Share

Jokowi: Pertumbuhan Ekonomi Dunia Sedang Sulit

Inin Nastain, Koran Sindo · Jum'at 05 Agustus 2022 13:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 337 2642592 jokowi-pertumbuhan-ekonomi-dunia-sedang-sulit-o3t2nbEIds.jpg Presiden Jokowi/ Foto: Okezone

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan kondisi ekonomi dunia saat ini dalam keadaan sulit. Perlu beberapa langkah agar Indonesia mampu bertahan, dan tidak masuk sebagai negara yang bangkrut.

Jokowi mengatakan, organisasi dunia telah terus terang mengatakan bahwa perkembangan ekonomi saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.

 BACA JUGA:Kapolri Mutasi Sejumlah Personel Buntut Kasus Brigadir J, JARI 98: Patut Diacungi Jempol!

“Sekarang ini memang dunia berada pada posisi tidak mudah, pada keadaan yang sangat sulit. Saya bertemu dengan Sekretaris Jendral PBB, lembaga-lembaga internasional langsung bos-bosnya, bertemu dengan Kepala Negara G7, baru saja. Saya tanyakan ‘sebetulnya, dunia ini mau kemana?'" kata Jokowi saat acara Silahturahmi Nasional PPAD (Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat) 2022 yang dihelat di SITC (Sentul International Convention Center) pada Jumat (5/8/2022).

Dari pertanyaan itu, jelas dia, para pejabat di organisasi dunia menjelaskan bahwa saat ini memang dalam keadaan sulit. Ada puluhan negara yang saat ini berada di ambang kebangkrutan, dan kondisi itu sudah mulai dialami oleh beberapa negara.

“Beliau-beliau menyampaikan ‘Jokowi, tahun ini kita akan sangat sulit, tahun ini kita akan sulit.’ Terus, ‘kemudian seperti apa? ‘Tahun depan, akan gelap.’ Ini bukan Indonesia, ini dunia. Hati-hati, bukan Indonesia. Yang saya bicarakan tadi, dunia. Kita bicara dunia dulu. Semua negara sekarang ini, dalam keadaan tidak mudah,” beber dia.

“Dari Sekjend PBB menyampaikan, dari IMF, dari Bank Dunia menyampaikan bahwa akan ada 60 negara yang akan ambruk ekonominya. Dan sekarang sudah mulai 1 per satu, angkanya adalah 9 terlebih dahulu, kemudian 25, kemudian 42, mereka sudah secara detail meng-kalkulasi,” lanjut Jokowi.

Dijelaskannya, saat ini ada ratusan juta orang di beberapa negara yang sudah terserang kelaparan. Sejumlah negara lainnya, warganya mulai masuk ke dalam ambang kelaparan.

“Apa yang dikhawatirkan itu betul-betul kita lihat. Dan sekarang ini 320 juta orang di dunia sudah berada pada posisi menderita kelaparan akut, dan sebagian sudah mulai kelaparan. Saya sampaikan apa adanya. Karena memang posisi pertumbuhan ekonomi semuanya, bukan hanya turun, tapi anjlok, semuanya. Turun semuanya. Singapura, Eropa, Australia, Amerika, semuanya,” ungkap dia.

Amerika, jelas dia, yang biasanya inflasi berada di angka 1 persen, saat ini melonjak tinggi. Bahan Bakar Minyak (BBM) di beberapa negara, termasuk Eropa pun saat ini naik dua kali lipat, dibanding sebelumnya.

“Pertumbuhan ekonominya turun, tetapi inflasinya naik. Harga-harga barang semuanya naik. Inilah kondisi yang sangat, kalau boleh saya sampaikan, dunia sedang pada kondisi yang mengerikan. Amerika yang biasanya kenaikan barang atau inflasi itu hanya berada di posisi 1 persen, hari ini sudah berada di 9, 1 persen. Bensin naik sampai 2 kali lipat, di Eropa sama,” beber dia.

 BACA JUGA:Pegawai Negeri Diliburkan Saat Suhu di Irak Capai 50 Derajat Celcius

“Coba di negara kita bayangkan, kalau Pertalite naik dari Rp7650 harga sekarang ini, kemudian naik menjadi harga yang benar adalah Rp17.100, demonya berapa bulan. Naik 10 persen saja naiknya dulu 3 bulan, kalau naik sampai 100 persen lebih, demonya akan berapa bulan. Ini lah yang sekarang dikendalikan oleh pemerintah, dengan subsidi,” tambah dia.

Jokowi mengklaim, dalam hal subsidi BBM, tidak ada satu pun negara yang berani seperti Indonesia. Saat ini, subsidi untuk BBM di kisaran Rp500 triliun. “Karena begitu harga bensin naik, harga barang otomatis melompat bersama-sama. Oleh sebab itu pemerintah mengeluarkan anggaran subsidi yang tidak kecil, Rp502 triliun, yang tidak ada negara berani memberikan subsidi yang dilakukan Indonesia,” jelas dia.

Lebih jauh dijelaskan Jokowi, perlu langkah-langkah konkrit untuk menghindari kondisi yang lebih parah. Disebutkannya, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kehancuran ekonomi, yang saat ini dilakukan pemerintah.

“Saya ingin bergeser ke apa yang telah kita lakukan dalam rangka bersaing dengan negara-negara lain. Pondasi dalam kita bersaing, harus mulai kita tata dan bangun. Karena ke depan, bukan negara kecil, bukan negara besar mengalahkan negara kecil, bukan negara kaya mengalahkan negara miskin. Pertarungannya adalah negara cepat itu akan mengalahkan negara yang lambat. Dan untuk cepat, dibutuhkan pondasi-pondasi. Ini lah yang sedang kita kerjakan,” beber dia.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Infrastruktur, jelas dia, menjadi investasi jangka panjang yang bisa dilakukan untuk mampu bersaing di masa yang akan datang. ditegaskannya, keberadaan infrastuktur yang baik, akan bisa dirasakan hasilnya beberapa tahun ke depan.

“Ini baru akan terasa lima tahun atau 10 tahun yang akan datang, tidak bisa instan kita rasakan sekarang. Tetapi begitu kita berkompetisi dengan negara-negara lain, kalau infrastruktur kita, kalau stock infrastuktur kita baik, akan kelihatan kita bersaing atau tidak,” ungkap dia.

 BACA JUGA:Ada Pelatihan SDM di IKN Nusantara, dari Program Barista hingga Bikin Kue

“Dalam tujuh tahun ini telah tambah 2042 kilometer jalan tol, 550 jalan non tol, bandara baru 16, pelabuhan baru 18, bendungan baru 38, irigasi baru 1,1juta hektar. Ini lah pondasi kita untuk nanti berkompetisi dengan negara-negara lain. Mungkin tidak bisa kita rasakan sekarang. Dan nanti efeknya akan ke APBN,” tambah Jokowi.

Yang kedua, jelas dia, industrialisasi. Dalam beberapa tahun terakhir, Jokowi mengeklaim telah melakukan langkah-langkah itu. Keputusan itu belum pernah dilakukan dalam kurun waktu yang lama.

“Yang ini tidak berani kita lakukan dalam kurun waktu yang lama sekali, yaitu industrialisasi. Kita sejak zaman VOC ekspornya bahan mentah. Memang itu paling enak. Batu bara, keruk langsung kirim bahan mentah. Nikel, kirim barang mentah. Bertahun-tahun kita menikmati itu, dan lupa menyiapkan pondasi industri hilirisasinya,” jelas dia.

“Apa yang kita dapatkan kalau kita melakukan industrialisasi? Pajak pada pemerintah akan melompat. Lapangan kerja juga ada di Indonesia, bukan di Uni Eropa. Membuka lapangan pekerjaan yang sangat banyak. Ini lah yang lama tidak kita pikirkan. Dan kita tidak berani menyetop,” jelas dia.

 BACA JUGA:BUMN Ajak Jepang Bangun Industri Perikanan di Papua

“Digitalisasi. Kalau kita mau bersaing-saing yang kecil-kecil, usaha kecil, usaha mikro, usaha menengah, mereka harus berani masuk yang namanya platform digital. Ada 65,4 juta usaha kecil, usaha menengah, usaha mikro kita dan itu memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi kita, 61 persen. Jangan lupakan mereka yang kecil-kecil itu. Kita terus mendorong mereka untuk masuk pada ekosistem digital,” tambah dia.

“Ini nanti yang akan jadi pondasi kuat ekonomi Indonesia. Usaha mikro, bukan yang gede-gede. Dan saya meyakini, nanti di tahun 2030, kita berada di nomor 15, tahun 2030, insya allo kita sudah berada di urutan ke tujuh dunia,” tambah dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini