Share

Peran Besar Dokter-Dokter yang Ikut Berjuang Meraih Kemerdekaan Indonesia

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 05 Agustus 2022 06:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 04 337 2641940 peran-besar-dokter-dokter-yang-ikut-berjuang-meraih-kemerdekaan-indonesia-OYaYWwRV0N.jpg Ilustrasi/ Doc: Okezone

JAKARTA - Selama masa penjajahan, seluruh lapisan masyarakat Indonesia ikut berjuang untuk meraih kemerdekaan, tak terkecuali mereka yang berprofesi sebagai dokter. Walaupun tidak berjuang di medan perang, para dokter juga mempunyai andil besar dalam perjuangan bangsa meraih kemerdekaan. Berikut beberapa dokter yang ikut berjuang dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

dr. Cipto Mangunkusumo

Nama Dokter Cipto Mangunkusumo mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Ia merupakan seorang dokter lulusan STOVIA, sekolah kedokteran untuk pribumi pada masa Hindia Belanda, yang turut berpartisipasi dalam pembentukan Budi Utomo. Sebagai seorang dokter, dia mengabdikan dirinya dalam dunia medis dengan membuka praktik di Solo.

Bahkan, Cipto mempunyai andil besar dalam mengatasi wabah pes 1911 di Malang. Selain itu, ia juga tergabung dalam Tiga Serangkai bersama kedua sahabatnya, Douwes Dekker dan Ki Hadjar Dewantara. Dalam Tiga Serangkai, ia membentuk Indische Partij yang menjadi partai politik pertama di Hindia Belanda. Partai ini mereka gunakan untuk melawan pemerintahan Belanda.

 BACA JUGA:Satgas Sebut Virus PMK Terkendali dalam 3 Minggu Terakhir

Perjuangan Cipto dalam melawan pemerintahan Belanda harus berakhir ketika ia dituduh sebagai komunis karena sifat keras dan radikalnya. Hal itu menyebabkan dirinya harus masuk ke pengasingan hingga akhirnya ia wafat pada 8 Maret 1943. Nama dr Cipto Mangunkusumo diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit besar di Indonesia.

dr. Wahidin Soedirohusodo

dikenal sebagai Pelopor Pergerakan Nasional, Dokter Wahidin Soedirohusodo berjasa dalam pencerdasan bangsa. Untuk menyebarkan gagasan-gagasannya mengenai pendidikan, Wahidin menerbitkan majalah berbahasa Jawa bernama Retno Dumilah.

Sebagai seorang dokter, ia kerap membantu masyarakat miskin dengan pengobatan gratis. Wahidin juga menjadi salah satu pelopor dari pembentukan organisasi Budi Utomo. Selama hidupnya, Wahidin mempunyai tujuan untuk menghilangkan kebodohan dan kemiskinan pada rakyat Indonesia.

 BACA JUGA:Ferdy Sambo Harap Publik Tak Berasumsi Terkait Kematian Brigadir Yosua

dr. Radjiman Wedyodiningrat

Dikenal sebagai Ketua BPUPKI, perjuangan Dokter Radjiman Wedyodiningrat sudah dimulai jauh sebelum masa kependudukan Jepang. Kariernya sebagai seorang dokter dilatarbelakangi rasa prihatinnya saat masyarakat Ngawi dilanda Pes.

Selain tergabung dalam Budi Oetomo, ia juga pernah mengusulkan untuk membentuk misili rakyat di setiap wilayah Indonesia. Sebagai ketua BPUPKI, dr Radjiman bersama anggota lainnya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dengan membentuk dasar-dasar negara.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

dr. Ferdinand Lumban Tobing

Pada masa kependudukan Jepang, Dokter Ferdinand Lumban Tobing ditunjuk sebagai dokter pengawas dalam kegiatan Romusha. Di situlah Ferdinand melihat kesengsaraan rakyat Indonesia dalam penjajahan Jepang.

Sebagai dokter pengawas, dia tidak hanya mengobati pasiennya tapi juga memberikan semangat patriotisme. Karena hal itulah, Ferdinand dianggap sebagai pengkhianat oleh Jepang dan dimasukkan ke dalam daftar orang yang akan dibunuh. Untungnya, sang dokter berhasil kabur dan menyelamatkan diri.

 BACA JUGA:Moeldoko Ungkap Potensi Pendapatan Gim di Indonesia

Saat awal kemerdekaan, Ferdinand diangkat menjadi Residen Tapanuli dan berperan aktif dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia pada masa Agresi Militer I dan II sebagai Gubernur Militer Tapanuli.

dr. Muwardi

Sama seperti dr Cipto Mangunkusumo, dr Muwardi pun merupakan lulusan STOVIA. Setelah lulus dari STOVIA, Muwardi melanjutkan pendidikannya di Nederlandsch Indische Arts School dan lulus sebagai dokter pada tahun 1931. Dia mengambil pendidikan terakhirnya di Geneeskundig Hoogeschool sebagai Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT).

Sebagai seorang pejuang, dia tergabung dalam Jong Java dan menjadi ketua Pandu Kebangsaan. Selain itu, Dokter Muwardi juga turut membantu dalam persiapan pelaksanaan proklamasi di kediaman Soekarno. Di akhir kisah hidupnya, Muwardi diculik oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan hilang secara misterius.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini