Share

4 Pahlawan Indonesia yang Berjuang Sebelum Tahun 1908

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Selasa 19 Juli 2022 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 18 337 2631865 4-pahlawan-indonesia-yang-berjuang-sebelum-tahun-1908-Maat6cmdyr.jpg Pangeran Diponegoro (foto: dok wikipedia)

JAKARTA - Sudah sejak lama pahlawan Indonesia melakukan perlawanan demi kemerdekaan Indonesia. Di antara mereka, ada yang telah berjuang sebelum masa kebangkitan nasional. Berikut adalah pahlawan-pahlawan Indonesia yang berjuang sebelum tahun 1908.

1. Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah salah satu pahlawan penting di Indonesia yang terkenal memimpin Perang Jawa di tahun 1825 sampai 1830. Ia lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 dan wafat di Makassar pada 8 Januari 1855.

Berlandaskan pada Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah bertajuk ‘Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830’, peristiwa ini merupakan perang besar pertama, di mana pemerintah kolonial harus menghadapi usaha pemberontakan sosial yang mencakup bagian besar di pulau tersebut. Adapun masyarakat Jawa yang tewas akibat perang tersebut mencapai 200 ribu jiwa.

Selain itu, seperempat wilayah Jawa juga mengalami kerusakan hebat. Perang Jawa dianggap sebagai momen bangkitnya masyarakat Jawa dalam melawan pemerintah Belanda di masa itu. Sayangnya, perang ini dimenangi oleh pihak Belanda akibat jumlah pasukan yang tidak sesuai. Jenderal de Kock berhasil menyudutkan pasukan Diponegoro yang ada di Magelang.

Pangeran Diponegoro pun bersedia menyerah dengan syarat bahwa sisa pasukannya harus dilepas. Pejuang tangguh itu kemudian diasingkan di Manado dan dipindah ke Makassar sampai menutup mata. Ia dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 6 November 1973, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 87/TK/1973.

2. R.A Kartini

Pahlawan emansipasi perempuan di Nusantara, R.A Kartini juga berjuang sebelum tahun 1908. Perempuan kelahiran Jepara, 21 April 1879 itu merupakan putri Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningkat dan Mas Ajeng Ngasirah.

 BACA JUGA:Wasiat Sosrokartono, Guru Spiritual Soekarno yang Juga Kakak RA Kartini

Sejak kecil, ia dikenal akti dan kritis. Kepribadiannya berbeda dari saudara-saudaranya dan sangat menyenangi kegiatan menulis. Kartini juga gemar melakukan aktivitas surat menyurat dengan sahabat penanya di Belanda. Ia lantang menyuarakan bahwa perempuan harus mendapatkan hak dan pendidikan setara dengan kaum pria.

Dalam Jurnal Humanitas dengan judul ‘Pemikiran dan Perjuangan Raden Ayu Kartini Untuk Perempuan Indonesia’, disebutkan bahwa Kartini mengirimkan surat kepada Nyonya Abendanon pada 21 Januari 1901. Dalam surat itu, Kartini mengatakan bahwa perempuan adalah pendukung peradaban. Perempuan diyakininya mampu membawa pengaruh besar dan dampak positif bagi kemajuan bangsa.

Kartini wafat pada 17 September 1904, tepat 4 hari usai melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat. Ia mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden No. 108 tertanggal 2 Mei 1964.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia


3. Tuanku Imam Bonjol

 

Tuanku Imam Bonjol merupakan pahlawan nasional yang diangkat pada 6 November 1973. Ia adalah ulama, pejuang, dan pemimpin dalam Perang Padri (sebuah perang melawan Belanda) di tahun 1803 sampai 1838.

Tuanku Imam Bonjol lahir di Luhak Agam, 1 Januari 1772 dengan nama asli Muhammad Syahab dan merupakan anak tunggal pasangan Bayanuddin Syahab serta Hamatun. Sosok Tuanku Imam Bonjol sudah dipandang bersahaja sejak dini, sebab keluarganya merupakan alim ulama.

Ayahnya, adalah alim ulama asal Lima Puluh Kota dan merupakan pedagang yang sering merantau. Tak heran bila ia pernah bersekolah di Sekolah Rakyat Desa (setingkat SD) di Malaysia pada tahun 1779.

Demi berjuang melawan penjajahan Belanda, Tuanku Imam Bonjol berniat menjadikan agama Islam sebagai media perjuangannya dan mendirikan Tarekat Naqsyabandiyah. Sementara itu, ia juga memimpin Perang Padri di bumi Minangkabau. Tuanku Imam Bonjol wafat pada 6 November 1864 di Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara.

4. Sultan Hasanuddin

Sultan Gowa ke-16, Hasanuddin, lahir di Makassar, 12 Januari 1631. Ia merupakan anak kedua Sultan Malikussaid (Raja Gowa ke-15) dan I Sabbe To’mo Lakuntu, seorang putri bangsawan Laikang. Hasanuddin kecil terlihat lebih menonjol ketimbang saudara-saudaranya. Ia lebih cerdas, berani, dan pandai bergaul. Sultan berjuluk ‘Ayam Jantan dari Timur’ ini terkenal sangat keras menentang hadirnya VOC.

Melansir laman Kemdikbud, VOC menemui kesulitan saat ingin melakukan monopoli perdagangan di Gowa. Sebab, Sultan Hasanuddin tak setuju dan menentang keras monopoli dagang yang dilakukan VOC. Pria bernama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe itu mulai melakukan perlawanan terhadap VOC di tahun 1660.

Meskipun tidak berhasil mengusir VOC, namun Sultan terkenal itu tak pernah sekalipun melakukan kerja sama dengan Belanda, seumur hidupnya. Ia wafat pada 12 Juni 1670 di Gowa. Atas jasa-jasanya, pemerintah menetapkan Sultan Hasanuddin menjadi pahlawan nasional melalui Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini