Share

Benteng Parit Kerajaan Pajajaran Karya Prabu Siliwangi Sulit Ditembus

Avirista Midaada, Okezone · Kamis 04 Agustus 2022 06:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 04 337 2641683 benteng-parit-kerajaan-pajajaran-karya-prabu-siliwangi-sulit-ditembus-lOkFsqNBZB.jpg Ilustrasi (Foto : Wikipedia)

KERAJAAN Pajajaran konon memiliki benteng pertahanan yang tangguh. Benteng ini dibuat semasa pemerintahan Prabu Siliwangi dan dikelilingi parit yang memutari istana Kerajaan Pajajaran. Ketangguhan benteng pertahanan ini terbukti ketika perlahan-lahan Pajajaran mulai mengalami kemunduran dan menerima ancaman dari musuh.

Pembuatan benteng pertahanan dan parit kokoh ini dikisahkan putra Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi raja Surawisesa. Saat itu Surawisesa memang memerintah di Kerajaan Pajajaran usai ayahnya mangkat.

Dikutip dari buku "Mencari Gerbang Pakuan" dari Saleh Danasasmita menyebut pendirian parit pertahanan untuk memperkokoh benteng yang ada. Pendirian parit itu dituliskan pada Prasasti Batutulis, dimana disebutkan kata nyusuk na Pakwan yang diterjemahkan dengan amagehing Pakwan atau artinya memperkokoh Pakuan. Jadi benar dimaksudkan hal itu membuat parit pertahanan.

Bahkan ada suatu sumber yang mendeskripsikan parit ini didesain sedemikian rupa oleh Prabu Siliwangi. Parit ini memiliki lebar dasar 10 meter dan tinggi tebing 7-10 meter. Parit ini mengelilingi benteng Pakuan Pajajaran yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran.

Di masa Surawisesa ini beberapa pertempuran terjadi sebagaimana dikisahkan naskah kuno Carita Parahyangan. Menariknya semua serangan ini mampu ditangkal oleh putra Prabu Siliwangi berkat ketangguhan benteng pertahanan Pakuan Pajajaran.

Salah satu pertempuran Talaga (salah seorang istri Surawisesa adalah ahli waris tahta Talaga) dan dalam Sajarah Talaga tokoh Surawisesa dikenal dengan sebutan Pucuk Umum. Karena Cirebon melanjutkan serangannya dari Talaga ke jantung Galuh dan Galunggung, maka sejak Panembahan Hasanuddin menjadi penguasa Banten, serangan ke Pakuan dilakukan oleh Banten.

BACA JUGA:Kejayaan Pajajaran: Kekayaan Melimpah dan Punya Pasukan Darat Kuat 

Setelah raja berganti-ganti dari Surawisesa, Carita Parahyangan memberitakan adanya kembali perang yang melanda Kerajaan Pajajaran. Serangan dilakukan oleh tentara Banten pada tahun Saka 1501 saat Banten diperintah oleh Panembahan Yusuf. Raja Pajajaran saat itu adalah Nusiya Mulya sesuai Carita Parahyangan atau Ragamulya pada kitab Nagarakretabhumi.

Namun raja terakhir Pajajaran tidak berkedudukan lagi di Pakuan, melainkan di Pulasari (Pandeglang). Tetapi yang menjadi peristiwa penting yakni jangka waktu cukup lama penyerangan tentara Banten mendeskripsikan betapa kuatnya benteng pertahanan Pajajaran.

Tentara Banten baru bisa membobol gerbang atau kuta Pakuan dan melintasi parit ini sekitar 1579 setelah di Pakuan tidak ada raja selama 12 tahun lebih. Hal ini menunjukkan bahwa pertahanannya terlalu tangguh.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Bahkan lukisan yang diberikan Abraham Van Riebeeck tentang tanggul sempit dan mendaki serta diapit dinding parit terjadi jelas menjadi kelengkapan benteng yang ampuh. Pada tahun 1579 penduduknya mungkin sebagian besar telah mengungsi atau kembali ke daerah asalnya.

Namun keberhasilan Banten dalam masuk ke istana Pajajaran juga konon tak lepas dari pengkhianatan orang dalam istana. Bagaimana tidak sejak penyerangan awal yang dilakukan oleh Hasanuddin betapa pun keadannya ibu kota Pakuan terus rapat terjaga.

Akan tetapi ketahanan sekian lama tanpa kehadiran dua orang rajanya yang terakhir, telah membuktikan ketangguhan benteng Pakuan yang dibangun oleh Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini