Share

4 Pahlawan Nasional yang Gugur Sebelum Indonesia Merdeka, Ada Cipto Mangunkusumo

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 13 Agustus 2022 07:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 13 337 2647070 4-pahlawan-nasional-yang-gugur-sebelum-indonesia-merdeka-ada-cipto-mangunkusumo-BnR8LwAJ4P.jpeg dr. Cipto Mangunkusuom (Foto : Kementerian Sosial)

BERDASAR data di laman Direktorat K2KRS Kementerian Sosial, Indonesia memiliki 195 pahlawan nasional. Mulai dari Abdul Muis, sebagai orang pertama yang dikukuhkan menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah, hingga yang terbaru, Usmar Ismail.

Sebagian pahlawan ini meninggal dunia sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya.

Berikut beberapa pahlawan nasional yang gugur sebelum Indonesia merdeka.

1. KH Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa adalah sosok ulama pejuang dari Tasikmalaya yang lahir pada 1899 di Bageur, Cimerah, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Memiliki sikap tegas terhadap penjajah, ia tidak segan untuk secara terbuka mengadakan kegiatan yang membangkitkan perlawanan serta semangat rakyat terhadap penjajah.

Begitu pula dalam ceramah atau khutbahnya, Zainal Mustafa tak jarang menyerang kebijakan politik Belanda. Begitu pula saat Jepang menduduki Indonesia, sikapnya masih sama. Ia tidak sudi bekerja sama dengan penjajah.

Kebijakan Jepang yang mengharuskan rakyat membungkuk ke arah matahari ditentang oleh KH Zainal Mustafa. Hal ini yang kemudian memicu terjadinya Peristiwa Singaparna pada Februari 1944. Kedatangan opsir Jepang yang mendesak KH Zainal Mustafa untuk menghadap perwakilan pemerintah Jepang di Tasikmalaya disambut kericuhan. Para santri dan penduduk di Sukamanah kemudian menghadapi serbuan pasukan Jepang yang datang menyusul.

Dalam insiden yang dikenal dengan Peristiwa Singaparna ini, banyak warga yang gugur, sementara KH Zainal Mustafa ditangkap. Bersama sejumlah orang lainnya, ia diadili di Jakarta.

KH Zainal Mustafa diketahui dieksekusi mati oleh tentara Jepang pada Oktober 1944. Makamnya yang berada di Ancol, Jakarta, baru diketahui lebih dari 20 tahun kemudian. Pada 1973, makamnya dipindah ke kompleks pesantren yang ia dirikan, Pondok Pesantren Sukamanah di Singaparna.

2. Cipto Mangunkusumo

Cipto Mangunkusumo adalah tokoh pergerakan Indonesia yang juga merupakan seorang dokter. Lulusan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) Jakarta ini lahir pada 1886 di Pecangakan, Ambarawa. Ia mendirikan Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara pada 1912. Partai politik pertama di Hindia Belanda ini menginginkan terbentuknya kerja sama antara orang-orang Indo dengan pribumi serta membangun patriotisme terhadap Tanah Air.

Akibat tulisan dan sepak terjang Cipto Mangunkusumo yang dianggap berbahaya oleh Belanda, ia diberhentikan dari tugasnya sebagai dokter pemerintah Belanda. Bukan hanya itu, ia juga ditangkap lalu diasingkan ke Belanda pada 1913. Meski berada di negeri penjajah tanah airnya, Cipto Mangunkusumo tetap melancarkan aksi politiknya.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Sekembalinya ke Indonesia pada tahun berikutnya, Cipto tak berhenti bergerak untuk membela hak masyarakat. Ia dijadikan tahanan kota di Bandung oleh pemerintah Belanda pada 1920. Di sana ia bertemu Soekarno, yang kemudian bersama-sama membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI). Pada 1927, Cipto lagi-lagi dibuang oleh Belanda, yaitu ke Banda, Maluku. Dari sana, Cipto yang sakit-sakitan dipindahkan ke beberapa tempat, sebelum akhirnya dipulangkan ke Sukabumi pada 1940. Menjelang ajal, kesehatan Cipto semakin memburuk. Cipto Mangunkusumo meninggal dunia pada 8 Maret 1943 di Jakarta dalam usia 57 tahun.

3. Kiras Bangun

Nama Kiras Bangun sebagai pahlawan nasional mungkin belum familiar. Kiras Bangun adalah sosok pejuang yang dikenal tegas dan sangat anti-Belanda. Lahir pada 1852 di Kampung Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Kiras Bangun tidak menempuh pendidikan formal. Namun, ia menjadi ketua adat di kampungnya, serta beberapa jabatan penting lainnya.

Belanda, yang berniat meluaskan lahan perkebunan tembakau dan karet hingga ke tanah Karo, mengajak kerja sama dengan menawarkan uang, jabatan, serta senjata. Namun, Kiras Bangun menolak. Hal ini menimbulkan kemarahan Belanda, yang kemudian mengirimkan pasukannya. Maka dimulailah perlawanan terhadap Belanda. Kiras Bangun bergerilya ke berbagai tempat untuk menghimpun pasukan, mengumpulkan senjata demi mengusir Belanda.

Pasukan Urung, yang dibentuk Kiras Bangun, terdesak hingga terpaksa mundur ke Batu Karang. Melalui tipu muslihat yang dilakukan Belanda, Kiras Bangun berhasil dibuat keluar dari persembunyiannya. Ia pun ditangkap lalu dibuang ke Riung. Setelah dibebaskan, Kiras Bangun terus berjuang dalam gerakan bawah tanah. Ia wafat di Batu Karang pada 22 Oktober 1942.

4. Mohammad Husni Thamrin

Pejuang asli Betawi, Mohammad Husni Thamrin, dikenal sebagai sosok pergerakan serta politisi yang berkontribusi bagi perjuangan kemerdekaan bangsa. Selain itu, MH Thamrin juga gigih membela rakyat kecil, padahal dirinya berasal dari kalangan berpunya dan menempuh pendidikan Belanda.

MH Thamrin, yang lahir pada 16 Februari 1894 di Batavia, memulai kariernya dengan bekerja sebagai pegawai magang di Residen Batavia. Selanjutnya, sebagai klerk di Koninklijke Paketvaart Maatschappij (Perusahaan Pelayaran Kerajaan). Pada 1919, Thamrin dipercaya menjadi anggota di Geementeraad (Dewan Kota).

Kedudukannya di Dewan Kota membuat MH Thamrin bisa lebih kuat menyuarakan kepentingan rakyat. Ia menuntut dilakukannya perbaikan di kampung-kampung. Kemudian, pada 1927, MH Thamrin menjadi anggota Volksraad (semacam DPR). Di sini, suaranya lebih lantang, terutama ketika mengkritik kesejahteraan buruh serta perilaku terhadap mereka di Sumatera Timur. Kritikan MH Thamrin bergema hingga mancanegara.

Ketika Belanda mencurigai pihak-pihak yang dianggap pro kepada Jepang, MH Thamrin termasuk yang dituduh. Ia dijadikan tahanan rumah. Namun, kondisi itu tak menyurutkan perjuangan MH Thamrin, meski dirinya juga didera sakit. Beberapa hari setelah menjadi tahanan rumah, sosok santun dan dermawan ini wafat, pada 11 Januari 1941 di Batavia. (Rahmi Rizal-Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini