Share

Empat Perempuan yang Jadi Pejabat Penting di Kerajaan Mataram

Avirista Midaada, Okezone · Senin 19 September 2022 05:29 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 19 337 2670110 empat-perempuan-yang-jadi-pejabat-penting-di-kerajaan-mataram-iPg7cuttFs.jpg Ilustrasi/ Doc: Istimewa

JAKARTA - Perempuan semasa Kerajaan Mataram kuno konon telah mendapat tempat tersendiri di istana kerajaan. Bahkan beberapa perempuan telah mengemban jabatan penting di Mataram kuno. Sejarah mencatat ada empat perempuan di Kerajaan Mataram Kuno semasa dijabat oleh Mpu Sindok menjadi orang penting dibalik kebesaran Kerajaan Mataram Kuno.

 BACA JUGA:Anwar Ibrahim: Azyumardi Azra Sosok yang Kritis dan Kreatif

Keempat perempuan ini yakni Sri Prameswari, Rakryan Binihaji, Samgat Anakbi, dan Ibu ni Paduka Sri Maharaja, sebagaimana dikutip dari buku "Airlangga Biografi Raja Pembaru Jawa Abadi XI" tulisan Ninie Susanti. Sosok Sri Prameswari adalah istri raja atau permaisuri, ia disebut bersama dengan raja pada saat menurunkan perintah agar menjadikan tanah di Demak ditetapkan sebagai sima.

Beberapa tahun sebelumnya, di dalam Prasasti Cunggrang II tahun 851 saka, raja memerintahkan pemeliharaan untuk Sang Hyang Prasada Silulung, yaitu bangunan suci tempat bersemayamnya ayah dari Rakryan Binihaji Sri Prameswari Dyah Kebi atau disebut juga Rakryan Sri Prameswari Sri Wardhani Dyah Kbi.

 BACA JUGA:Korban Tewas Kecelakaan di Tol Pejagan-Pemalang Ternyata Anak Jamintel Kejagung

Sementara Rakryan Binihaji adalah istri raja yang bukan permaisuri, yaitu selir. Kedudukannya disejajarkan dengan permaisuri, putra mahkota, dan putra raja lainnya. Namanya Rakryan Binihaji Rakryan Mangibil, yang disebut sebagai seseorang memerintahkan pembangunan bendungan di tiga desa yaitu Desa Kahulunan, Wewatan Wulas, dan Wewatan Tamya kepada rama di Wulig, Pangikettan.

Sosok Rakryan Binihaji inilah yang memerintah supaya jangan ada yang berani mengusiknya. Hal ini agar rakyat dapat mengambil ikannya baik siang maupun malam hari.

Sedangkan sosok Ibu ni Paduka Sri Maharaja adalah ibunda raja, namanya disebut di dalam Prasasti Jayapattra, yang merupakan prasasti berisi penegasan hukum atau Desa Waharu, sebagai desa perdikan yang telah memiliki penduduknya sejak lama.

Sosok Rakryan Anakbi dan Samgat Anakbi, kata anakbi yang berarti istri atau perempuan, jadi keduanya merupakan Rakryan Anakbi dijumpai di antara deretan para Rakai dan Samgat Sarangan di dalam Prasasti Sarangan. Pada silsilah pejabat di era Kerajaan Mataram Kuno Rakryan berarti merupakan pejabat tingkat dua. Dimana kedudukannya di bawah raja dan rakai.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Sedangkan sosok Samgat Anakbi Dyah Pendel disebut di dalam Prasasti Hring pada tahun 851 saka. Dari gelar Samgat yang dicantumkan pada namanya, ia tentu seorang pejabat keagaaman atau kehakiman. Ia mendapat pasak - pasal sejumlah lima suwarna emas, jumlah yang sama dengan yang diterima oleh raja.

Tetapi sebenarnya keberadaan tokoh perempuan di tingkat wanua sudah diawali jauh sebelum masa pemerintahan Mpu Sindok. Sejak masa pemerintahan Raja Rakai Kayuwangi kurang lebih 802 saka, beberapa pekerjaan penting telah dipegang oleh perempuan, misalnya marhyang atau pengurus bangunan suci, huler atau petugas irigasi, tuha banua atau petugas administrasi desa.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini