Share

Tampuk Kerajaan Sunda Usai Perang Bubat

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 02 Agustus 2022 05:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 02 337 2640332 tampuk-kerajaan-sunda-usai-perang-bubat-K4Qy02Oquz.jpg Tampuk kekuasaan Kerajaan Sunda usai perang bubat lawan Majapahit.

PERANG Bubat membuat para pejabat Kerajaan Sunda tewas semuanya. Perang antara Kerajaan Sunda dan Majapahit ini terjadi saat rombongan pengantin dari Sunda diserang pasukan Gajah Mada dari Majapahit.

Pesta pernikahan antara putri Raja Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi dengan Raja Majapahit Hayam Wuruk urung dilakukan. Perang yang terjadi pada 1357 Masehi ini membuat tampuk tahta kerajaan kosong.

Namun, dikisahkan usai Perang Bubat riwayat Kerajaan Sunda tak langsung tamat. Pada buku "Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi" tulisan Saleh Danasasmita, Kerajaan Sunda setelah peperangan Bubat ini masih diperintah oleh delapan rajanya.

Berdasarkan Carita Parahiyangan maupun Kakawin Pararaton, raja Sunda yang pergi ke Majapahit hendak menikahkan putrinya dengan Hayam Wuruk adalah Maharaja. Hal ini juga digunakan sebagai bahan oleh Poerbatjaraka dalam bahasannya "De Batoe-toelis bij Buitenzorg.

Putra Prabu Maharaja waktu itu tidak ikut ke Majapahit, sehingga tidak ikut gugur di Perang Bubat adalah Wastu Kencana. Prasasti Batutulis maupun Prasasti Kebantenan menyatakan Wastu Kencana adalah kakek Sri Baduga.

Urutan silsilah dalam Prasasti Kebantenan adalah Wastu Kencana, Ningrat Kencana, baru Sri Baduga Maharaja. Sedangkan di Prasasti Batutulis urutan rajanya yakni Wastu Kencana, Dewa Niskala, Sri Baduga Maharaja. Sementara di Carita Parahyangan urutan rajanya pasca Perang Bubat adalah Wastu Kencana, Tohaan di Galuh, dan Ratu Jayadewata.

Baik menurut Prasasti Batutulis maupun Carita Parahiyangan, Wastu Kencana dikebumikan di Nusalarang. Demikian pula Dewa Niskala yang dalam Prasasti Batutulis disebut dikuburkan di Gunatiga, menurut Carita Parahiyangan.

Sementara Tohaan di Galuh dimakamkan di Gunungtiga, pendeknya dapat dipastikan bahwa Sri Baduga Maharaja yang terdapat dalam Prasasti Batutulis sama dengan Ratu Jayadewata dalam Carita Parahiyangan. Gelar Sri Baduga yang lengkap pun menggunakan Sang Ratu Dewata.

Pada Carita Parahiyangan disebutkan bahwasannya Ratu Jayadewata adalah yang dimakamkan di Rancamaya, sedangkan oleh Poerbatjaraka kata Rancamaya diartikan berbuat khianat, sama artinya dengan kata kalawisaya.

Follow Berita Okezone di Google News

Oleh sebab itu, wajar bila Poerbatjaraka menyamakan tokoh Maharaja dengan Ratu Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja. Alhasil tokoh Sri Baduga Maharaja dianggap gugur di Bubat. Kuncinya berada dalam kata rancamaya, bagaimana juga Rancamaya adalah nama tempat.

Berdasarkan posisinya dari Pakuan Pajajaran, dapat dipastikan Rancamaya yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan tentu adalah Desa Rancamaya jauhnya kurang lebih 7 kilometer tenggara Kota Bogor.

Sri Baduga Maharaja adalah cucu Wastu Kencana, sedangkan Maharaja yang gugur di Bubat ternyata ayah Wastu Kencana. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa masa hidup Sri Baduga Maharaja setelah terjadinya Perang Bubat. Ketika Perang Bubat terjadi konon, Sri Baduga Maharaja belum ada di dunia. Maka mustahil jika ia turut ikut di Perang Bubat, bahkan meninggal dalam perang.

Sejak Wastu Kencana memerintah hingga Raja Pajajaran terakhir, masa pemerintahan kedelapan raja jumlahnya 206 tahun. Selisih waktu antara Perang Bubat dan runtuhnya Pajajaran akibat serangan Banten adalah 222 tahun.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini