Share

5 Kasus Pelajar Meninggal karena Tindak Kekerasan di Sekolah

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Senin 12 September 2022 05:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 11 337 2665236 5-kasus-pelajar-meninggal-karena-tindak-kekerasan-di-sekolah-PqaBpnfvi0.jpg Illustrasi freepik

KEKERASAN di dunia pendidikan selalu menjadi sorotan di Tanah Air. Untuk mencegah hal itu terjadi, pemerintah mengeluarkan Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Pada kenyataannya, kekerasan di sekolah tetap saja masih terjadi.

(Baca juga: Santri Tewas Dianiaya, KPAI Desak Ponpes Gontor Dievaluasi)

Berdasarkan data Simfoni PPA 2022, terdapat 541 kasus kekerasan yang terjadi di sekolah. Kasus kekerasan tersebut tentunya meninggalkan trauma bagi para korban, bahkan ada yang berakibat fatal hingga meninggal. Berikut kasus-kasus kekerasan pada anak yang berujung kematian di sekolah.

1. Kasus Perundungan di MTS Negeri 1 Kotamobagu Berujung Kematian

Kasus kekerasan menimpa seorang siswa MTS Negeri 1 Kotamobagu berinisial BT (13) yang tewas akibat perundungan dan penganiayaan yang dilakukan oleh teman sekolahnya. Tindakan penganiayaan tersebut diduga terjadi pada Rabu (8/6/2022). Saat itu, korban yang hendak melaksanakan salat Zuhur dirundung oleh teman sebayanya dengan cara menutupi kepala korban menggunakan sajadah lalu dianiaya.

BT yang mengeluh kesakitan di bagian perut pun melaporkan hal tersebut ke orang tuanya seusai pulang sekolah. Walaupun orang tua BT telah membawanya ke rumah sakit dan mendapat perawatan medis, nyawa siswa MTS Negeri 1 Kotamobagu itu tidak tertolong dan dinyatakan meninggal pada Minggu (12/6/2022).

Kasus tersebut sudah ditindaklanjuti oleh penyidik dari Polres Kotamobagu. Dari beberapa pelajar yang menjalani pemeriksaan, polisi telah menetapkan beberapa terduga pelaku. Para pelaku yang masih di bawah umur tersebut terancam pidana penjara paling lama 15 tahun dan atau denda paling banyak tiga miliar rupiah.

2. Siswa SD Meninggal Akibat Perundungan di Tasikmalaya

Seorang siswa kelas V berinisial F (11) harus tewas akibat kasus perundungan yang dialaminya. Peristiwa ini terjadi di salah satu sekolah dasar (SD) di Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Bocah laki-laki itu dipaksa oleh teman-temannya untuk berbuat hal yang tak senonoh dengan seekor kucing.

Momen tersebut direkam dengan kamera dan dibagikan ke media sosial. Hal itu membuat F menjadi depresi, hingga akhirnya dia jatuh sakit dan meninggal dunia pada Minggu, 18 Juli 2022 lalu. Polisi menetapkan tiga tersangka dalam kasus tersebut. Namun, mereka tidak ditahan dan dikembalikan kepada orang tua masing-masing. 

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Ibrahim Tompo menyatakan bahwa hal ini sesuai dengan Undang- Undang Nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Perlindungan Anak dan Upaya Diversi.

3. Tewasnya Siswa SMA Taruna Nusantara Magelang

Krisna Wahyu Nurachmad, seorang siswa SMA Taruna Nusantara (TN) Magelang, ditemukan tewas di Barak G 17 Kompleks SMA TN Mertoyudan, Magelang, pada Jumat (31/3/2017). Pelaku berinisial AMR (16) membunuh korban dengan sebilah pisau. Motif pelaku melakukan hal keji tersebut lantaran sakit hati karena korban tidak mau bertanggung jawab atas ponsel yang dipinjaminya.

Diketahui, korban meminjam ponsel kepada pelaku, namun tertangkap oleh paming sehingga ponsel tersebut disita. Korban pun tidak mau bertanggung jawab atas ponsel tersebut. Atas kasus tersebut, AMR dijerat pasal Pasal 80 ayat (3) juncto Pasal 76C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

4. Kekerasan Hingga Menghilangkan Nyawa Siswa di SDN 09 Makassar

Kasus kekerasan lainnya datang dari SDN 09 Makassar yang menewaskan salah seorang murid bernama Renggo Khadafi (11). Kekerasan tersebut dilakukan oleh kakak kelasnya, SY (13), pada Senin (28/42014).

Salah seorang teman Renggo menyatakan bahwa Renggo dipukuli dan ditendang di dalam ruang kelas.

Penganiayaan tersebut dilakukan SY lantaran korban tidak sengaja menyenggolnya. Meski berada di bawah umur, pelaku dapat dijerat UU Pasal 80 ayat 3 UUD 2003 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman penjara 10 tahun. Namun begitu, SY akhirya tidak dijatuhi hukuman pidana, melainkan hanya hukuman sosial yang akan diberikan oleh pemerintah.

5. Penganiayaan Santri Ponpes Gontor Ponorogo Hingga Tewas

Baru-baru ini, terjadi kasus penganiayaan terhadap salah seorang santri Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Pusat Ponorogo bernama Albar Mahdi (15).

Siswa kelas 5 tersebut meninggal pada Senin (22/8/2022) setelah dianiaya oleh dua kakak kelasnya. Penyidik Satreskrim Polres Ponorogo melakukan penyelidikan dan olah TKP untuk mengusut kasus ini.

Salah satu ruangan yang diperiksa adalah kamar santri yang diduga menjadi tempat penganiayaan. Menyikapi hal ini, pihak pesantren melakukan tindakan tegas dengan mengeluarkan santri yang terlibat dalam kasus tersebut.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini