Share

Perseteruan Bikin Ibu Kota Kerajaan Sunda Pindah-Pindah

Avirista Midaada, Okezone · Senin 01 Agustus 2022 06:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 01 337 2639680 perseteruan-bikin-ibu-kota-kerajaan-sunda-pindah-pindah-ib52EKvX89.jpg Ilustrasi (Foto : Istimewa)

IBU kota Kerajaan Sunda konon selalu berpindah-pindah setelah pergantian kekuasaan. Bahkan sejak masih berdiri sendiri-sendiri dengan Kerajaan Galuh, kerajaan di Jawa Barat ini selalu memindahkan ibu kotanya.

Tercatat pemindahan diawali pergolakan kekuasan sejak 852 Masehi di Kerajaan Galuh yang masih berdiri sendiri. Lambat laun, akhirnya orang-orang Galuh berkuasa di Sunda.

Hal ini berawal dari tahta Galuh yang jatuh kepada keturunan Banga, yaitu Rakeyan Wuwus yang beristrikan Puteri Galuh. Sebaliknya adik perempuan Rakeyan Wuwus menikah dengan putra Galuh, yang kemudian menggantikan kedudukan iparnya sebagai raja Sunda IX dengan gelar Prabu Darmaraksa Buana.

Kehadiran orang Galuh sebagai raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum. Sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Hal ini berujung pembunuhan Prabu Darmaraksa oleh seorang Menteri Sunda yang fanatik.

Pasca peristiwa ini dikisahkan Saleh Danasasmita pada bukunya "Menemukan Kerajaan Sunda", tiap raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Hal ini memuat pusat pemerintahan selalu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya.

Bahkan di antara tahun 895 sampai 1311 kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring - iringan rombongan raja baru yang pindah tempat. Ayah Sri Jayabupati berkedudukan di daerah Galuh, Sri Jayabupati di Pakuan, tetapi putranya berkedudukan di Galuh lagi.

Dua raja berikutnya yaitu raja Sunda ke-22 dan ke-23 memerintah di Pakuan. Tapi raja ke-24 memerintah di Galuh dan raja ke-25 yaitu Prabu Guru Darmasiksa mula-mula berkedudukan di Saunggalah, kemudian berpindah ke Pakuan.

Putranya Prabu Ragasuci berkedudukan di Saunggalah dan dipusarakan di Taman, Ciamis. Betapa pun repotnya hal itu menurut pandangan kita, namun pengaruhnya positifnya jelas dalam hal pemantapan etnik di Jawa Barat. Di antara Galuh dengan Sunda memang terdapat kelainan dalam tradisi.

Bahkan ada yang menyebut, Orang Galuh itu seperti orang air, sedangkan orang Sunda itu orang gunung, yang satu memiliki mitos buaya, yang satunya mitosnya harimau. Bahkan secara tradisi penyemayaman jenazah pun berbeda - beda.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini