Share

Wah! Perbedaan Penetapan Idul Adha Muhammadiyah-Pemerintah Bisa Sampai 2046

Muhibudin Kamali, Koran SI · Minggu 03 Juli 2022 08:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 03 337 2622630 wah-perbedaan-penetapan-idul-adha-muhammadiyah-pemerintah-bisa-sampai-2046-wptaf16sFi.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Perbedaan penetapan Idul Adha antara Muhammadiyah dan pemerintah kerap berbeda bahkan, perbedaan itu diperkirakan hingga 2046. Termasuk pada Idul Adha 1443 Hijriyah tahun ini di mana pemerintah menyatakan Idul Adha jatuh pada 10 Juli 2022, sementara Muhammadiyah lebih dulu menetapkan 9 Juli 2022.

Hal tersebut terjadi bukan semata-mata lantaran perbedaan metode hisab dan rukyat, namun juga terkait kriteria tinggi hilal.

Untuk diketahui, pemerintah menetapkan ketinggian minimal hilal 3 derajat, sedangkan Muhammadiyah asal telah terjadi konjungsi dan konjungsinya sebelum matahari terbenam maka telah ditetapkan sebagai bulan baru.

Terkait hal tersebut, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Oman Fathurohman menyatakan, perbedaan penetapan awal bulan antara pemerintah dengan Muhammadiyah semacam ini bukan hanya di Indonesia, tetapi terjadi di berbagai negara-negara di dunia.

โ€œIdul Adha yang akan datang, Muhammadiyah berbeda dengan yang ditetapkan oleh pemerintah lewat Kemenag. Perbedaan ini bukan hanya kali pertama tapi sudah kerap terjadi,โ€ tutur Oman dalam Seminar Idul Adha 1443 H di aula Masjid Islamic Center Universitah Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Minggu (3/7/2022).

Oman mencatat, dalam kurun 25 tahun ke depan, yakni dari tahun 1444 โ€“ 1468 H atau 2023 โ€“ 2046 M diprediksi akan terjadi perbedaan Idul Adha antara Muhammadiyah dan pemerintah sekitar 7 kali atau 7 tahun. Artinya, 7 kali dari 25 tahun itu berarti 25% nya berbeda dengan pemerintah. Selain itu Idul Fitri juga diprediksi akan berbeda 6 kali dan awal Ramadan 3 kali.

โ€œ25 tahun ke depan sampai tahun 2046, Muhammadiyah akan berkali-kali berbeda dengan pemerintah, kecuali kalau kriteria pemerintah berubah. Kalau kriteria masih sama maka prediksinya seperti itu. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mempersiapkannya,โ€ tutur Oman.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Sementara itu, Rektor UAD Muchlas Arkanuddin mengatakan bahwa perbedaan jatuhnya hari besar umat Islam seperti awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah merupakan suatu hal yang wajar. Perbedaan ini bukan semata-mata metode hisab dan rukyat, melainkan terkait kriteria tinggi hilal. pemerintah menetapkan 3 derajat, sedangkan Muhammadiyah kurang dari 3 derajat asal telah terjadi konjungsi dan konjungsinya sebelum matahari terbenam maka telah ditetapkan sebagai bulan baru.

โ€œDinamika perbedaan-perbedaan ini harus disikapi dengan bijak khususnya sebagai warga muhamamdiyah. Dan UAD merasa bangga telah ditunjuk sebagai host atau tuan rumah dalam seminar ini,โ€ tutur Muchlas.

Selain merespons perbedaan awal Zulhijah, seminar ini juga membahas permasalahan seputar pelaksanaan kurban, seperti berkurban 1 sapi/kerbau untuk lebih dari 7 orang, mengatasnamakan kurban untuk orang yang sudah meninggal dunia, serta inovasi dalam teknis pelaksanaannya seperti kornetisasi atau kalengisasi daging kurban hingga problem mewabahnya virus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan kurban, dan masalah-masalah lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini