia pesantren harus berubah, para pengasuh, kyai, bunyai, gus dan ning harus menyesuaikan zaman dan teknologi dalam mengelola pesantren dengan tetap mempertahankan tradisi lama yang baik dan mereformasi tradisi lama yang buruk untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman, tanpa melanggar ketentuan syariat, kultur dan budaya pesantren, dan ketaatan terhadap hukum NKRI.

Oleh karena itu, para kyai dan bunyai sepakat agar masing masing pesantren saling menguatkan dan membangun solidaritas yang tinggi disertai kemauan saling berbenah untuk mengambil yang terbaik dari pesantren yang sudah mengelola sistem manajemen nya secara profesional.

"Sekaligus melakukan pendampingan terhadap pesantren yg masih melakukan perbaikan sistem dan menejemen oleh pesantren yang sudah maju dan profesional," kata Ketua Forum Kyai, Nyai, Gus, dan Ning Indonesia (FKNGNI)

KH. Luqman HD Attarmasi yang juga pengasuh Ponpes Tremas Pacitan daal keterangannya, Selasa (20/9/2022).

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Menurutnya, hal ini penting dilakukan karena sampai detik ini pendidikan pesantren yang mengkombinasikan disiplin ilmu, akhlak, keteladanan dan kemandirian masih merupakan pendidikan terbaik di negeri ini. Dan pesantren Aswaja terbukti telah menjadi penopang utama tegaknya NKRI dan pembibitan rasa nasionalisme bagi kalangan generasi penerus bangsa.

Atas dasar itulah, pertemuan merekomendasikan beberapa poin tindak lanjut yang harus segera dilakukan oleh kalangan dunia pesantren, khususnya pesantren-pesantren NU.

 BACA JUGA:946 Ribu Anak Yatim Piatu Bakal Terima BLT Rp200 Ribu, Cair Desember 2022

Point tersebut adalah:

1. Pesantren harus waspada atas framing pemberitaan kekerasan fisik di lingkungan pesantren, dengan tetap melakukan evaluasi besar-besaran atas peraturan atau sistem yang memungkinkan terjadinya pelanggaran hukum dan pelanggaran syariat agama.

2. Pesantren perlu membuat lembaga bantuan hukum atau menyediakan para legal (ahli hukum) yang membackup dan mengantisipasi terjadinya potensi-potensi pelanggaran hukum dikalangan pesantren.

3. Keluarga besar pesantren harus muhasabah total baik itu kyainya, pengurus, wali santri dan santri, agar tidak terjadi lagi potensi pelanggaran hukum, salah satunya dengan membuat komitmen antara pengelola pesantren dengan wali santri sehingga kyai bisa lebih fokus dalam menjaga dan mengawal pesantren untuk menjadi lebih baik.

4. Kalangan pesantren harus membangun networking dengan semua pihak termasuk dengan aparat penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, peradilan) untuk menyelesaikan potensi pelanggaran hukum jika terjadi dilingkungan pesantren sekaligus mengantisipasi terjadinya pelanggaran hukum di pesantren.

5. Karena pesantren bukan pabrik yang akan melahirkan produk yang sama output-nya, maka diperlukan kebijaksanaan oleh para pengasuh dan pengelola dalam mengatasi berbagai problematikanya yang muncul. Salah satu wujud kebijaksanaan itu adalah dengan terus memohon pertolongan Allah dengan mujahadah, istighosah tirakat, doa-doa, dan muhasabah dari para pengelola.

Sehingga santri-santri lebih mudah diarahkan dan dibimbing untuk menjadi anak yang sholeh-sholehah dan futuh ketika belajar ilmu serta bermanfaat ketika sudah kembali di masyarakat.

6. Kedisiplinan di pesantren tetap di berlakukan dengan penuh rasa tanggung jawab

 BACA JUGA:Arist Merdeka Minta Korban Pemerkosaan di Hutan Kota Cilincing Ditempatkan di Rumah Aman

7. Segala bentuk takziran (hukuman) tidak berbentuk takzir fisik yangg mengakibatkan luka sedikitpun, diganti dengan takziran menjerakan yang mempunyai nilai tarbiyyah seperti menghafal surat-surat pendek dan bait-bait, qoidah-qoidah dll.

9. Saling mempunyai rasa kasih sayang dari dan kepada seluruh yangg ada di pesantren

"Demikian hasil resume dan delapan rekomendasi dari pertemuan para kyai, bunyai, gus, dan ning semoga bermanfaat dan maslahat untuk semua pesantren Indonesia," tulisnya.

Adapun sebagai tuan rumah, Pengasuh Ponpes Ora Aji Gus miftah melihat forum diskusi ini sangatlah penting mengingat begitu banyaknya isu yang terjadi di pesantren. Gus miftah melihat forum diskusi ini sekaligus menjadi muhasabah para pengasuh pesantren agar ke depan pesantren bisa lebih baik lagi.

“Kiai dan gus itu kan manusia biasa yang tidak Ma’shoem dan berpotensi melakukan salah, khilaf dan dosa, bagi saya juga enggak ada salahnya kiai minta maaf bila ada salah, minta maaf kan mulya dan terhormat,“ ujar Gus Miftah.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini