Share

6 Daftar Pahlawan Nasional dari Bali, Apa Saja Kontribusinya?

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Minggu 07 Agustus 2022 08:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 06 337 2643116 6-daftar-pahlawan-nasional-dari-bali-apa-saja-kontribusinya-CBeV9CijJB.jpg 6 daftar Pahlawan Nasional dari Bali, apa saja kontribusinya?/Wikipedia

JAKARTA - Meskipun upaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia banyak terpusat di Pulau Jawa, bukan berarti daerah di luar Jawa tidak berkontribusi.

Perjuangan mencapai kemerdekaan nyatanya terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Bali merupakan salah satu wilayah yang tidak tinggal diam dalam mengusir penjajah.

Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi Bali, Bali menjadi salah satu basis perjuangan melawan Belanda dan Jepang.

Sejumlah peperangan terjadi di pulau ini, antara lain Perang Jagaraga (1848-1849), Perang Kusamba (1849), Perlawanan Rakyat Banjar (1868), Perang Puputan Badung (1906), Perang Puputan Klungkung (1908), dan Perang Puputan Margarana (1946).

Berbagai peperangan tersebut tentu tidak terlepas dari upaya para pejuang dan pahlawan Bali. Berikut daftar pahlawan nasional yang berasal dari Bali.

1. I Gusti Ngurah Rai

Kolonel TNI Infantri I Gusti Ngurah Rai ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 9 Agustus 1975.

Ia lahir di Desa Carangsari, Badung pada 30 Januari 1917. Sewaktu Jepang membentuk tentara PETA (Pembela Tanah Air), Ngurai Rai enggan bergabung ke dalam organisasi militer tersebut lantaran ia antipati atas penjajahan yang dilakukan Jepang terhadap Indonesia.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Ngurai Rai membentuk dan menjadi komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Bersama pasukannya yang disebut Ciung Wanara itu, Ngurah Rai memimpin Perang Puputan Margarana dalam melawan Belanda di tahun 1946.

Ngurah Rai berjuang habis-habisan hingga ia dan seluruh pasukannya gugur.

2. I Gusti Ketut Jelantik

Pada 14 September 1993, I Gusti Ketut Jelantik ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah RI.

I Gusti Ketut Jelantik adalah patih Kerajaan Buleleng yang menolak dihapuskannya sistem tawan karang oleh Belanda.

Tawan karang adalah sistem yang berlaku di Bali yang memberikan hak bagi raja Bali untuk menguasai kapal yang terdampar di perairannya.

Karena hal ini, terjadilah perang antara Kerajaan Buleleng dan Belanda. Selain kalah, Kerajaan Buleleng harus menyepakati perjanjian yang menguntungkan Belanda.

Kerajaan Buleleng pun dipindah ke Jagaraga. Belanda rupanya tidak tinggal diam.

Mereka menggempur I Gusti Ketut Jelantik dan pasukannya.

Pada Perang Puputan Jagaraga yang terjadi tahun 1848-1849 itu, Ketut Jelantik dan seluruh pasukannya tewas.

 

3. Ida Anak Agung Gde Agung

Ida Anak Agung Gde Agung adalah seorang Raja Gianyar, yang naik takhta menggantikan sang ayah, Anak Agung Ngurah Agung. Dilahirkan di Gianyar, Bali pada tahun 1921, Ida Anak Agung Gde Agung memiliki peran di masa pemerintahan federasi oleh Belanda.

Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT) pada 1947-1949 ini memimpin delegasi NIT saat Konferensi Meja Bundar di Den Haag yang diikuti RI, Belanda, serta BFO (Bijenkomst voor Federal Overleg atau Pertemuan Musyawarah Federal).

Saat itu, posisi Ida juga sebagai Wakil Ketua Delegasi BFO. Ia berperan dalam diplomasi yang menguatkan posisi Indonesia sehingga kedaulatan NKRI diakui oleh Belanda.

Doktor bidang sejarah dari Universitas Utrecht di Belanda ini meninggal pada 1999.

Pemerintah memberikan gelar pahlawan nasional pada Dr Ida Anak Agung Gde Agung di tahun 2007.

4. I Gusti Ketut Pudja

Lahir di Singaraja, 19 Mei 1908, I Gusti Ketut Pudja menamatkan pendidikan di sekolah tinggi hukum Rechtshoogeschool di Batavia pada 1934.

Ketika PPKI dibentuk pada 7 Agustus 1945, I Gusti Ketut Pudja ditunjuk oleh Soekarno sebagai anggota PPKI mewakili Sunda Kecil.

Salah satu peran Ketut Pudja adalah mengusulkan perubahan poin pertama Piagam Jakarta yang dirumuskan oleh Panitia Sembilan.

Kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diusulkan Ketut Pudja untuk diubah menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Usul ini diterima oleh Mohammad Hatta. Ketut Pudja lalu diangkat sebagai Gubernur Sunda Kecil setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Selain menyebarkan berita proklamasi, ia juga bertugas menjelaskan konsep dan struktur pemerintahan kepada masyarakat.

I Gusti Ketut Pudja ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 2011.

5. I Gusti Ngurah Made Agung

Pada November 2015, pemerintah mengukuhkan I Gusti Ngurah Made Agung sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasa yang telah diberikannya kepada Indonesia.

I Gusti Ngurah Made Agung adalah raja ketujuh di Kerajaan Badung. Ia dikenal kerap menentang Belanda yang merugikan masyarakat, selain juga turut campur dalam kehidupan internal kerajaan.

Akibatnya, hubungan Kerajaan Badung dan Belanda memburuk hingga akhirnya Belanda menerapkan blokade ekonomi.

Karena blokade tidak berhasil, Belanda membentuk pasukan yang tetap tidak membuat Kerajaan Badung menyerah.

Pada 1906, I Gusti Ngurah Made Agung berperang melawan Belanda demi mempertahankan kedaulatan Kerajaan Badung dan Tabanan.

Dalam perang yang dikenal dengan Puputan Badung ini, I Gusti Ngurah Made Agung bersama seluruh pasukannya tewas.

6. Untung Surapati

Salah satu pahlawan nasional yang lahir di Bali adalah Untung Surapati. Ia dianugerahi gelar pahlawan nasional pada November 1975.

Tokoh yang lahir tahun 1660 ini merupakan sosok legendaris di Nusantara. Kisahnya sebagai seorang anak yang berasal dari rakyat jelata dan budak VOC yang kemudian menjadi bangsawan di Pulau Jawa kerap diangkat sebagai lakon dalam ketoprak ataupun wayang.

Untung Surapati berperan dalam perang menghadapi pasukan VOC yang bergabung dengan pasukan dari daerah lain yang menyerbu Pasuruan.

Ia tewas pada 5 Desember 1706 dalam pertempuran yang terjadi di Bangil itu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini