Share

4 Pahlawan Terkenal Tak Takut Mati, Bung Tomo hingga Pattimura

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 14 Agustus 2022 10:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 14 337 2647465 4-pahlawan-terkenal-tak-takut-mati-bung-tomo-hingga-pattimura-WXN4RZyrrX.jpg Bung Tomo (Foto : Istimewa)

KEMERDEKAAN yang diraih oleh Indonesia pada 17 Agustus 1945 ini tidak lepas dari para pahlawan. Para pejuang ini telah berjuang dengan pemikiran hingga keberaniannya dalam melawan penjajah. Berikut daftar pejuang Indonesia yang terkenal keberaniannya serta tidak takut mati.

1. Bung Tomo

Sutomo atau yang lebih dikenal Bung Tomo lahir di Surabaya, 3 Oktober 1920. Ia dibesarkan di keluarga yang menghargai serta menjunjung tinggi pendidikan. Pada usia muda, Bung Tomo aktif dalam organisasi kepanduan. Diketahui, Bung Tomo mempunyai ketertarikan pada dunia jurnalisme. Ia pernah bekerja sebagai wartawan pada Harian Suara Umum di Surabaya pada 1937.

Lalu, menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat. Ketika pendudukan Jepang, ia bekerja di kantor berita tentara pendudukan Jepang, Domei di Surabaya pada 1942-1945.

Bung Tomo menjadi salah satu tokoh penting pada Pertempuran 10 November 1945. Ia berhasil menggerakkan serta membangkitkan semangat rakyat Surabaya. Diketahui, Surabaya saat itu diserang oleh pasukan Inggris guna melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang serta membebaskan tawanan Eropa. Ketika pertempuran, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung yang membakar semangat rakyat guna berjuang melawan penjajah.

Bung Tomo dikenal dengan semboyannya “merdeka atau mati”. Pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah, Makkah, Bung Tomo meninggal dunia.

2. Jenderal Soedirman

Soedirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, 24 Januari 1916. Ia pernah bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah. Kemampuannya dalam berorganisasi serta memimpin membuatnya dihormati. Soedirman juga pernah menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah, Cilacap. Saat dirinya berusia 31 tahun, Soedirman sudah menjadi seorang jenderal.

Ketika pendudukan Jepang, Soedirman masuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, kemudian ia menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Setelah terbentuknya TKR, Soedirman dipercaya menjadi Panglima Divisi V/Banyumas. Lalu ia menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia yang pertama.

Soedirman dikenal sebagai pejuang yang teguh pada prinsip keyakinan, mengedepankan kepentingan masyarakat serta negara. Hal tersebut dapat dilihat ketika Agresi Militer Belanda II. Saat itu, Soedirman dalam keadaan lemah namun tetap ikut berjuang. Meski tengah sakit, Soedirman mampu memimpin serta memberi semangat pada prajuritnya guna melawan Belanda. Pada 29 Januari 1950, Jenderal Soedirman meninggal dunia.

3. Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro mempunyai nama kecil Raden Mas Ontowirjo. Ia lahir di Yogyakarta, 11 November 1785. Namanya mulai dikenal ketika memimpin Perang Diponegoro pada 1825-1830. Perang Diponegoro dimulai saat Belanda memasang tanda di tanah milik Diponegoro yang berada di desa Tegalrejo.

Selain itu, Belanda tidak menghargai adat istiadat setempat dan eksploitasi terhadap rakyat dengan pajak yang tinggi.

Pada Maret 1930, Belanda berhasil mendesak Pangeran Diponegoro di Magelang. Pangeran Diponegoro pun melakukan perundingan dengan Belanda di Magelang. Belanda meminta Pangeran Diponegoro untuk menghentikan perang, namun permintaan tersebut ditolak.

Pada 30 April 1830, Belanda memutuskan Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado. Kemudian pada 1834, Pangeran Diponegoro dipindah ke Makassar. Pada Januari 1855, Pangeran Diponegoro meninggal dunia.

4. Kapitan Pattimura

Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy lahir di Maluku, 8 Juni 1783. Belanda yang menduduki Maluku saat itu banyak membuat masalah serta kesengsaraan rakyat Maluku. Belanda juga memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Selain itu, Belanda menguras pula kekayaan Maluku.

Hal ini yang membuat Kapitan Pattimura marah hingga bersedia melawan Belanda.

Di bawah kepemimpinannya, Benteng Duurstede di Saparua mampu direbut dari Belanda serta semua tentara tewas. Pattimura sempat dibawa ke Ambon oleh Belanda, di sana Belanda membujuk Pattimura untuk kerja sama, tetapi Pattimura menolak. Hal ini mengakibatkan marahnya Belanda hingga memutuskan untuk menghukum mati Pattimura. Pada Desember 1817, Pattimura tewas dihukum mati. (Tika Vidya Utami-Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini