Share

Kisah Perjuangan Nyai Sholeha Ibunda Gus Dur Melawan PKI

Tim Okezone, Okezone · Selasa 20 September 2022 17:34 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 20 337 2671388 kisah-perjuangan-nyai-sholeha-ibunda-gus-dur-melawan-pki-VE1GyI5fix.jpeg Nyai Sholeha. (Foto: Muslimat Jakarta)

NYAI Sholeha Wahid Hasyim begitu gigih melawan Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah PKI bubar, Nyai Soleha kembali melanjutkan perjuangannya lewat pendidikan, sosial dan keagamaan seraya membesarkan putra-putrinya. Nyai Sholeha adalah ibunda Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Mengutip NU Online tulisan Syarif Abdurrahman, pada tanggal 5 Oktober 1965 silam, Muslimat bersama PBNU menandatangani sikap mengutuk penghianatan PKI. Muslimat NU saat itu diwakili Nyai Sholeha Wahid Hasyim. Pada hari yang sama, Muslimat NU juga turut menandatangani pernyataan sikap Front Pancasila agar Pemerintah menindak tegas dan membubarkan PKI.

Setahun sebelum meletusnya G/30S PKI, pada 1964 Muslimat NU gencar melakukan Sukarelawati bertempat di Pusat Pendidikan Hansip Pusat. Kegiatan ini dipimpin oleh Nyai Saifuddin Zuhri dengan pengasuh asrama Chadidjah Imron Rosjadi. Kegiatan ini mendapat restu dari PBNU melalui surat tanggal 5 Oktober Nomor 2207/B/x/64.

Adapun materi pendidikannya adalah baris berbaris, teknik menggunakan senjata, latihan menembak, bongkar pasang senjata dengan mata tertutup, cara menanggulangi kebakaran, PPPK, dan perawatan keluarga. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai daerah.

 Baca juga: Humor Gus Dur: Tukang Becak yang Bikin Pusing Polisi

Dua hari setelah meletusnya G/S30 PKI, Muslimat NU membuat pernyataan sikap menolak permintaan Dewan Revolusi memasukkan nama Mahmudah Mawardi sebagai anggota. Pada 2 Oktober 1965, Nyai Sholeha Wahid Hasyim kembali mewakili Muslimat NU dalam menghadiri rapat MPRS.

Tak sampai di situ, Muslimat NU dengan dikomandoi Nyai Sholeha juga meminta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk membubarkan Taman Kanak-kanak "Melati" yang dikelola oleh Gerwani (Gerakan Perempuan Indonesia), sayap perempuan PKI. Isu pembubaran ini dibawa Muslimat pada rapat Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

"Akhirnya TK melati diambil alih dari Gerwani oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan," ungkap Ketua 1 Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU Sri Mulyati saat ditemui di kantor pusat Muslimat NU di Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (8/12).

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Perjuangan melawan PKI terus dilakukan Muslimat NU, pada tanggal 8 November 1965 di bawah pimpinan Asmah Sjachruni (Muslimat NU) dan Nyai Arudji Kartawinata (PSII) mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut pembubaran PKI. Perjuangan Muslimat juga dilakukan dalam organisasi Kesatuan Aksi Perempuan Indonesia (KAWI). KAWI bubar setelah tuntutan Tritura (bubarkan PKI, bubarkan kabinet dan turunkan harga barang) terwujud.

Setelah PKI bubar, Nyai Soleha kembali melanjutkan perjuangannya lewat pendidikan, sosial dan keagamaan seraya membesarkan putra-putrinya. Gerakan secara kultural ini berlanjut hingga wafat. Nyai Sholeha tidak menikah lagi setelah cerai wafat dengan Kiai Wahid Hasyim. Meskipun saat itu usianya masih 30 tahun saat menjanda.

Dalam karier politik, Nyai Soleha pernah menjadi anggota DPRD DKI pada pemilu 1955. Pada 1960 ia diangkat menjadi anggota DPR GD dan menjadi anggota DPR RI pada tahun 1971 mewakili partai Nahdlatul Ulama. Pada 1982 terpilih lagi melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hingga1987.

Selain berjuang di parlemen, Nyai Sholeha juga turut serta mengisi pembangunan Indonesia yang baru merdeka. Dalam periode 1958-1960, di jajaran Badan Kerja Sama (BKS) Perempuan militer yang digerakkan ABRI, Muslimat NU memperoleh kepercayaan duduk sebagai wakil Bendahara atas nama Sholeha Wahid Hasyim lagi. Selanjutnya pada periode 1960-1962 posisi ini digantikan oleh Malichah Agus dan dilanjutkan oleh Aisyah Hamid Baidlowi (1963-1964).

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini