Share

Pecahnya Wilayah Kekuasaan Tarumanagara hingga Jadi Kerajaan Sunda dan Galuh

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 05 Juli 2022 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 05 337 2623634 pecahnya-wilayah-kekuasaan-tarumanagara-hingga-jadi-kerajaan-sunda-dan-galuh-vl5RVjMCU7.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Jauh sebelum Kerajaan Sunda ada di tanah Jawa Barat sudah terdapat Kerajaan Tarumanagara. Bahkan Kerajaan Tarumanagara inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Sunda yang akhirnya membawa besar nama Prabu Siliwangi.

Prasasti Kebon Kopi II yang berangka tahun 1932 dan ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu kuno menyebutkan secara eksplisit bahwa berdirinya Kerajaan Sunda, tak lepas dari ikut campur Kerajaan Tarumanagara. Prasasti Kebon Kopi II merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanagara, yang ditemukan di Desa Kebon Kopi, Kabupaten Bogor.

Dikisahkan pada buku "Perang Bubat 1279 Saka, Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit," dari Sri Wintala Achmad, bahwa menantu Raja Tarumanagara Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi menjabat sebagai raja pada 666 - 669. Saat itu konon Kerajaan Sunda telah ada dan hanya berstatus sebagai raja bawahan dari Tarumanagara.

Baca juga: Perang Bubat, Kerajaan Sunda Salahkan Dyah Pitaloka

Naskah Wangsakerta menguatkan Prasasti Kebon Kopi II yang menyebut Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 669, menggantikan Tarumanagara. Pada saat itu, Sunda membawahi beberapa wilayah yang sekarang dikenal Provinsi Banten, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Jawa Barat, dan bagian barat provinsi Jawa Tengah.

Baca juga: Prabu Siliwangi Satukan 2 Kerajaan Besar di Tanah Sunda

Diperkirakan turunnya tahta Tarumanagara pada Tarusbawa, raja Sunda yang menikahi putri sulung Linggawarman yang bernama Dewi Manasih, menjadi penyebab Wretikandayun melepaskan Galuh dari kekuasaan Kerajaan Tarumanagara. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Tarumanagara pecah menjadi dua kerajaan yakni Sunda di bawah kekuasaan Tarusbawa, dan Galuh di bawah kekuasaan Wretikandayun.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Semasa Tarusbawa menjadi raja Sunda, putra mahkotanya yang bernama Rakryan Sundasambawa meninggal dunia. Karenanya sesudah Tarusbawa mangka pada tahun 723 Masehi, tahta kekuasaan Sunda diduduki Harisdarma atau Sanjaya. Putra Bratasenawa atau cucu Wretikandayun atau putra Mandiminyak dari Galuh, dan Sannaha atau putri Kartikeyasingha dan Ratu Jay Shima dari Kalingga, yang menikah dengan Sekarkancana, putri Rakryan Sundasambawa atau cucu Tarusbawa.

Semasa pemerintahan Sanjaya, riwayat Kerajaan asunda berakhir. Oleh Sanjaya yang memerintah pada 723 - 732, menggabungkan Sunda dengan Galuh, yang berhasil direbut dari tangan pemberontak Purbasora, cucu Wretikandayun atau putra Batara Danghyang Guru Sempakwaja dari Galunggung. Hasil dari penggabungan dua negara itu, akhirnya Kerajaan Sunda, bisa disebut Kerajaan Sunda Galuh.

Kerajaan Sunda Galuh merupakan penyatuan dua kerajaan pecahan Tarumanagara di tanah Sunda yang didirikan oleh Sanjaya pada tahun 723. Namun para ahli sejarah, gabungan dua kerajaan tersebut hanya dikenal dengan nama Kerajaan Sunda.

Penyatuan Kerajaan Sunda-Galuh menjadi Kerajaan Sunda tersebut bersumber dari catatan perjalanan pertama Prabu Jaya Pakuan (Bujangga Manik) yang mengelilingi Pulau Jawa, catatan perjalanan Tome Pires, serta prasasti yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi.

Sumber - sumber tersebut menyatakan bahwa Kerajaan Sunda - Galuh yang bermula dari pemerintahan Sanjaya, hingga Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1042), lebih dikenal dengan Kerajaan Sunda.

Baca juga: Kala Hayam Wuruk Jatuh Cinta dengan Perempuan Cantik Anak Raja Sunda

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini