Share

Selayang Pandang Kandang Menjangan, Mako Grup 2 Kopassus Bekas Markas Untung Surapati

Rifqa Nisyardhana, Okezone · Kamis 08 September 2022 18:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 08 337 2663708 selayang-pandang-kandang-menjangan-mako-grup-2-kopassus-bekas-markas-untung-surapati-wCPfrOOOcu.jpg Kandang Menjangan Kopassus/Wikipedia

JAKARTA - Pada awal pembentukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), telah dibentuk tiga batalion inti, yaitu Batalyon 1 di Cijantung, Jakarta; Batalyon 2 di Tuguran, Kota Magelang; dan Batalyon 3 di Kandang Menjangan, Kartasura.

(Baca juga: Horornya Mako Kopassus Kandang Menjangan, Tempat Serda Ucok Ditempa hingga Markas Untung Surapati)

Dilansir dari beragam sumber, Kamis (8/9/2022) saat Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, wilayah Swaprala eks Karesidenan Surakarta dan Praja Mangkunegaran terlibat dalam Perang Kemerdekaan. Sampai akhirnya, wilayah Kandang Menjangan menjadi salah satu pusat pergerakan pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Grup 2 Kopassus terbentuk di ketika masa-masa kritis negara pada saat pemberontakan yang marak terjadi di seluruh area Nusantara. Mulai dari DI/TII, RMS di Ambon, PRRI/Permesta, Operasi Trikora di Irian Barat sampai Gerakan 30 September (G30S/PKI) pada 1965.

Pada masa G30S/PKI ini, Kedudukan Grup 2 Kopassus di Jawa Tengah menjadi penting. Hal ini dikarenakan Jawa Tengah merupakan tempat basis PKI dan RPKAD yang mampu memukul pemberontakan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada akhir 1963, Yon Banteng Raider III Jawa Tengah dimasukkan ke dalam tubuh Resimen Para Komando Angkatan Darat (Menparkoad). Secara bertahap, para personelnya melaksanakan pendidikan di Batujajar.

Dari batalyon inilah kemudian dibentuk Batalyon 3 MENPARKOAD dengan markas sementara menempati kesatrian lama di Jatingaleh. Secara berangsur-angsur kesatrian ini dipindahkan ke Kandang Menjangan, menempati bekas asrama eks-Zipur XVII.

Berkaitan dengan lokasi yang berada di Kartasura, maka salah satu kesatrian yang berada dalam Grup 2 Kopassus di Kandang Menjangan diberi nama Kesatrian Slamet Riyadi.

Slamet Riyadi dilahirkan di Surakarta dan ia aktif bertempur melawan Belanda yang pada akhirnya gugur dalam penugasan di Ambon. Letkol Slamet Riyadi pula yang ikut menggagas pembentukan satu pasukan khusus yang ramping, mampu bergerak cepat, dan memiliki kemampuan di atas pasukan reguler.

Pada Januari 1978, markas Grup 2 Sandi Yudha di Tuguran secara bertahap dipindahkan ke Kartasura. Dalam rangka pemantapan satuan dan efektivitas penugasan, pada pertengahan 1978, di era kepemimpinan Danjen Kopassandha Brigjen TNI Yogi S.M., Grup 3 Para Komando yang berpangkalan di Kartasura dibubarkan.

Personelnya disebar dan dimasukkan ke Grup 1, Grup 2, dan Grup 4. Pangkalan Kartasura menjadi Grup 2 dan sekaligus menjadi Grup Sandi Yudha.

Dilihat dari luar, Markas Kopassus Grup 2 di Kandang Menjangan, Kartasura terlihat sama saja seperti asrama-asrama Kopassus yang rapi, bersih, dan berestetika tipikal TNI.

Sama sekali tidak terbayang bahwa ada sebuah bangunan bersejarah yang cukup kuno di dalamnya, yaitu pesanggrahan milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Lokasi yang menjadi Markas Kopassus Grup 2 di Kartasura ini berada di atas lahan seluas 250 hektare yang dulunya merupakan lahan yang diberikan Sunan Amangkurat III (1703-1705) dari Kerajaan Mataram (berpusat di Keraton Kartasura) kepada Bupati Pasuruan Untung Surapati.

Wilayah yang diberikan kepada Untung Surapati ini berada di sebelah barat Keraton Kartasura dan dikenal sebagai Kampung Babirong. Kampung ini menjadi tempat bersembunyi dan berlatih perang bagi pengikut Untung Surapati yang berhasil meng-ambush pasukan VOC bersenjata lengkap di bawah Kapitan Francois Tack dan ratusan prajuritnya pada Februari 1686.

Ketika kekuasaan beralih kepada Pakubuwono I dan ibu kota Keraton Kasunanan berpindah lagi ke Surakarta, wilayah ini dijadikan pesanggrahan keraton lengkap dengan segara dan tempat untuk menjerat hewan sehingga dikenal dengan sebutan "grogolan" —grogol adalah perangkap hewan.

Sunan Amangkurat II hingga Sunan Pakubuwono II telah menggunakan kawasan Kandang Menjangan sebagai tempat rusa berbiak untuk diburu para bangsawan dalam kesempatan khusus.

Untuk mencegah rusa melarikan diri dari Kandang Menjangan, sekeliling kawasan tersebut dipagari balok kayu jati. Ribuan rusa berkembang biak dan pada waktu tertentu diadakan acara perburuan.

Lokasi ini sempat terlantar ketika ibu kota Mataram pindah ke Desa Sala (kini Kota Surakarta) pada 1744 menyusul hancurnya Keraton Surakarta sebagai dampak Perang Geger Pacinan melawan VOC pada 1740-1743.

Pada masa kekuasaan Sunan Pakubuwono IV (1788-1820), tepatnya pada 1811, diadakan pembenahan bekas lahan Keraton Kartasura. Hewan-hewan peliharaan dipindahkan kembali ke bekas lahan Keraton Kartasura termasuk kawanan rusa sehingga Kandang Menjangan hidup kembali.

Sekarang, sebagian bangunan pesanggrahan itu masih berdiri utuh dan berada di bagian belakang Markas Grup 2 Kopassus. Bangunan tersebut dipelihara dan masih terlihat baik, walaupun dibiarkan kosong.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini