Share

3 Tokoh TNI AU yang Diberi Gelar Pahlawan Nasional, Salah Satunya Agustinus Adisutjipto

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 14 Agustus 2022 09:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 14 337 2647460 3-tokoh-tni-au-yang-diberi-gelar-pahlawan-nasional-salah-satunya-agustinus-adisutjipto-y6SqkXf5jX.jpg Agustinus Adisutjipto (Foto : Istimewa)

PARA pejuang yang gigih merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia berasal dari berbagai kalangan. Salah satunya, anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari berbagai matra, yakni darat, laut, dan udara.

Atas pengorbanan dan jasa yang diberikan kepada bangsa, banyak tokoh TNI yang dianugerahi gelar pahlawan nasional, bahkan namanya diabadikan pula pada sejumlah objek vital negara. Berikut merupakan tokoh-tokoh TNI AU yang diberi gelar pahlawan nasional.

1. Agustinus Adisutjipto

Agustinus Adisutjipto memiliki nama panggilan “Tjip” di tengah keluarganya. Ia lahir pada tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa Tengah. Memiliki angan-angan yang besar untuk “mengudara,” rupanya Adisutjipto tidak mendapatkan restu dari sang ayah. Ayah Adisutjipto menginginkan anaknya untuk menjadi seorang dokter.

Sempat menuruti keinginan ayahnya, akhirnya secara diam-diam ia ikut tes dan berhasil diterima di Sekolah Pendidikan Penerbangan Militer di Kalijati.

Seusai kemerdekaan Indonesia, Adisutjipto dipanggil oleh Komodor Udara R. Soerjadi Soerjadarma untuk menyusun kekuatan di udara.

Adisutjipto merupakan harapan utama dari Soerjadi Soerjadarma. Ia diangkat sebagai Komodor Muda Udara dan diserahi tugas untuk mengambil alih seluruh material, personel, dan instalasi-instalasi. Di samping itu, Adisutjipto juga diberi tugas dalam bidang pendidikan dengan wewenang penuh dan turut memimpin kesatuan operasi dengan basis Maguwo.

Namun perjuangannya harus terhenti ketika ia mengalami kecelakaan. Agustinus Adisutjipto meninggal ketika menerbangkan Dakota VT-CLA. Atas jasanya ia dianugerahi pangkat sebagai Laksamana Muda Udara (Anm) dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden No. 071/TK/1974.

2. Iswahyudi

Melalui SK Presiden No. 063/TK/1975, Iswahjudi dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Pengukuhan tersebut didasari oleh jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan merintis berdirinya TNI Angkatan Udara.

Ia lahir pada 15 Juli 1918 di Surabaya, Jawa Timur. Siapa sangka, rupanya Iswahyudi pernah mengenyam pendidikan kedokteran. Namun seiring berjalannya waktu, ia menemukan ketertarikan baru dalam dunia penerbangan hingga pada akhirnya di tahun 1941 ia berhenti dari sekolah kedokterannya dan memutuskan untuk bergabung dalam Sekolah Perwira Militer di Kalijati. Dari studinya itu, ia berhasil mendapatkan lisensi pilot militer junior yaitu Brevet Militair Klein.

Kiprahnya dalam dunia penerbangan sangat banyak. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Gadut di Bukittinggi dan pernah juga terpilih sebagai wakil AURI dalam Komandemen Tentara Sumatera. Dalam upayanya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ia pernah ditugaskan untuk pengambilalihan kantor-kantor pemerintah dari tangan Jepang. Selain itu, ia juga pernah menjalani tugas negara dalam misi operasi Muangthai.

Tugas tersebut dilakukan dalam rangka melakukan penjajakan atas kemungkinan pembelian senjata dan pesawat, serta melakukan inspeksi terhadap perwakilan RI dalam mengatur penukaran dan penjualan barang. Sayangnya saat perjalanan pulang, ia mengalami kecelakaan dan meninggal pada tanggal 14 Desember 1947 di Tanjung Hantu Malaysia.

3. Halim Perdanakusuma

Tanggal wafatnya Iswahyudi sama dengan tanggal wafatnya Halim Perdanakusuma. Hal tersebut terjadi lantaran keduanya gugur secara bersamaan dalam perjalanan pulang dari tugas negara, operasi Muangthai. Bersama dengan Iswahjudi, Halim Perdanakusuma dikukuhkan sebagai pahlawan nasional pada 9 Agustus 1975.

Halim Perdanakusuma lahir pada 18 November 1922 di kota Sampang. Ia memulai kiprahnya dalam dunia militer sejak dikeluarkannya peraturan wajib militer oleh pemerintah Hindia Belanda. Saat itu ia berhenti dari pendidikan pamong praja yang sedang diikutinya, kemudian menjalani pendidikan calon perwira Torpedo di Surabaya. Selama melakukan tugas militer saat Perang Dunia II, ia tercatat pernah menjalani tugas di Royal Canadian Air Force dan di skadron tempur pesawat Lancaster dan Liberator.

Perjalanan militer untuk Indonesia ia lakukan sejak menerima tawaran dari Komodor Udara R. Soerjadi Soerjadarma. Pada saat itu ia ditawari Soerjadi Soerjadarma untuk ikut serta dalam membangun kekuatan udara. Setelah menerima tawaran tersebut, ia menerima pangkat sebagai Komodor Muda Udara dan mendapatkan tugas dalam membina serta merintis perkembangan Angkatan Udara Republik Indonesia.

Ia menjadi Perwira Operasi Udara, sesuai dengan keahlian dan pengalaman yang ia miliki. Saat Agresi Militer I, ia bertugas untuk menyusun serangan udara. Strategi pembalasan melalui serangan tersebut berhasil melambungkan nama AURI dan membuat pihak Belanda marah besar. (Stefani Ira Pratiwi - Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini