Share

Serangan Balasan Kerajaan Sunda ke Majapahit Usai Perang Bubat

Avirista Midaada, Okezone · Minggu 07 Agustus 2022 07:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 07 337 2643339 serangan-balasan-kerajaan-sunda-ke-majapahit-usai-perang-bubat-TlRFFRu2c5.jpg Kerajaan Sunda disebut melakukan serangan balasan ke Kerajaan Majapahit usai Perang Bubat. (Ilustrasi)

PERANG Bubat tak hanya berdampak pada Kerajaan Majapahit. Secara langsung Kerajaan Sunda yang menjadi korban nyaris runtuh.

Raja dan para pejabat Kerajaan Sunda mati diserang pasukan Bhayangkara Komando Gajah Mada. Perang ini meninggalkan luka besar bagi Kerajaan Sunda utamanya Patih Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang naik tahta sementara mengisi kekosongan raja Sunda yang wafat.

Tak pelak Patih Mangkubumi itu langsung memberikan instruksi khusus kepada rakyatnya agar tidak boleh menikah dengan orang Jawa. Dikisahkan pada buku "Perang Bubat 1279 Saka : Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit" dari tulisan Sri Wintala Achmad, sang raja mengeluarkan peraturan esti larangan ti kaluaran yang isinya di antaranya tidak boleh menikah dengan luar lingkungan kerabat Sunda atau dengan pihak timur dari Kerajaan Sunda, Kerajaan Majapahit.

Hal ini lantaran sebelumnya putri raja Dyah Pitaloka Citraresmi, lebih memilih menerima pinangan Raja Hayam Wuruk dan mengindahkan beberapa pinangan yang datang dari wilayah Sunda. Pengorbanan inilah yang membuat Sunda membuat aturan itu, demi menghindari adanya Dyah Pitaloka-Dyah Pitaloka lainnya.

Sementara keberanian Raja Sunda Maharaja Linggabuana Wisesa diberi julukan dari masyarakat Sunda yakni Prabu Wangi. Putra Linggabuana Wisesa yang bernama Niskala Wastu Kancana yang tidak ikut dalam rombongan diberi kehormatan sebagai raja bergelar Prabu Siliwangi, yang berarti keturunan raja yang harum namanya.

Pada perjalanan sejarahnya Prabu Siliwangi inilah yang kemudian tercatat sebagai salah satu raja paling terkenal, dalam sejarah Indonesia dan sejarah Kerajaan Pajajaran. Semenjak itu pula, hubungan diplomatik Kerajaan Sunda-Majapahit tak pernah pulih. Bahkan seluruh hubungan diplomatik Sunda-Majapahit diputus total sejak pemerintahan Prabu Siliwangi.

Bahkan konon ada satu kisah yang tertuliskan di Prasasti Horren, yang ditemukan di wilayah Kediri selatan, yang saat ini tepatnya berada di Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Wilayah Horren ini merupakan salah satu wilayah penting Kerajaan Majapahit kala itu.

Prasasti ini berada di atas lembar keping tembaga berukuran panjang 32,6 sentimeter dan lebar 10,6 sentimeter, yang dikeluarkan usai Perang Bubat pada 1357. Pada prasasti tersebut mencatat perihal serangan Kerajaan Sunda, yang menghancurkan wilayah Horren yang merupakan wilayah penting di Majapahit.

Prasasti tersebut dikeluarkan pasca Perang Bubat pada 1357. Peneliti sejarah asal Belanda W.F. Stutterheim, memiliki persepsi selepas Perang Bubat, Kerajaan Sunda melakukan serangan terhadap Majapahit. Tetapi, tidak dijelaskan waktu itu Sunda di bawah pemerintahan Prabu Bunisora Suradipati atau Niskala Wastu Kancana.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Dugaan peneliti asal Belanda bahwa Prasasti Horren tersebut menceritakan perihal serangan Sunda terhadap Majapahit, mengacu pada petikan kalimat yang tertulis dengan menggunakan gaya bahasa pada era Majapahit : Ring kaharadara, nguniweh an dadyan tumangga - tangga datang nikanang catru Sunda, atau yang diartikan tentang kerusakan yang tiba-tiba, lagi pula secara mendadak datanglah musuh (dari) Sunda.

Stutterheim berpendapat, serangan Sunda itu dilakukan dengan teknik senyap dan langsung menyasar pada jantung kota raja Majapahit. Mengingat tentara Sunda mendarat dengan tiba-tiba di Horren, yaitu di wilayah utara Kadiri, yang letaknya tak terlalu jauh dari kota raja Majapahit. Suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Trowulan.

Pendapat tersebut memang bisa diterima logika, serangan Sunda bisa meluluhlantakkan wilayah Horren, karena Hayam Wuruk mempensiunkan Mahapatih Amangkubhumi Gajah Mada secara halus. Hal ini membuat pasukan Bhayangkara yang berada di bawah kendali Gajah Mada mulai melemah. Sehingga Majapahit dengan angkatan darah dan lautnya dibuat kerepotan saat menghadap serangan Kerajaan Sunda.

Tetapi serangan balasan Sunda ke Majapahit ini masih menjadi misteri. Para sejarawan menentang pendapat Stutterheim itu, mereka beranggapan Sunda tidak pernah menyerang Majapahit. Mengingat Perang Bubat dikisahkan pada Kidung Sundayana, Kidung Sunda, Serat Pararaton, Carita Parahyangan, Babad Dalem, dan Hikayat Sang Bima, meragukan itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini