Share

IDI: Penggunaan Ganja Medis Perlu Kajian Mendalam

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Selasa 05 Juli 2022 00:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 04 337 2623581 idi-penggunaan-ganja-medis-perlu-kajian-mendalam-AjWLg0uBd3.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) M. Adib Khumaidi mengatakan penggunaan ganja medis saat ini masih memerlukan pengkajian yang mendalam guna memastikan keamanan dan keselamatan pasien.

"Kita harus benar-benar mengkaji ini karena setiap apa pun yang diberikan kepada kita, apalagi yang sifatnya medicine, pasti akan ada namanya efek samping dan itu tetap harus jadi perhatian kita," kata Adib dilansir Antara, Selasa (5/7/2022).

Adib melanjutkan, obat baru harus berbasis pada bukti klinis. Menurut dia, perlu dikaji apakah obat tersebut dapat dijadikan sebagai obat utama, obat pendukung yang diberikan bersamaan dengan obat lain, atau obat alternatif jika pengobatan sebelumnya tidak berhasil.

"Ini yang harus kita pahami karena dalam penatalaksanaan sebuah disease atau penyakit itu ada yang namanya golden standard, mana yang harus kita obati dan mana pengobatannya. Semuanya melewati proses berbasis bukti," jelas Adib.

Baca juga: MUI Bakal Godok Fatwa Penggunaan Ganja untuk Medis

"Jadi kita harus benar-benar mengevaluasi dalam bentuk riset, karena kepentingan kita saat ini adalah keselamatan pasien," tegasnya.

Baca juga: Thailand Sudah Legal, Kenapa Indonesia Sulit Tetapkan Ganja untuk Medis?

Adapun proses riset tersebut, kata Adib, meliputi berbagai tahapan termasuk pengumpulan jurnal-jurnal ilmiah yang sudah ada untuk dijadikan referensi, analisis data, hingga tahap uji klinis.

Follow Berita Okezone di Google News

Adib kemudian mengatakan bahwa IDI siap berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan untuk berkolaborasi membuat satu kajian ilmiah mengenai ganja medis.

"Bersama Kementerian Kesehatan, kami siap untuk berkolaborasi, untuk benar-benar membuat satu kajian based on research mengenai ini. Tapi yang paling penting, tentunya pengobatan-pengobatan yang sudah menjadi golden standard pun harus kita lakukan," ujar Adib.

"Saya kira nanti kita juga bisa libatkan para pakar, seperti pakar farmakologi untuk melakukan pengkajian ini. Kemudian lembaga-lembaga riset, semuanya, saya kira akan dilibatkan," tutur dia.

Baca juga: Wapres Tegaskan Ganja dalam Alquran Dilarang, Minta MUI Buat Kajian Terkait Penggunaan Medis

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini