Share

Santri Tewas Dianiaya, KPAI Desak Ponpes Gontor Dievaluasi

Carlos Roy Fajarta, · Minggu 11 September 2022 10:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 11 337 2665089 santri-tewas-dianiaya-kpai-desak-ponpes-gontor-dievaluasi-xBiHT9vHsK.jpg Foto: MNC Portal

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus kekerasan sesama santri yang menyebabkan satu korban tewas diduga akibat penganiayaan di Pondok Pesantren (ponpes) Gontor, Jawa Timur.

(Baca juga: Polisi Bakal Usut Surat Kematian Palsu Tewasnya Santri Gontor)

Komisioner KPAI, Retno Listyarti menyebutkan kasus tersebut sedang di proses pihak kepolisian. Namun yang membuat publik terkejut kata Retno kasus tersebut terjadi di sebuah Ponpes besar dan termasuk tertua dengan santri menjadi ribuan orang.

"Menurut informasi yang diperoleh, anak korban sempat menghubungi orangtuanya meminta sejumlah uang karena dirinya akan menjadi ketua panitia pelaksana program perkemahan di pesantren. Uang tersebut untuk berjaga-jaga jika ada benda milik pesantren yang hilang atau rusak saat perkemahan harus diganti panitia sebagai bentuk tanggung jawab," ujar Retno Listyarti, Minggu (11/9/2022).

Usai kegiatan tersebut anak korban berserta dua temannya yang juga panitia mengalami penganiayaan oleh santri senior, diduga kuat berkaitan kegiatan perkemahan. Dalam penganiayaan yang diduga menggunakan tongkat/kayu tersebut, anak korban kemudian tewas.

Keluarga korban kata Retno menyakini adanya pukulan pada leher korban karena kepala korban (jenazah) tidak bisa ditegakkan. Sementara dua teman korban lainnya selamat, namun diduga kuat mengalami luka fisik maupun psikis akibat kekerasan yang dialaminya, apalagi sampai rekan sebayanya meninggal dunia akibat kekerasan tersebut.

"Beberapa catatan kasus lain yang mengenaskan misalnya terjadi salah satu Ponpes di Rembang dimana anak korban dibakar oleh santri senior, korban mengalami 70% luka bakar karena korban sedang tidur saat pelaku menyiram Pertalite dan menyalakan api," ungkap Retno.

Pada Agustus 2022, seorang siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), usia 13 tahun meninggal dunia akibat dikeroyok sembilan orang teman di sekolahnya. Pengeroyokan terjadi saat korban akan ke musala untuk salat. Tiba-tiba korban didatangi rekan-rekannya dan ditangkap lalu dibanting ke lantai oleh teman-temannya. Kedua tangan korban di pegang pegang dan wajahnya ditutup dengan sajadah dan tubuhnya ditendang-tendang.

Dua kasus tersebut kata Retno yang terungkap dan muncul ke publik. Sementara banyak kasus tidak viral dan keluarga korban akhirnya lebih memilih menarik anaknya dari Ponpes atau pindah sekolah.

"Saya menyampaikan duka mendalam pada keluarga santri korban dugaan penganiayaan hingga tewas di Ponpes G, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan juga kekuatan," tambah Retno Listyarti.

Sebagai Komisioner KPAI, pihaknya mengecam segala bentuk tindak kekerasan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan (termasuk Ponpes G) yang mengakibatkan kematian salah satu santri.

"Berdasarkan informasi yang kami peroleh, sebenarnya ada 3 santri menjadi korban kekerasan fisik, namun satu orang meninggal dan 2 lainnya kemungkinan besar mengalami luka fisik," ungkap Retno Listyarti.

Dua santri lain tersebut kata dia harus di pastikan oleh Kementerian Agama dan jajarannya agar segera mendapatkan haknya untuk rehabilitasi medis dan psikis akibat kekerasan yang dialaminya.

"Mengalami kekerasan dan melihat kawannya mendapatkan kekerasan hingga tewas, sangat mungkin kedua anak tersebut berpotensi kuat mengalami gangguan psikologis, oleh karenanya diperlukan adanya assesmen psikologi segera oleh Lembaga layanan di daerah," tuturnya.

Ia menghormati dan mendukung proses hukum yang sedang dilakukan aparat penegak hukum dan mendorong penggunaan UU Nomor 11 Tahun 2021 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

"Namun, karena kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan dan melibatkan para peserta didik, maka seharusnya tidak semua ditimpakan kepada anak-anak pelaku, pihak Ponpes harus ikut bertanggungjawab karena tindakan kekerasan terjadi diduga kuat akibat lemahnya sistem pengawasan ponpes. Kalau sistem pengawasannya bagus, tidak mungkin peristiwa seperti ini terjadi," terang Retno.

Sistem pengawasan Ponpes Gontor perlu dievaluasi, karena manajemen ponpes umumnya memanfaatkan santri senior untuk melakukan pengawasan rutin, apalagi ketika jumlah santrinya sangat banyak, tidak hanya ratusan, bisa ribuan.

Follow Berita Okezone di Google News

“Apakah selama ini ada teguran ketika para santri senior yang bertugas mengawasi santri junior melakukan kekerasan, misalnya kekerasan verbal atau kekerasan fisik. Apakah ada ketentuan di ponpes bahwa tidak diperkanankan melakukan kekerasan dengan alasan apapun, termasuk atas nama mendisiplinkan,” tutur Retno Listyarti.

Beberapa Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) yang merupakan mitra KPAI di daerah menerima pengaduan dari orangtua-orangtua santri yang anaknya mengalami kekerasan fisik dan kekerasan verbal.

"Kekerasan fisik (lengkap dengan fotocopy rekam medis anak korban) diantaranya luka di wajah, dada, punggung, dan perut (dari anak korban yang berbeda-beda). Anak-anak korban stress hingga membutuhkan penanganan serius, dan akhirnya memilih mundur karena merasa tidak ada jaminan perlindungan dari pihak ponpes jika anaknya tetap berada disana," tutup Retno Listyarti.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini