Share

Dipecat dari Polri, Ini Sepak Terjang AKBP Brotoseno dari Asmara hingga Korupsi

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 15 Juli 2022 19:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 15 337 2630411 dipecat-dari-polri-ini-sepak-terjang-akbp-brotoseno-dari-asmara-hingga-korupsi-d9h7Ejydq0.jpg Raden Brotoseno (foto: dok ist)

JAKARTA - Mabes Polri memutuskan memecat tidak hormat AKBP Raden Brotoseno dalam sidang peninjauan kembali (PK), terhadap putusan etik yang sebelumnya telah dijatuhkan kepada perwira menengah tersebut.

Brotoseno diketahui merupakan mantan narapidana kasus korupsi cetak sawah di Ketapang, Kalimantan Barat. Meski demikian, ia tetap dipertahankan oleh Korps Bhayangkara dalam putusan etik awal.

 BACA JUGA:Sidang KKEP PK Rampung, Polri Resmi Pecat Raden Brotoseno

Sebelumnya, pria bernama lengkap Raden Brotoseno bin R. Bambang Prijo Sudibjo itu diketahui memiliki sejumlah kontroversi dan berikut daftarnya yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber :

1. Brotoseno Menjalin Asmara dengan Angelina Sondakh

 

AKBP Raden Brotoseno dikabarkan nikah siri dengan Angelina Sondakh, saat Angie dipenjara karena terbukti terlibat kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet SEA Games 2011 di Palembang, Sumatera Selatan. Jalinan asmara Angie dengan Brotoseno berawal dari kasus tersebut.

 BACA JUGA:Polri Janji Sidang Komisi Kode Etik PK AKBP Brotoseno Transparan

Bermula Brotoseno yang waktu itu masih berpangkat Komisaris Polisi (Kompol) ikut dalam operasi tangkap tangan atau OTT terhadap Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga, Wafid Muharram, di kantor Kemenpora, Jakarta, 21 April 2011.

Selanjutnya, sejumlah orang pihak swasta, petinggi Partai Demokrat, hingga Menteri Pemuda dan Olahraga pada saat itu, Andi Alfian Mallarangeng jadi tersangka. Dalam kasus ini, Angie awalnya menjadi saksi. Dari situlah benih-benih cinta mulai bersemi hingga akhirnya jadi bahan gosip di internal KPK.

Pejabat KPK yang saat itu dipimpin Ketua, Abraham Samad mengakui adanya hubungan asmara antara penyidiknya dengan Angelina Sondakh. Rupanya hubungan asmara tersebut merusak citra KPK karena penyidik yang seharusnya menangani perkara secara adil, malah menjalin hubungan asmara.

2. KPK Pulangkan Brotoseno ke Polri

Akibat cinta terlarang, Brotoseno Kemudian dipulangkan ke Polri. Bahkan surat resmi pemulangan diteken oleh KPK. Brotoseno kemudian dimutasi ke bagian sumber daya manusia (SDM) Polri.

Hal itu tertuang dalam surat telegram Kapolri bernomor 2433/XII/2011 bertanggal 20 Desember 2011.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

3. Brotoseno Ditangkap karena Korupsi

 

Bareskrim Mabes Polri menangkap Brotoseno karena diduga menerima uang dari pengacara kasus dugaan korupsi cetak sawah fiktif di Kalimantan. Pemberian uang tersebut diduga mencapai Rp1,9 miliar dari total yang dijanjikan Rp3 miliar yang merupakan inisiatif dari pengacara, pada 11 November 2016. Saat itu, dia langsung ditahan di Rutan Mapolda Metro Jaya.

4. Divonis 5 Tahun Penjara

 

Brotoseno digiring ke meja hijau, jaksa menuntutnya dengan tuntutan tujuh tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider enam bulan kurungan. Namun ia berdalih, uang suap diterimanya sebagai jalan untuk membiayai pengobatan orangtua, dan bukan sebagai tindak pidana suap.

Majelis Pengadilan Negeri Tipikor Jakarta kemudian memvonis Raden Brotoseno penjara selama lima tahun dan denda Rp 300 juta subsider pidana kurungan tiga bulan.

"Menyatakan bahwa Brotoseno telah terbukti secara sah dan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama," ujar Ketua Majelis Hakim Baslin Sinaga, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (14/6/2017).

Raden Brotoseno ditahan di Lapas Kelas 1 Cipinang sejak 18 November 2016 terkait kasus korupsi cetak sawah fiktif di Ketapang, Kalimantan Barat.

5. Brotoseno Bebas Bersyarat

 

Brotoseno menghirup udara bebas bersyarat pada 15 Februari 2020 lalu, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor PAS-1052.OK.01.04.06 Tahun 2019 tentang Pembebasan Bersyarat Narapidana serta pidana denda Rp 300.000.000,- subsidair 3 bulan telah habis dijalankan.

Kabag Humas dan Protokol Dirjen Pas, Rika Apriyanti menyebut pembebasan Raden Brotoseno sudah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

"Yang bersangkutan juga telah membayar pidana denda Rp 300 juta subsider 3 bulan," kata Rika.

Rika menambahkan, Brotoseno telah memenuhi syarat administratif dan substantif untuk mendapatkan hak remisi dan pembebasan bersyarat sesuai dengan Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 3 Tahun 2018.

"Selama menjalankan pembebasan bersyarat, yang bersangkutan berada dalam bimbingan Balai Pemasyarakatan Jakarta Timur-Utara sebagai Klien Pemasyarakatan," kata Rika.


6. Brotoseno Masih aktif di Polri

Rupanya Brotoseno masih aktif di lingkungan Polri sekali pun sebagai bekas tanahan narapidana korupsi. Hal itu diketahui pasca-ICW menyurati Irjen Wahyu Widada. Isi surat ICW berkaitan dengan permintaan klarifikasi status Raden Brotoseno di kepolisian, pada awal Januari 2022.

"Hal ini kami sampaikan karena diduga keras yang bersangkutan kembali bekerja di Polri dengan menduduki posisi sebagai Penyidik Madya Dittipidsiber Bareksrim Polri,” kata Kurnia.

Sementara itu, Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo menegaskan, dari sidang KKEP tersebut, Raden Brotoseno tidak dipecat sebagai personel kepolisian.

"Adanya pernyataan atasan AKBP R. Brotoseno dapat dipertahankan menjadi anggota Polri dengan berbagai pertimbangan prestasi dan perilaku selama berdinas di kepolisian," kata Sambo kepada awak media, Jakarta, Senin (30/5/2022).

Sambo menjelaskan, dalam KEPP itu hasil penegakan bentuk pelanggaran KKEP AKBP R. Brotoseno adalah tidak menjalankan tugas secara profesional, proporsional dan prosedural dengan wujud perbuatan saat menjabat Kanit V Subdit III Dittipidkor Bareskrim Polri yakni menerima suap dari tersangka kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi.

Atas dasar itu, akhirnya Kapolri merevisi Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 12 tahun 2011 Tentang ‘Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia’ dan Perkap Nomor 19 Tahun 2012 Tentang ‘Susunan Organisasi dan Tata Kerja Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia’.

7. Brotoseno Dipecat Tak Hormat dari Kepolisian

 

Sidang Kode Etik Polri Peninjauan Kembali (KKEP PK) AKBP Raden Brotoseno telah selesai. Sidang yang digelar pada Jumat (8/7) lalu itu mengeluarkan keputusan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap Brotoseno dari anggota Kepolisian.

"Sanksi administratif berupa PTDH. Saya ulangi menjadi sanksi administratif berupa PTDH sebagai anggota Polri," ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Nurul Azizah.

Selanjutnya, kata Nurul, hasil putusan KKEP PK itu bakal dikirimkan kepada bidang sumber SDM Polri untuk diterbitkan keputusan PTDH Brotoseno.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini