Share

BNPB: Secara Historis Tsunami di Selatan Pulau Jawa Pernah Terjadi

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 08 Agustus 2022 21:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 08 337 2644228 bnpb-secara-historis-tsunami-di-selatan-pulau-jawa-pernah-terjadi-LDKox2Sagy.jpg Ilustrasi (Foto: BNPB)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan secara historis bahwa tsunami di selatan Pulau Jawa pernah terjadi. Hal ini merespon adanya informasi yang beredar mengenai potensi tsunami di selatan Pulau Jawa beberapa waktu terakhir.

“Jadi memang ada (secara) historis kegempaan (yang berpotensi tsunami) yang terjadi pada puluhan tahun sebelumnya,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari pada Konferensi Pers secara virtual, Senin (8/8/2022).

Aam sapaan akrabnya mengatakan bahwa tsunami di selatan Pulau Jawa telah terjadi puluhan tahun lalu. Tercatat seperti tsunami di Banyuwangi tercatat pada tahun 1994. Lalu, 12 tahun kemudian yakni pada tahun 2006 terjadi tsunami di Pangandaran Jawa Barat.

“Mungkin kita masih ingat tahun 2006 itu kita punya tsunami di Pangandaran. Jadi kalau kita bicara bener nggak sih pernah ada terjadi tsunami di Selatan Jawa? Paling tidak di tahun 90-an, itu 1994 kita ada tsunami Banyuwangi, kemudian 2006, 12 tahun berikutnya kita ada tsunami di Pangandaran,” kata Aam.

Aam mengatakan tsunami di Pangandaran ini cukup unik karena gempanya tidak dirasakan oleh masyarakat. “Jadi masyarakat tidak terlalu aware bahwa kalau bisa kita di pantai kalau misalkan kita merasakan gempa sangat kuat pasti kita akan melihat ke laut ada tsunami atau tidak, kalau misalkan ada apa gerakan air laut yang mencurigakan atau tidak biasa pasti kita akan segera langsung lari.”

“Nah pada saat 2006, gempa ini tidak terasa. Jadi ini juga menjadi kewaspadaan masyarakat yang nanti kita akan lihat bagaimana kewaspadaannya. Sehingga masyarakat pada dasarnya tidak aware, tidak tahu kalau tsunami akan datang, ternyata suaminya datang. Sehingga itu cukup banyak korban sekitar 600 orang,” paparnya.

Aam pun mengatakan ketika berbicara potensi tsunami maka itu bicara mengenai kesiapsiagaan. Tidak hanya potensi bahayanya, tetapi bagaimana masyarakat bisa mitigasinya. “Apa yang harus dilakukan masyarakat yang harus kita sampaikan sehingga potensi bahaya bisa dibarengi dengan upaya mitigasinya.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini