Share

5 Tokoh Indonesia 'Berdarah Biru', Bapak Pers Nasional Salah Satunya

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Jum'at 22 Juli 2022 08:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 22 337 2634113 5-tokoh-indonesia-berdarah-biru-bapak-pers-nasional-salah-satunya-u5d0UsC7IM.jpg Tirto Adhi Soerjo (Foto : ensiklopedia.kemendikbud)

DALAM kebudayaan Jawa, priyayi merupakan sebutan bagi orang-orang golongan kelas atas berdarah bangsawan. Di kehidupan sosial masyarakat, golongan berdarah biru ini sangat dihormati karena termasuk ke dalam keturunan raja.

Namun, seiring berjalannya waktu, kata priyayi tidak hanya dipakai untuk para keturunan raja. Rakyat biasa yang bekerja di bidang administratif pun dapat disebut sebagai priyayi. Priyayi telah menjadi ciri kebudayaan sosial yang khas dalam kehidupan budaya Jawa Tengah. Berikut tokoh-tokoh nasional yang merupakan seorang priyayi.

1. Tirto Adhi Soerjo

Dikenal sebagai Bapak Pers Nasional, Tirto Adhi Soerjo lahir sebagai seorang priyayi dengan nama Raden Mas Djokomono. Tirto merupakan anak kesembilan dari Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro, seorang pegawai kantor pajak yang kelak menjadi bupati. Dia juga masih keturunan langsung Kadipaten Mangkunegara dari pihak nenek, Raden Ayu Tirtonoto, yang merupakan cucu Mangkunegara I.

Siapa sangka di balik karier jurnalistiknya yang cemerlang, ternyata Tirto merupakan lulusan sekolah kedokteran. Kariernya dimulai ketika ia memimpin sebuah surat kabar buatannya sendiri, Soenda Berita. Sebagai jurnalis, Tirto menjadi orang pertama yang menyebarkan propaganda melalui surat kabar. Berkat jasanya di bidang jurnalistik, Tirto Adhi Soerjo ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada tahun 2006.

2. RM Suryopranoto

Dikenal sebagai Raja Pemogokan, Raden Mas Suryopranoto berperan besar dalam memimpin aksi buruh dalam melakukan aksi pemogokan. Aksi mogok kerja tersebut sebagai bentuk perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda. Suryopranoto lahir dalam lingkungan keluarga Keraton Pakualaman. Dia adalah putra dari Kanjeng Pangeran Aryo Suryaningrat, putra tertua dari Sri Paduka Pakualaman III. Suryopranoto juga merupakan kakak dari Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara.

Melihat ketidakadilan yang dirasakan para buruh pribumi saat itu, Suryopranoto melakukan perlawanan kepada pengusaha-pengusaha besar Belanda. Melihat segala usaha yang dilakukan Raja Pemogokan itu, para industriawan Belanda mulai khawatir, terutama saat aksi mogok mulai dilakukan. Berkat jasa-jasanya, RM Suryopranoto ditetapkan sebagai pahlawan nasional ketiga yang ditetapkan oleh Soekarno pada tahun 1959.

3. Raden Mas Panji Sosrokartono

Di balik harumnya nama Kartini, terdapat sosok kakak yang selalu mendukungnya. Dia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono. Sosrokartono merupakan pangeran jenius lulusan Universitas Leiden yang telah melanglang buana di negeri Eropa. Ayahnya adalah Bupati Jepara, Raden Mas Ario Samingun, dan ibunya bernama Ngasirah.

Di saat dunia memuja kecerdasannya, dirinya malah terluntang-lantung di Tanah Air sendiri. Kecerdasan yang dulu dipuja orang-orang Eropa, justru menjadi bumerang bagi dirinya. Pemerintah Belanda mencurigai Sosrokartono dan memberi cap pada dirinya sebagai seorang komunis. Karena fitnah itu, kakak Kartini tersebut harus hidup terlunta-lunta tanpa pekerjaan dengan uutang yang menumpuk. Karena fitnah tersebut, Sosrokartono sampai terkena lumpuh hingga ia mengembuskan napas terakhirnya.

4. Raden Dewi Sartika

Selain Kartini, ada sosok pahlawan emansipasi lainnya yang memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia. Dia adalah Raden Dewi Sartika. Dewi merupakan putri dari pasangan Raden Somanegara dan R.A. Rajapermas dari Cicalengka. Keluarganya merupakan priyayi Sunda yang ternama.

Sama halnya dengan Kartini, Dewi merasa perempuan Sunda mengalami keterbelakangan dalam beberapa faktor. Karena hal itulah, Dewi Sartika ingin mengangkat derajat kaum wanita melalui pendidikan. Untuk memperjuangkan kesetaraan bagi kaum perempuan, Dewi Sartika membangun Sekolah Isteri untuk memberikan pendidikan pada anak perempuan. Atas jasanya tersebut, Dewi Sartika diberi penghargaan pahlawan nasional pada tahun 1966, tepat 19 tahun setelah dirinya mengembuskan napas terakhir.

5. Dr Sutomo

Dokter Sutomo dikenal atas perannya dalam membangun organisasi pemuda Budi Utomo. Sutomo lahir dari keluarga priyayi dan pejabat pemerintahan. Dia adalah putra dari pasangan Raden Suwaji dan Raden Ayoe Soedarmi, serta cucu dari Raden Nganten Singawijaya.

Usai lulus dari sekolah dokter STOVIA, ia terjun langsung ke masyarakat daerah untuk memberi pengobatan gratis. Sutomo bersama mahasiswa STOVIA lainnya bekerjasama membentuk Budi Utomo, organisasi yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Tanggal terbentuknya Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Berkat jasanya, dr Sutomo ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1961. (Mirsya Anandari Utami-Litbang MPI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini