Share

Kisah Jenderal Benny Moerdani dalam Peristiwa Tanjung Priok, Ini yang Disampaikan kepada Prajurit yang Menembak!

Tim Okezone, Okezone · Rabu 06 Juli 2022 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 06 337 2624461 kisah-jenderal-benny-moerdani-dalam-peristiwa-tanjung-priok-ini-yang-disampaikan-kepada-prajurit-yang-menembak-oGNX8RscXe.jpg Benny Moerdani. (Foto: Unkris)

JAKARTA - Nama Jenderal Benny Moerdani melekat erat dengan peristiwa kerusuhan Tanjung Priok yang terjadi pada 12 September 1984.

Dalam peristiwa itu, oknum aparat TNI yang dulu bernama ABRI menembaki warga sipil secara membabi buta. Diperkirakan puluhan nyawa melayang dalam peristiwa berdarah di Tanjung Priok itu.

Saat peristiwa kerusuhan anjung Priok pecah, Panglima ABRI kala itu dijabat LB Benny Moerdani. Sejak tragedi itu, sentimen anti-Islam terhadap Benny Moerdani menguat mengingat Benny seorang beragama Katolik.

Dikutip dari buku Benny Moerdani yang Belum Terungkap, Letjen Marinir (Purn) Nono Sampono, ajudan Benny pada 1983-1988, mengaku mendengar kabar dari Kodam Jaya tentang adanya gerakan pada Rabu 12 September 1984 sore melalui radio monitor.

Sesampainya di kantor Polres Jakut, Benny langsung menginterogasi belasan prajurit Artileri Pertahanan Udara.

"Coba kamu ceritakan apa yang terjadi. Bagaimana kamu bisa nembak orang?" ujarnya menirukan Benny.

Setelah mendapat penjelasan, Benny menilai tindakan prajurit sesuai dengan prosedur. Prajurit TNI itu, kata Nono, juga menggunakan senjata semi otomatis buatan PT Pindad, bukan M16, sehingga tak ada tembakan berondongan seperti disebutkan.

"Walau saya bilang tepat, kamu jangan sombong, karena yang kamu tembak ini saudaramu sendiri," kata Nono menirukan Benny lagi.

Di sisi lain, Albert Hasibuan yang merupakan mantan anggota Komisi Penyelidik dan Pemeriksa Pelanggaran HAM Tanjung Priok menguraikan proses pemeriksaan Benny.

"Benny datang dalam kondisi fisik yang payah. Sudah tak bisa ngomong," kata Albert.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Pada Kamis siang, 4 Mei 2000, Benny datang memenuhi panggilan pemeriksaan soal dugaan pelanggaran HAM di Tanjung Priok.

Pensiunan jenderal bintang empat itu diperiksa bersama mantan Panglima Kodam Jenderal Purn Try Sutrisno dan mantan Kapolda Mayor Jenderal Purn Sudjoko. Mereka didampingi Kepala Badan Pembinaan Hukum Mayor Jenderal TNI Timur Manurung.

Menurut Albert, sebagai orang yang diduga bertanggung jawab atas peristiwa berdarah pada 12 September 1984, Benny tak berbicara sedikit pun dalam pemeriksaan.

Selama sekitar satu jam sejak pukul 14.30, tim pemeriksa hanya mendengarkan keterangan tertulis. "Ajudan yang membaca kan selembar kertas pernyataan Benny".

Dalam pernyataan tersebut, Benny menyatakan tak mengetahui terjadinya bentrokan massa dengan aparat militer pada malam itu. Dia menyatakan baru mengetahui dua jam kemudian setelah dikabari Try Sutrisno.

Letupan di Priok bermula dari dua aparat bintara pembina desa komando rayon militer setempat yang dituduh memasuki Musala Assa'adah di Gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara, tanpa membuka alas kaki pada 8 September. Keduanya lalu mencopot pamflet undangan pengajian remaja di Jalan Sindang Raya dan menyiram dinding musala dengan air comberan.

Bentrokan pun terjadi. Korban berjatuhan di depan kantor polisi. Amir bersama dua rekannya yang menjadi perwakilan juga ditembak di halaman markas Kodim. Keluarga korban mengklaim korban tewas dan terluka mencapai ratusan orang.

Mantan anak buah Benny menampik keras tuduhan itu. Ia menuturkan kasus Priok merupakan tanggung jawab Panglima Kodam Jaya. Semestinya Try Sutrisno yang turun tangan. Tapi, dalam kasus ini, Soeharto memerintahkan Benny menanganinya agar Ibu Kota tenang. "Repot karena Pak Benny seorang kristiani," katanya.

Try Sutrisno memastikan tak ada perintah penembakan. "Ada rakyat spontan emosi. Akhirnya mau bakar Kodim, Polres, sampai ada korban," ucap Try, pertengahan September 2014. Dalam kasus ini, kata dia, tak ada pelanggaran HAM karena tak terpenuhi unsur ada perintah atasan serta kejadian meluas dan sistematis.

Benny saat itu lantas ke terminal kontainer barang di Tanah Merah. Sambil mengetuk-ngetuk kontainer, dia berkata, "Inilah sebab-musabab masalah itu." Menurut Benny, warga beringas karena pemerintah main gusur demi membangun dermaga pelabuhan kontainer.

Benny meminta Menteri Agama Munawir Sjadzali saat itu mengumpulkan tokoh agama di Jakarta. Pada Kamis malam, 13 September, hadir sejumlah tokoh dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Dalam rapat muncul kekhawatiran terjadi gejolak kalau jumlah korban diumumkan apa adanya.

"Ini jumlah korban sesungguhnya 28. Saya kembalikan kepada Bapak-Bapak apakah angka ini saya sebutkan," ujar Benny.

Rapat sepakat jumlah korban dikorting lima, sesuai dengan Pancasila. Tapi, dalam rapat Dewan Perwakilan Rakyat, Benny menyampaikan angka sebenarnya. Belakangan, total korban tewas disebut 33 orang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini