Share

Prabu Jayabaya Goreskan Catatan Sejarah Tentang Kejayaan Kerajaan Kediri di Masanya

Avirista Midaada, Okezone · Sabtu 06 Agustus 2022 05:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 06 337 2642990 prabu-jayabaya-goreskan-catatan-sejarah-tentang-kejayaan-kerajaan-kediri-di-masanya-GyvN5f6ipc.jpeg Prabu Jayabaya. (Foto: Dok Ist)

PRABU Jayabaya menjadi raja termasyhur di Kerajaan Kediri. Ia yang naik tahta pada 1135 Masehi akhirnya menyatukan dua kerajaan yang dulunya dibagi dua oleh Airlangga. Maka tak ayal, Jayabaya pun memutuskan menyerang Janggala dan menyatukan dua wilayah yang dibagi oleh Mpu Bharada.

Usai menyatukan kedua kerajaan, Prabu Jayabaya akhirnya memerintahkan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk menggubah Kakawin Bharatayudha. Karya sastra yang mengisahkan tentang kejayaan Pandawa terhadap Kurawa dalam Perang Bharatayuda. 

Karya itu diubah untuk melukiskan kejayaan Kediri atas Janggala dalam perang saudara atau trah Airlangga. Sri Wintala Achmad dari buku "13 Raja Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Kerajaan di Tanah Jawa", perubahan itu sebagai politis dari Prabu Jayabaya untuk memutarbalikkan fakta.

Di mana Prabu Jayabaya yang merebut wilayah Janggala dilambangkan sebagai Yudistira (raja Amarta yang berjiwa mulia). Sementara raja Janggala dilambangkan sebagai Doryudana atau raja Hastina yang berwatak jahat.

Baca juga:  Peran Tokoh Agama di Balik Ramalan Raja Jayabaya

Jayabaya juga memiliki kesadaran dalam menggoreskan catatan sejarahnya. Ia pun mengeluarkan tiga prasasti penting yang menjadi warisan Jayabaya, ketiganya yakni Prasasti Hantang atau Prasasti Ngantang, Prasasti Talan, dan Prasasti Jepun.

Di Prasasti Hantang yang berangka tahun 1135 Masehi, ditemukan di Ngantang, Kabupaten Malang. Karena ditemukan di Desa Ngantang, maka prasasti ini dinamakan Prasasti Ngantang. Prasasti ini dituliskan dengan huruf kuadrat besar dan berbunyi Panjalu Jayati tersebut memperingati pemberian anugerah Prabu Jayabaya pada penduduk Desa Hantang.

Isi prasasti ini sendiri memperlihatkan kebaktiannya terhadap raja dengan bukti menyerahkan cancu tan pamusu dan cancu ragadaha. Selain itu, mereka tetap setia kepada raja sewaktu terjadi perang saudara. Di prasasti ini juga berisikan perincian anugerah yang pernah diterima oleh penduduk Hantang sewilayahnya dari yang telah dicandikan di Gajapada dan Nagapuspa.

Prasasti Talan berangka tahun 1136 M, ditemukan di Gurit, Babadan, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Cap prasasti ini adalah Garudhamukalanca yang berbentuk badan manusia berkepala burung garuda dan bersayap. 

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Prasasti ini pula yang konon mengilhami lambang burung garuda sebagai lambang negara Republik Indonesia. Adapun Prasasti Talan berisikan anugerah sima dari Prabu Jayabaya kepada penduduk Desa Talan.

Prasasti ketiga yakni Jepun, yang ditemukan di Jepun, Tegalrejo, Kecamatan Selapuro, Kabupaten Blitar. Prasasti yang terbuat dari batu ini dibuat pada tahun 1066 Saka atau 7 Juli 1144 M. Sayangnya prasasti ini tidak bisa dibaca isinya, sebab mengalami kerusakan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini