Share

Januari hingga Juli 2022, BNPB: 2.579.498 Jiwa Mengungsi dan 124 Tewas Akibat Bencana

Dimas Choirul, MNC Media · Senin 01 Agustus 2022 11:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 01 337 2639832 januari-hingga-juli-2022-bnpb-2-579-498-jiwa-mengungsi-dan-124-tewas-akibat-bencana-SFuHfGsvJw.jpg Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 2.152 kali bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Juli 2022.

"Sampai tanggal 31 Juli 2022 tercatat jumlah kejadian bencana sebanyak 2.152 kejadian," tulis laporan BNBP melalui akun Twitternya @BNPB_Indonesia, dikutip Senin (1/8/2022).

BACA JUGA:Kepala BNPB Tinjau Penanganan Bencana Banjir Bandang Parigi Moutong 

Adapun kejadian bencana alam yang mendominasi adalah cuaca ekstrem, banjir, dan tanah longsor. Rinciannya, bencana banjir terjadi sebanyak 845 kali, tanah longsor 400 kali, cuaca ekstrem 742 kali.

Sementara itu, gempa bumi terjadi sebanyak 13 kali, kebakaran hutan dan lahan 132 kali dan gelombang pasang dan abrasi 11 kali.

"Dari dampak bencana alam tersebut menimbulkan korban meninggal dunia 124 jiwa, hilang 23 jiwa, 703 luka-luka dan terdampak dan mengungsi 2.579.498 jiwa," tutup laporan itu.

BACA JUGA:Wapres Ungkap 99,5% Bencana di Indonesia Merupakan Hidrometeorologi 

Sebelumnya, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan tren bencana alam pada 2022 ini merupakan hidrometeorologi basah, dan terjadi hampir di seluruh pulau yang ada Indonesia.

"Dominannya di 2021 kita hidrometeorologi basah sehingga ini menjadi perhatian kita karena tren ini juga kemudian terjadi di 2022," ujarnya dalam konferensi pers, beberapa waku lalu.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Untuk itu, pihaknya telah memetakan tujuh provinsi yang paling sering terjadi bencana alam hidrometeorologi basah. Ketujuh provinsi itu yakni, Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Untuk itu, BNPB mengimbau bagi pemerintah daerah di tujuh provinsi tersebut agar benar-benar memerhatikan kondisi lingkungannya untuk dibenahi secara kolektif.

"Kami meminta untuk melihat kembali kondisi lingkungan, kondisi sungai, kondisi alam pegunungan yang selama ini menjadi daerah tangkapan air daerah resapan air, kondisi daerah sepanjang aliran sungai yang mungkin selama ini terjadi penyempitan terjadi pendangkalan itu harus benar-benar kita benahi bersama selanjutnya," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini