Share

Momen Pasukan Mongol Tagih Janji Perang Berujung Kemenangan Raden Wijaya

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 12 Juli 2022 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 12 337 2627842 momen-pasukan-mongol-tagih-janji-perang-berujung-kemenangan-raden-wijaya-YmSpJOJoVP.jpg Raden Wijaya

RADEN Wijaya membalaskan dendam dengan menyerbu Kerajaan Kediri. Penyerbuan yang digalang bersama oleh pasukan Mongol dari Tiongkok ini membuahkan hasil.

Istana Daha di ibu kota kerajaan bisa ditaklukkan. Bahkan Raja Jayakatwang yang sebelumnya menyerbu Singasari dan menghabisi takhta mertua Raden Wijaya, juga mati terbunuh. Tak hanya itu, pejabat utama Kerajaan Kediri turut terbunuh.

Namun, mirisnya ratu Kediri dan putri Daha yang cantik jelita juga turut mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kematian dua perempuan ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Raden Wijaya. Pasalnya di perjanjian awal dengan Shih-Pi, pimpinan pasukan Mongol, jika kemenangan diraih maka pasukan Mongol bakal membawa serta putri Kediri dan sebagian harta rampasan perang.

Sayangnya, kematian putri Kediri membuat Raden Wijaya sedikit mengubah strateginya. Apalagi di dalam istana Daha masih ada Gayatri, perempuan anak dari Raja Kertanagara yang juga tengah dikejar untuk menjadi calon istri Raden Wijaya.

Raden Wijaya sesegera mungkin mengambil Gayatri dari istana Daha. Ia memanfaatkan momentum pasukan Mongol yang tengah berpesta pora usai kemenangan penaklukan Kediri. Namun, gelagat Raden Wijaya ini tercium pasukan Mongol.

Sebagaimana dikutip dari buku "Gayatri Rajapatni : Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit", pasukan Mongol yang mendapat kabar itu akhirnya menuju Majapahit untuk meminta kejelasan kepada Raden Wijaya. Di sisi lain sahabat setianya Arya Wiraraja berusaha meyakinkan Shih-Pi Raden Wijaya tidak ingkar janji.

Arya Wiraraja menjelaskan kepada pimpinan pasukan Mongol bahwa putri Daha yang masuk dalam perjanjian itu telah tewas. Oleh karena telah tewas maka kewajiban Raden Wijaya hanya memberikan sebagian harta rampasan perang dari Kediri. Perihal Gayatri itu bukanlah bagian dari perjanjian yang dimaksudkan Raden Wijaya.

Namun, pasukan Mongol terlanjur tak percaya, pasukan Mongol pun menyerbu Majapahit. Tuntutan agar putri Jawa diserahkan kepada pasukan Mongol membuat rakyat Majapahit bergejolak.

Pada akhirnya pasukan Mongol sebagian yang habis berperang dengan Kediri harus berperang kembali di Majapahit. Rakyat Majapahit yang awalnya tenang dikisahkan pada Kidung Harsa Wijaya, turut angkat senjata akibat melihat pasukan Mongol menerobos dinding keraton. Pertempuran berlangsung sengit dan diakhiri kekalahan Mongol.

Sebagian besar pasukan Mongol tewas dan sisanya ditahan. Pada saat bersamaan markas mereka di Changgu diserang. Kapal-kapal mereka di Sungai Brantas dihancurkan. Pasukan Mongol yang tengah larut merayakan kemenangan di Daha tak menyadari adanya serangan dari Majapahit dan bantuan tentara dari Arya Wiraraja.

Mereka yang masih bertahan di Daha diserang dari selatan. Selanjutnya mereka kabur ke utara, dan terus dikejar dan diserang habis-habisan oleh pasukan Raden Wijaya dan Arya Wiraraja. Mereka yang sudah terhimpit akhirnya kabur hingga sampai ke pantai, di situlah akhirnya mereka menarik sauh dan langsung berlayar pulang, serta membawa serta ratusan tahanan daei Daha.

Setelah kekalahan itu pasukan Mongol tak pernah lagi mendaratkan pasukan dan mengusik wilayah di Jawa, terlebih pasca kematian Kubilai Khan akibat perang. Pasukan Mongol yang selama ini perkasa dan terkenal selalu memenangkan pertempuran akhirnya kalah, karena kurang berpengalaman sengatan udara tropis.

Hal itu ditambah dengan larangan beristirahat di Champa, tempat pemberhentian yang telah mereka jadwalkan. Hal itu diakui membuat sebagian prajurit Mongol sudah kelelahan menempuh perjalanan jauh.

Di luar itu strategi Raden Wijaya begitu mengagumkan. Keuletan, kecerdikan, dan keberaniannya, mampu mengatasi musuh-musuh dari dalam maupun luar dan mendirikan kerajaan baru bernama Majapahit.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini