Share

5 Pahlawan Asal Aceh yang Namanya Diabadikan di Jakarta

Mirsya Anandari Utami, Presma · Kamis 18 Agustus 2022 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 17 337 2649564 5-pahlawan-asal-aceh-yang-namanya-diabadikan-di-jakarta-tImqSnYmUV.jpg Cut Nyak Dien/ Foto: Wikipedia

JAKARTA - Dalam mengenang jasa seorang pahlawan, biasanya nama mereka akan diabadikan dalam sebuah bangunan atau jalan. Begitu juga dengan pahlawan-pahlawan asal Aceh.

Walaupun bukan merupakan tanah kelahiran mereka, nama para pahlawan Aceh ini diabadikan di Jakarta. Berikut pahlawan-pahlawan asal Aceh yang namanya diabadikan di Jakarta:

 BACA JUGA: Dorong Generasi Sehat, BKKBN Tekankan Pentingnya Edukasi Masyarakat

1. Cut Nyak Dien

Tidak sedikit perempuan hebat di dunia, salah satunya Cut Nyak Dien. Menjadi salah satu pahlawan Aceh paling populer, Cut Nyak Dien berjuang sebagai pemimpin gerilya Aceh dalam melawan pasukan Belanda.

Bahkan, dalam masa pengasingannya, Cut Nyak Dien tetap melakukan perjuangan untuk masyarakat dengan cara mengajarkan mengaji dan menyampaikan dakwah. Berkat perjuangan hingga akhir hayatnya itu, nama Cut Nyak Dien diabadikan di berbagai tempat dan dijadikan pahlawan nasional.

Di Jakarta, namanya tertera dalam sebuah jalan dan masjid yang terletak di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat.

 BACA JUGA:Kasat Narkoba Polres Karawang Edarkan Sabu, Kompolnas Minta Polri Selisik Keterlibatan Anggota Lain

2. Cut Meutia

Sama seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia juga dikenal sebagai pemimpin gerilya aceh. Dikenal sebagai Mutiara dari Aceh, Cut Meutia bersama suaminya bersama-sama memimpin pasukan Aceh dalam melawan pasukan kolonial Belanda.

Bahkan, saat sang suami gugur, wanita asal Aceh tersebut tetap melanjutkan perjuangannya hingga ia menghembuskan napas terakhirnya di tangan penjajah.

Namanya tidak hanya harum di Aceh, tetapi juga di seluruh Indonesia, termasuk Jakarta. Di Jakarta Pusat, terdapat sebuah jalan yang tertera namanya bernama Jalan Taman Cut Meutia.

Tidak hanya itu, di jalan itu terdapat sebuah masjid bernama Masjid Cut Meutia. Bangunan masjid tersebut merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda sehingga arsitekturnya bergaya klasik khas kolonial Belanda.

3. Laksamana Malahayati

Menjadi laksamana perempuan pertama di dunia, Laksamana Hayati berada di garis depan dalam memimpin Laskar Inong Balee di medan perang. Selain itu, ia juga menduduki jabatan tinggi dalam Angkatan Laut Kerajaan Aceh yang turut bertempur melawan pasukan Portugis. Atas perjuangannya tersebut, nama Malahayati diabadikan di berbagai tempat,seperti jalan, universitas, dan pelabuhan.

Tahun 2021 lalu, nama Laksamana Malahayati diabadikan sebagai nama dari salah satu jalan di Ibu kota, tepatnya di daerah Jakarta Timur. Penetapan nama Jalan Laksamana Malahayati disahkan melalui Keputusan Gubernur No. 1242 Tahun 2021 tentang Penetapan Nama Jalan Laksamana Malahayati menggantikan Nama Jalan Inspeksi Kalimalang Sisi Sebelah Utara.

 BACA JUGA:HUT Ke-77 RI, Mirdasy: Kita Ingin Perindo Turut Serta dalam Pembangunan Bangsa

4. Panglima Polim

Bernama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud, Panglima Polim bersama Teuku Umar bersama-sama melawan kependudukan Belanda. Dia juga pernah terlibat dalam sebuah pertempuran di Seulimeum, namun perang itu berbuah kekalahan. Kemudian, ia bersekutu dengan Sultan Aceh Daud Syah untuk bersama-sama melawan Belanda. Perjuangannya terus berlanjut hingga Sultan Aceh tersebut ditangkap dan diasingkan Belanda. Hal itu ternyata mempengaruhi Panglima Polim sehingga ia terpaksa menyerahkan diri dan ditahan hingga akhir hayatnya.

Perjuangannya dalam melawan Belanda membuat nama Panglima Polim terus dikenang. Sebuah jalan di Ibu Kota menjadi salah satu bentuk penghargaan atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan. Jalan tersebut bernama Jalan Panglima Polim yang terletak di Jakarta Selatan.

 BACA JUGA:Upacara HUT RI di Rote Ndao, Mendagri Tito Ingatkan Generasi Muda Sejarah Kemerdekaan

5. Teuku Umar

Dikenal sebagai pejuang yang cerdik dan cerdas, Teuku Umar berpura-pura berpihak kepada Belanda untuk bisa mengambil keuntungan dari para penjajah tersebut. Setelah mendapat keuntungan berupa persenjataan dan tentara, dia bersama Panglima Polim bersama-sama menyatukan kekuatan untuk dapat mengusir para kolonial dari Tanah Aceh. Teuku Umar diburu oleh pasukan Belanda dan tertembak mati perang di Meulaboh.

Di tahun 1973, namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden Nomor 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973. Selain itu, nama Teuku Umar juga diabadikan di sejumlah tempat, termasuk dalam sebuah jalan di Jakarta yang diberi nama Jalan Teuku Umar. Jalan tersebut berada di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini