Share

Kisah Tragis Perisai Hidup Soekarno: Menderita dalam Penjara hingga Diselamatkan Buya Hamka

Tim Okezone, Okezone · Senin 04 Juli 2022 12:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 04 337 2623144 kisah-tragis-perisai-hidup-soekarno-menderita-dalam-penjara-hingga-diselamatkan-buya-hamka-cPIrHcZ3fk.jpg Maulwi Saelan semasa hidup

PERISTIWA G30SPKI pada 1965 tentu tidak lepas dari Pasukan Cakrabirawa. Pasukan elite yang diresmikan Soekarno di Wina, Austria pada 6 Juli 1963 ini ikut terlibat dalam penculikan 7 Jenderal TNI di bawah komando Letkol Untung.

(Baca juga: Detik-Detik Jelang Tutup Usia, Soekarno: Allah)

 Pembentukan Cakrabirawa dilatarbelakangi oleh banyaknya kejadian penyerangan presiden yang membahayakan presiden. Hal ini terjadi akibat kurang sempurnanya pengamanan presiden pada saat itu. Kejadian yang sangat membahayakan presiden pada saat itu adalah percobaan pembunuhan saat Sholat Idul Adha 14 Mei 1962.

Pasukan pengamanan Presiden Soekarno dianggap sebagai kelompok yang bertanggung jawab terjadinya peristiwa tersebut. Mayjen Soeharto pun bergerak cepat, dan menyikat semua pasukan liar yang terlibat penculikan pada subuh berdarah tersebut.

Seluruh anggota Cakrabirawa yang terlibat ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena diduga ikut dalam gerakan makar. Dari sekian banyak anggota Cakrabirawa yang ditangkap, salah satunya adalah Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa Kolonel CPM Maulwi Saelan. Posisinya sebagai orang yang berada di ring 1 Presiden membuatnya dianggap sebagai bagian dari gerakan tersebut.

Dilansir dari “Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Soekarno”, Senin (4/7/2022) Maulwi ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo, Jakarta. Sebelum mendekam di balik jeruji besi, Maulwi mengaku sempat beberapa kali diinterogasi.

Bahkan, meski telah ditahan dan dipenjara, Maulwi tetap diinterogasi petugas untuk dimintai keterangan dalam peristiwa itu. ”Mungkin saya dianggap pentolannya barangkali, yang pertama ditahan dulu,” kenang Maulwi.

Meski telah berkali-kali menyangkal terlibat dalam gerakan tersebut, namun tidak membuat Maulwi bebas. Mantan kiper legenda Timnas Indonesia di Olimpiade Melbourne, Australia 1956 ini tetap ditahan. Dia pun harus berpindah-pindah dari satu penjara ke penjara lainnya.

Dari penjara Budi Utomo, Maulwi kemudian dipindah ke penjara Salemba, Jakarta Pusat. Di penjara itu, Maulwi ditempatkan di sebuah ruangan kecil yang sangat kotor. Tragisnya, Maulwi hanya mendapatkan jatah makan sedikit dengan kondisi yang sangat buruk.

Ruang tempat Maulwi ditahan berada di pojok. Pintu besi berlapis baja dan penjagaan yang ketat membuatnya tidak mungkin bisa lolos. Di penjara itu, Maulwi tidak boleh berkomunikasi dengan siapa pun. Bahkan, buang air juga terpaksa dilakukan Maulwi di ruangannya. Kondisi ini membuat Maulwi tidak doyan makan.

Maulwi juga sempat masukkan ke dalam ruang tahanan yang berisi para penjahat criminal untuk menjatuhkan mentalnya. Sebelum akhirnya dipindah ke Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Nirbaya. Di lapas ini, Maulwi ditahan bersama dengan Komandan Cakrabirawa Brigjen Sabur, Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Kompol Mangil dan rekan-rekan lainnya yang sama-sama dituding terlibat dalam gerakan kudeta tersebut.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, selama menjalani masa tahanan Maulwi tidak pernah mendapatkan hak-haknya sebagai tentara seperti gaji dan tunjangan. Bahkan, barang-barang berharga miliknya ikut disita petugas.

Kehidupan yang tragis, tidak berdampak kepada orangtuanya di Makassar yang masih hidup sehingga bisa membantu kehidupan keluarga Maulwi. Hingga pada pertengahan 1972, Maulwi tiba-tiba diperintahkan petugas untuk keluar dari sel. Saat itu, Maulwi diminta untuk naik sebuah mobil. Tanpa banyak tanya, lalu dia mengikuti perintah yang ditujukan kepadanya tanpa mengetahui apa yang bakal terjadi. Dalam perjalanan, Maulwi baru mengetahui jika dirinya telah bebas.

“Ternyata itu hari kebebasan. Sudah begitu aja,” kenang Pria kelahiran Makassar, 8 Agustus 1926 ini.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Setelah lima tahun menjalani masa tahanan sejak 1967, Maulwi akhirnya bisa menghirup udara bebas. Meski demikian, Maulwi tidak serta merta mendapatkan kebebasannya. Aparat tetap mewajibkan Maulwi mendatangi kantor CPM dan meminta surat keterangan resmi agar tidak dicap sebagai PKI. Tidak hanya itu, Maulwi juga tidak mendapatkan gaji atau pensiunannya sebagai tentara.

Hingga suatu ketika Maulwi bertemu dengan ulama besar Buya Hamka. Ulama besar yang berseberangan dengan Presiden Soekarno. Saat itu, Buya memercayai Maulwi untuk membantu mengurus sekolah di Kebayoran Baru. Maulwi pun berhasil membayar kepercayaan itu. Kepercayaannya kepada Maulwi, membuat Buya Hamka mengangkatnya menjadi anak angkat. Maulwi yang merasa rikuh sempat mengungkapkan jika dirinya merupakan orang dekat Soekarno yang merupakan musuh politik Buya Hamka.

Namun Buya Hamka tak mempermasalahkannya. Perlahan kehidupan Maulwi pun kembali normal. Seiring perjalanan waktu, pada Senin, 10 Oktober 2016 sekitar pukul 18.30 WIB, Maulwi mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini