Share

4 Raja Nusantara Dikenal Sakti Mandraguna, Nomor 3 Punya Pasukan Militer Gaib!

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 10 Agustus 2022 06:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 09 337 2644747 4-raja-nusantara-dikenal-sakti-mandraguna-nomor-3-punya-pasukan-militer-gaib-TUfuPn8za0.jpg Jayabaya terkenal dengan ramalan-ramalannya yang banyak terjadi di masa kini. (Foto: Dok Ist)

KESAKTIAN orang-orang terdahulu kini hanya menjadi cerita semata. Sudah sangat jarang orang yang mempelajari ilmu kesatktian, terutama di daerah perkotaan.

Padahal dulu, Nusantara terkenal akan raja dan pendekarnya yang sakti. Mereka mempelajari sebuah ilmu dengan tekad dan usaha yang besar ntuk menjadi sakti mandraguna.

Ilmu yang mereka dapatkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berikut raja-raja Nusantara yang dikenal sakti mandraguna.

1. Sultan Agung

Sultan Agung merupakan raja ketiga yang menguasai Kerajaan Mataram. Dia adalah putra dari pasangan Prabu Hanyokrowati dan Ratu Mas Adi Dyah Banowati. Dalam Babad Tanah Jawi, Sultan Agung dikisahkan memiliki seorang abdi siluman yang bernama Juru Taman.

Konon katanya, dia dahulu adalah manusia namun berubah menjadi siluman yang sakti mandraguna usai memakan telur pemberian Ratu Kidul. Juru Taman menjadi abdi paling setia dan sakti yang dimiliki Sultan Agung. Oleh karena itu, Sultan Mataram sering menggunakan kesaktian Juru Taman selama dirinya menjadi raja.

 Baca juga: 

Kesaktian Sultan Agung tidak hanya sampai di situ. Dalam Babad Nitik Sarta Cabolek, dikisahkan Sultan Agung terbiasa salat di Mekkah setiap Jumat. Selain itu, babad tersebut juga menceritakan kisah Sultan Agung yang menyerang Kota Suci Mekkah dengan wabah penyakit karena dilarang membangun makam di sana. Karena marah, Raja Mataram tersebut meminta bantuan Nyi Roro Kidul untuk menyerang Mekkah dengan wabah penyakit. Barulah setelah sang raja memaafkan, wabah tersebut hilang.

2. Raja Jayabaya

Raja Jayabaya terkenal akan ramalannya tentang Nusantara. Sebagai ahli nujum, sebagian ramalannya telah terbukti keberadaannya. Ramalan-ramalan Jayabaya yang terkenal itu dituangkan dalam sebuah karya sastra, “Ramalan Jayabaya”. Beberapa ramalan yang sudah terbukti kebenarannya adalah keberadaan kereta api di Indonesia.

Dalam kitabnya, Jayabaya mengatakan bahwa Nusantara kelak akan berkalung besi. Berkalung besi di sini ditafsirkan sebagai rel kereta api yang memutari daerah di Nusantara.

Selain itu, raja yang berhasil membawa Kerajaan Kediri ke masa jaya ini tidak diketahui letak makamnya sampai sekarang. Diperkirakan, sang raja melakukan moksa atau bertapa sehingga raganya pun menghilang. Lokasi moksa sang raja diketahui berada di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kediri, Jawa Timur. Hingga kini, lokasi moksa Raja Jayabaya masih sering didatangi para peziarah.

3. Prabu Siliwangi

Kehebatan Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi sudah tidak perlu diragukan lagi. Kerajaan Padjajaran mencapai masa jayanya ketika dipimpin Prabu Siliwangi.

Dikisahkan, Prabu Siliwangi pernah mengalahkan dan menaklukan Maung Bodas, sang macan gaib, dengan kesaktiannya. Berkat kemenangan sang Prabu tersebut, para macan putih itu pun bertekuk lutut dan menjadi khodam yang mendampinginya ke mana pun.

Tidak hanya itu, Prabu Siliwangi juga dipercaya memiliki pasukan militer gaib dari ribuan makhluk astral yang tak kasat mata. Sama seperti Raja Jayabaya, letak makam Prabu Siliwangi pun tidak diketahui. Diperkirakan sang raja menghilang usai melakukan moksa.

4. Prabu Brawijaya V

Prabu Brawijaya V merupakan raja terakhir Majapahit yang penuh misteri. Ia juga melakukan moksa dan menghilang bak ditelan bumi. Tidak diketahui di mana makam dan jasadnya.

Dikisahkan, Prabu Brawijaya V pernah bersembunyi dari kejaran anaknya, Raden Patah, di Puncak Lawu. Selain menghindari sang anak, Prabu Brawijaya juga menghindar dari Adipati Cepu yang memiliki dendam padanya. Merasa terus dikejar, memunculkan rasa sakit hati pada sang Prabu. Dia pun mengucapkan sumpah yang melarang keturunan Adipati Cepu maupun masyarakat Cepu naik ke Gunung Lawu.

*Dikutip dari berbagai sumber:

Mirsya Anandari Utami-Litbang MPI

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini