Share

Penolakan Putri Airlangga saat Ditawari Jadi Raja di Kerajaan Kahuripan

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 06 Agustus 2022 07:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 06 337 2643004 penolakan-putri-airlangga-saat-ditawari-jadi-raja-di-kerajaan-kahuripan-eh2M77sE3C.jpg Peninggalan Kerajaan Kahuripan/Wikipedia

JAKARTA - Raja Airlangga menjadi penguasa Kahuripan dan merupakan seorang raja besar di Pulau Jawa saat itu. Sosoknya yang menjadi penerus trah Mataram kuno menjadi Kahuripan jadi kerajaan yang cukup disegani.

Airlangga pada akhirnya memilih meletakkan tahtanya pada 1042 Masehi. Ia turun tahta karena ingin menjadi seorang pertapa.

Menariknya, ada suatu fakta bahwa sebelum turun tahta, Airlangga sempat menawarkan jabatan raja Kahuripan kepada putrinya Sanggramawijaya Tunggadewi.

Sebagaimana dikutip dari buku "13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa", dari Sri Wintala Achmad, tawaran sang ayah kepada putrinya ia tolak.

Prasasti Cane (1021 M) dan Prasasti Turun Hyang (1035 M), pun memuat penolakan Sanggramawijaya Tunggadewi yang diberikan oleh ayahnya.

Sang anak konon lebih memilih jalan hidup sebagai pertapa yang bergelar Dewi Kilisuci, daripada harus menjadi raja menggantikan Airlangga ayahnya.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Oleh karena tidak bersedia, akhirnya Airlangga meminta bantuan kepada Mpu Bharada yang merupakan penasihat raja Airlangga.

Akhirnya Mpu Bharada pun membagi wilayah kekuasaan Kahuripan menjadi dua bagian. Wilayah kekuasaan di sebelah timur yang beribukota di Kerajaan Kahuripan (Janggala / Ujung Galuh) itu diberikan kepada Mapanji Garasakan.

Sementara itu, wilayah di sebelah barat yang beribukota di Daha Kadiri diberikan kepada Sri Samarawijaya.

Sesudah wilayah kekuasaan Kahuripan terbagi menjadi dua bagian untuk kedua putranya. Selanjutnya, Airlangga meninggalkan istana dan meletakkan tahtanya. Ia memilih menuju suatu tempat yang jauh dari keramaian duniawi.

Di sana Airlangga menjadi pertapa. Sejumlah nama sebutan Airlangga mengemuka saat menjalani pertapaan ini, di naskah Serat Calon Arang Airlangga disebut Resi Airlangga Jatiningrat, kemudian dengan sebutan Resi Gentayu pada Babad Tanah Jawa, dan berdasarkan Prasasti Gandhakuti dengan Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Citraning Bhuwana.

Namun kapan Airlangga akhirnya mangkat tidak diketahui dengan pasti. Di Prasasti Sumengka yang dikeluarkan pada tahun 1059 Masehi hanya menyebutkan bahwa Airlangga telah dimakamkan di tirtha. Suatu tempat yang identik dengan pemandian.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini