Share

Pusaka Kuno Luwuk Blambangan Ditakuti Belanda, Sakti karena Dibaluri Darah Perawan

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 11 Agustus 2022 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 11 337 2645750 pusaka-kuno-luwuk-blambangan-ditakuti-belanda-sakti-karena-dibaluri-darah-perawan-5vsXkNTK4O.jpg Pedang Luwuk dikenal sakti karena dibaluri darah perawan (Foto : MPI)

BANYUWANGI - Pedang Luwuk menjadi salah satu pusaka bersejarah di Kabupaten Banyuwangi yang jadi salah satu wilayah yang bersejarah sejak zaman kerajaan-kerajaan hingga Indonesia berdiri.

Pedang pendek itu fenomenal pada masanya, konon digunakan petinggi dan masyarakat kerajaan di Jawa dalam menghadapi Agresi Belanda.

Pedang ini terkenal ampuh karena berhasil membuat kocar kacir dan menumbangkan pasukan penjajah Belanda. Pedang ini tercatat ditemukan di daerah kekuasaan masyarakat Kerajaan Majapahit dan masyarakat kerajaan Blambangan.

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Disbudpar Banyuwangi, KRT. H. Ilham Triadinagoro mengatakan, Pedang Luwuk ditemukan sekitar 15 tahun lalu di daerah Rowo Bayu, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Pedang itu menjadi saksi sejarah perlawanan masyarakat Kerajaan Blambangan dengan pasukan Belanda.

"Peperangan itu tercatat dalam sejarah disebut dengan perang Bayu yang terjadi pada tahun 1771," kata Ilham Triadinagoro, kepada MNC Portal pada Kamis pagi (11/8/2022).

Saat itu dikatakan Ilham kembali, pasukan perlawanan dipimpin oleh Mas Rempeg, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pangeran Jagapati dan Pengeran Putra, yang dikenal dengan sebutan Wong Agung Wilis.

"Pedang Luwuk digunakan dalam peperangan tersebut karena pedang ini terkenal ampuh dan sakti. Pedang ini adalah andalan Rempeg Jogopati selain tombak Biring Lanang. Pedang ini berhasil melukai banyak pasukan belanda hingga membuat kocar-kacir," kata Ilham.

Pedang Luwuk sendiri dibuat oleh seorang Empu yang bernama Ki Luwuk. Secara bentuk pedang ini nampak sederhana berwarna hitam legam dan memiliki bilah tajam pada satu sisi. Perbedaan antara Luwuk Majapahit dan Luwuk Blambangan terletak pada motif pamor dan waktu penggunaanya.

"Luwuk Majapahit digunakan pada 1478 saat perang Paregreg. Luwuk Blambangan digunakan dalam perang Bayu tahun 1771. Luwuk Majapahit memiliki motif pamor bergaris dari pangkal hingga ujung. Luwuk Blambangan memiliki motif bulan sabit berjumlah ganjil, mulai dari satu, tiga hingga lima," terang dia.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Ukurannya pun bervariatif dari mulai dari 50 sentimeter hingga 80 sentimeter. Paksinya segitiga langsungan dan tidak bersekat. Gagang biasanya terbuat dari tanduk kerbau ataupun banteng.

Materialnya terbuat dari batuan meteorit yang jelas mengandung mineral silica kompleks. Berbagai unsur logam mulai dari nikel, baja, besi hingga titanium terkandung dalam batuan tersebut. Namun seperti pusaka kuno pada zaman dahulu, pembuatan senjata yang juga disebut Tosan Aji ini tidak bisa dilakukan dengan ala kadarnya.

Serangkaian proses ritual konon harus dilakukan agar sang empu pusaka ini bisa 'nurut' dan berfungsi sebagaimana mestinya, yakni ampuh digunakan bertarung.

Salah satu rahasia yang membuat pedang ini ampuh adalah bilah yang dibaluri dengan bisa ular Luwuk atau ular Viper Hijau. Tanpa disabetkan pedang ini sudah menghasilkan efek luar biasa hingga membuat lawan berkelimpangan.

Dari hasil literasi yang Ilham baca, salah satu ritual lain yakni saat pembuatan, bilah pedang juga dibaluri darah haid pertama gadis yang masih perawan.

"Ada ritual, mulai dari penentuan hari, pantangannya saat membuat pusaka ini, dibacakan doa dan mantra tujuannya agar pusaka berfungsi kepada pemegangnya," ujarnya.

Dulunya benda pusaka semacam itu, kerap digunakan sebagai benda pelengkap sebuah ritual. Kini fungsinya telah bergeser, menjadi benda koleksi karena nilai estetikanya dan bukti warisan leluhur.

"Saat ini menjadi koleksi yang terus berupaya kami rawat, kami jaga agar tetap lestari," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini