Share

4 Pahlawan Nasional dari Sulsel, Nomor 1 Berjuluk Ayam Jantan dari Timur

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 17 Agustus 2022 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 337 2648824 4-pahlawan-nasional-dari-sulsel-nomor-1-berjuluk-ayam-jantan-dari-timur-TMgrMEN0l3.jpg Sultan Hasanuddin (Foto: Biografiku)

JAKARTA - Tokoh-tokoh besar di Sulawesi Selatan juga memiliki andil besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, perjuangan mereka sudah muncul sejak era VOC Belanda di tahun 1650-an. Berikut adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

1. Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin adalah pemimpin Gowa ke-16 yang lahir pada 12 Januari 1631 di Makassar dan wafat pada 12 Juni 1670, juga di Makassar. Hasanuddin adalah anak dari Sultan Gowa ke-15, Sultan Malikussaid dan I Sabbe To’omo Lakuntu.

Tumbuh besar di kalangan kerajaan, Hasanuddin terkenal sebagai anak yang berani dan cerdas sejak kecil. Sang ayah sudah rajin mengajak Hasanuddin ke berbagai pertemuan penting, dengan harapan ia bisa mendapat berbagai pelajaran baru termasuk straregi perang dan ilmu diplomasi. Bahkan, ia dipercaya sebagai delegasi yang mengirimkan pesan ke berbagai kerajaan.

Baca juga: 5 Tokoh TNI AL Diberi Gelar Pahlawan, Nomor 4 Gagah Berani Lawan Belanda di Laut Arafuru

Hasanuddin memerintah Makassar sejak tahun 1653 sampai 1669. Di bawah kepemimpinannya itu, Makassar berhasil melebarkan wilayah kekuasaannya dan menguasai berbagai wilayah subur, seperti Soppeng, Bone, dan Wajo, serta seluruh jalur perdagangan Indonesia Timur. Hasanuddin dengan tegas dan berani melawan VOC dari Belanda yang melakukan monopoli di wilayahnya. Hasanuddin, yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur karena keberaniannya, ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 6 November 1973.

Baca juga: 5 Pahlawan yang Meninggal di Bulan Agustus, WR Supratman Salah Satunya

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

2. Syekh Yusuf Tajul Khalwati

Selanjutnya adalah Syekh Yusuf Tajul Khalwati yang diangkat sebagai pahlawan nasional pada 7 Agustus 1995. Ia merupakan pahlawan nasional asal Gowa yang lahir pada 3 Juli 1626 dan dibesarkan dalam keluarga bangsawan Makassar. Syekh Yusuf sempat menimba ilmu di Mekah, sebelum akhirnya kembali ke Nusantara dan mendarat di Banten, disambut oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Melansir Okezone, Yusuf yang kala itu baru saja tiba di Banten terkejut mendengar tanah kelahirannya sudah mendapat serangan Belanda. Yusuf pun menetap di Banten selama 16 tahun. Ia turut terlibat dalam perang antara Sultan Ageng dan Sultan Haji.

Sejarah mencatat, Yusuf lebih memihak pada Sultan Ageng dengan membawa pasukan asal Makassar. Sayangnya, perang tersebut dimenangkan Sultan Haji dan membuat Sultan Ageng beserta pasukannya, termasuk Yusuf, kabur.

Baca juga: 4 Pahlawan Nasional yang Gugur Sebelum Indonesia Merdeka, Ada Cipto Mangunkusumo

Ia berhasil ditangkap Belanda pada 1684 dan mendekam di Benteng Batavia. Kekhawatiran Belanda yang terlalu besar bahwa Yusuf akan melarikan diri membuatnya diasingkan ke Sri Lanka pada tahun yang sama. Tak cukup sampai di situ, Belanda terus takut jika Yusuf masih bisa menggerakkan pasukannya untuk memberontak. Jadi, Yusuf diasingkan ke Afrika pada 1693 bersama 49 pengikutnya. Dirinya terus berada di Afrika hingga menutup mata di tahun 1699.

Baca juga: 5 Tokoh TNI AL Bergelar Pahlawan Nasional, RE Martadinata Salah Satunya

3. Ranggong Daeng Romo

Ranggong Daeng Romo lahir di Kampung Bone-Bone, Takalar pada tahun 1915. Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar pahlawan nasional pada 3 November 2001. Melansir informasi yang dalam laman IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia), Ranggong adalah pemimpin organisasi bernama Angkatan Muda Bajeng yang didirikan pada 16 Oktober 1945. Gerakan itu sebagai bentuk perlawanan menentang Belanda.

Terhitung sejak 5 Desember 1946, Angkatan Muda Bajeng resmi diangkat menjadi Komandan Barisan Gerakan Muda Bajeng yang tak hanya berfokus pada kegiatan militer, tapi juga di sektor pemerintahan. Sebagai pemimpin, Ranggong dianggap sangat berani dalam menganggu sepak terjang Belanda di bumi Pertiwi. Dirinya tidak penah sekalipun lelah berjuang, bahkan hingga gugur dalam pertempuran tanggal 28 Februari 1947.

Baca juga: 5 Tokoh TNI AL Bergelar Pahlawan Nasional, RE Martadinata Salah Satunya

4. Opu Daeng Risadju

Dari tanah Sulawesi Selatan, Indonesia juga mempunyai pahlawan perempuan bernama Opu Daeng Risadju. Data kepahlawanan menyebut, Opu Daeng dilahirkan di Palopo di tahun 1880 dan wafat pada 10 Februari 1964, juga di Palopo. Ia memiliki nama kecil Famajjah, sementara Opu Daeng Risadju adalah sebuah gelar kebangsawanan yang diberikan oleh Kerajaan Luwu, lantaran ia memiliki darah kerajaan.

Opu Daeng terkenal karena keberaniannya membangkitkan semangat para pemuda, bahkan memobillisasi mereka dalam melakukan perlawanan kepada tentara NICA, pasca kemerdekaan. NICA berusaha semaksimal mungkin untuk menghentikan Opu Daeng dan menangkapnya. Sayembara pun dilakukan. Barang siapa yang berhasil menangkap Opu Daeng dalam keadaan hidup atau mati, maka akan mendapatkan imbalan. Namun tetap saja, tidak ada satu pun masyarakat Palopo yang menggubris sayembara itu.

Sampai akhirnya, ia tertangkap NICA di Lantoro dan langsung dibawa ke wilayah Watampone. Tanpa adanya proses pengadilan, Opu Daeng harus mendekam di penjara Bone selama setahun lamanya dan dipindahkan ke Sengkan, lalu ke Bajo. Opu Daeng banyak mendapat penyiksaan oleh Ladu Kalapita (Kepala Distrik Bajo). Saking kerasnya siksaan yang ia terima, Opu Daeng harus menderita tuli seumur hidupnya. Ia wafat dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di pekuburan raja-raja Lokkoe. Pemerintah menganugerahinya gelar pahlawan nasional berdasarkan surat keputusan tertanggal 3 November 2006.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini