Share

Tinggal 2 Km, Es di Puncak Jayawijaya Diperkirakan Punah pada 2025

Binti Mufarida, Sindonews · Senin 08 Agustus 2022 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 08 337 2643846 tinggal-2-km-es-di-puncak-jayawijaya-diperkirakan-punah-pada-2025-d4CHGIqqBh.jpg Puncak Jayawijaya (Foto: belantaraindonesia.org/sindonews)

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan dari hasil riset BMKG gletser atau bongkahan es di Puncak Jayawijaya diperkirakan akan punah atau mencair pada tahun 2025-2026.

Bahkan, kata Dwikorita, saat ini gletser di puncak Jayawijaya tinggal 2 km persegi atau 1% saja dari luas awal sekitar 200 km persegi.

“Gletser di Puncak Jayawijaya berdasarkan hasil riset BMKG saat ini tinggal kurang lebih 2 km persegi atau 1% dari luas awalnya sekitar 200 km persegi. BMKG juga memprediksi gletser tersebut akan punah, mencair di sekitar tahun 2025-2026,” kata Dwikorita pada Rakornas BMKG secara virtual, Senin (8/8/2022).

BACA JUGA:Jokowi Perintahkan BMKG Indentifikasi Risiko Iklim dan Dampaknya 

Sementara itu, Dwikorita mengatakan, kenaikan muka air laut global termonitor pula mencapai 4,4 mm per tahun pada periode 2010-2015, lebih tinggi lajunya jika dibandingkan periode sebelum 1990-an yaitu sebesar 1,2 mm per tahun.

“Periode ulang anomali iklim El Nino dan La Nina juga semakin pendek dari 5 hingga 7 tahun pada periode 1950-1980 menjadi hanya 2 hingga 3 tahun selama pasca periode 1980 hingga saat ini,” paparnya.

Seluruh fenomena tersebut, kata Dwikorita, akan berakibat pada semakin meningkatnya frekuensi intensitas dan durasi cuaca ekstrem. “Itulah sebabnya kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir longsor banjir bandang badai tropis puting beliung dan kekeringan semakin meningkat frekuensi intensitas durasi dan kejadiannya,” katanya.

BACA JUGA:BMKG: Enam Daerah di Kaltim Diprakirakan Hujan Petir 

Dwikorita menambahkan, perubahan iklim ini juga berakibat pada ancaman terhadap ketahanan pangan di wilayah Indonesia. “Berbagai kejadian ekstrem dan bencana hidrometeorologi mengakibatkan kegiatan pertanian dan perikanan semakin rentan untuk terganggu, gagal dan bahkan mengancam produktivitas hasil panen dan tangkap ikan, serta mengancam keselamatan para petani dan nelayan,” tuturnya.

“Dikhawatirkan ancaman terhadap ketahanan pangan dapat berakibat pula pada terganggunya kedaulatan pangan,” katanya.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini