Share

Pengamat Beberkan 5 Cara Antisipasi Isu Hoax di Pemilu 2024

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 01 Juli 2022 17:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 01 337 2621994 pengamat-beberkan-5-cara-antisipasi-isu-hoax-di-pemilu-2024-TCZdDCZvhb.jpg Pengamat Politik Surokhim Abdus Salam (Foto: MPI)

JAKARTA - Pengamat politik dari Surabaya Survei Center (SSC) Surokim Abdul Salam membeberkan 5 cara untuk mengantisipasi isu hoax menjelang dan saat Pemilu 2024.

Pasalnya, isu SARA menjadi hal yang paling penting untuk diwaspadai karena kerap digunakan sebagai ajang untuk menyerang kubu lawan, mengiring dan membingkai opini untuk kepentingan masing-masing.

"Tidak dipungkiri aneka hoax menjadi industri kapitalisasi hoax itu akhirnya mendatangkan keuntungan bagi beberapa pihak," kata Surokim dalam webinar Partai Perindo bertajuk 'Menghindari Politik Identitas dan Penyebaran Hoax di Pemilu 2024,' yang digelar secara hibrid di Jakarta, Jumat (1/7/2022).

Dalam posisi ini, menurutnya semua pihak harus ikut berperan aktif untuk mengantisipasinya dan memprediksi untuk menghadang berbagai persoalan krusial tersebut di Pemilu 2024.

"Di mana sesungguhnya tanggungjawab kita untuk melakukan antisipasi terkait dengan dua tahun ke depan, itu penting,"  aku Surokim.

Dikatakannya ada 5 hal penting untuk mengantisipasi isu hoax menjelang dan saat Pemilu mendatang.

Pertama, menjaga isu-isu sosialisasi dan kampanye distorsi informasi. 

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Paling tidak, harus ada ikhtiar yang lebih serius lagi dengan adanya upaya untuk mengcover agar isu-isu yang muncul di dalam sosial media agar lebih beradab.

"Berabad memahami bahwa itu (sosial media) adalah ruang publik," ujarnya.

Kedua, penting bagi seluruh pihak termasuk masyarakat untuk mendorong dan mengisi perdebatan-perdebatan di ruang publik dengan politik berbasis data dan program.

"Kita semua tahu bahwa pemilih-pemilih kita masih tradisional emosional cukup dominan, sehingga kerja kita untuk mendorong perdebatan di sosial media agar kemudian berbasis data dan program ini menjadi penting," ungkap pengajar di Universitas Trunojoyo Madura, Jawa Timur ini.

Ketiga, mendorong media untuk memberi ruang yang lebih besar untuk mengcover berita program kampanye programatik.

Alasannya, sejauh ini pemberitaan yang sifatnya gimik dan figuritas jauh lebih dominan ketimbang yang sifatnya programatik.

"Akhirnya tadi (figur) tokoh politik Jakarta akan jadi berita besar ketimbang urusan pemberian beasiswa dan bantuan UMKM," pungkasnya.

Keempat, mendorong politik substantif dan politik cerdas bermartabat berintegritas di dalam sosial media.

"Selayaknya kita elu-elukan di dalam media sosial kita," tegasnya.

Kelima, menguatkan regulasi pengawasan dan penegakkan hukum yang kuat terhadap pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang disinyalir menyebar isu hoax di sosial media dan melakukan politik indentitas serta kampanye hitam.  

"Saya kira regulasi kita tidak cukup dan akan sulit diantisipasi tanpa dilakukan pengawasan dan penegakan hukum yang kuat," katanya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini