Share

Cerita Pilu Santi Tuntut Ganja Medis Dilegalkan, Semua demi Anaknya

Erfan Erlin, iNews · Kamis 30 Juni 2022 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 337 2621211 cerita-pilu-santi-tuntut-ganja-medis-dilegalkan-semua-demi-anaknya-NdJd4tdnNo.jpg Santi Warastuti saat membawa poster di CFD Jakarta minta ganja dilegalkan untuk medis (Foto: Instagram)

YOGYAKARTA - Santi Warastuti, ibu rumah tangga asal Dusun Karangwetan, Kalurahan Tegaltirto Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman ini mendadak viral. Foto bersama anaknya dengan membawa poster tuntutan ganja medis dilegalkan di acara Car Free Day (CFD) Jakarta beredar luas di media sosial.

Ibunda Pika yang divonis oleh dokter menderita Cerebral Palsy tahun 2015 silam ini mengaku tak ambil pusing dengan pro dan kontra yang muncul soal pandangannya ini. Apalagi, pro dan kontra sudah menjadi menu wajib dari bangsa Indonesia.

Demi anaknya, ia siap menerima pandangan negatif dari siapapun tentang tuntutannya tersebut, bahkan membencinya sekalipun. Ia siap ketika nanti semua orang menjauhinya. Karena yang penting adalah perjuangan yang ia lakukan adalah demi anaknya.

"Terserah mau apa dengan aksi saya. Gini aja, jalani apa yang saya jalani selama ini. Jaga Pika sebulan saja, rasain apa yang saya rasakan selama ini. Baru boleh bersikap," tandasnya, Kamis (30/6/2022) ketika dihubungi.

Sejak pertama kali anaknya divonis menderita cerebral palsy, Santi memang tak berhenti untuk memperjuangkan kesembuhan anaknya. Rumah sakit seolah menjadi rumah kedua bagi dirinya dan juga anak perempuannya tersebut. Obat demi obat dikonsumsi oleh anak gadisnya tersebut.

BACA JUGA:Terima Aduan soal Ganja Medis, DPR Pastikan Gelar Rapat Sebelum Reses 

Ia selalu menuruti saran orang lain ketika menyebut sebuah tempat untuk kesembuhan anaknya. Ia akan datang berobat ke dokter atau fasilitas kesehatan yang bisa menyembuhkan anaknya sesuai saran dari orang-orang yang peduli kepadanya.

"Ibarat orang yang ingin hamil, apa-apa ingin dicoba. Orang ngomong coba ke sana saya ke sana, coba ke situ saya ke situ, coba makan ini, saya juga seperti itu," terangnya.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Santi mengaku sangat sedih dengan kondisi anaknya tersebut. Sama seperti anak-anak dengan cerebral palsy, memang disertai dengan epilepsi. Ketika Epilepsi sudah menyerang, maka kejang adalah hal yang sering melanda anaknya.

Santi mengatakan, perjuangan meminta ganja medis dilegalkan sebenarnya untuk meredakan kejang yang dialami Pika atau anak-anak lain dengan cerebral palsy. Karena menurut pengetahuan yang ia dapat, kejang-kejang bisa diredakan dengan ganja.

"Banyak juga anak-anak cerebral palsy kebal obat, sudah minum macam-macam tetap kejang," tuturnya.

Selama ini, bila gejala kejangnya sedang kumat, Pika akan rutin mengonsumsi obat-obat konvensional yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Namun sampai saat ini, belum ada perkembangan signifikan berkaitan dengan apa yang dialami oleh anaknya.

Menurutnya, tujuh tahun memberikan obat anti kejang kepada anaknya bukan waktu yang singkat. Oleh karenanya, ia berupaya agar anaknya mendapatkan asupan yang bisa mengobati kejang-kejang ketika epilepsi kambuh. Dan ketika ada saran bisa menggunakan ganja medis, maka ia langsung berusaha mengejarnya.

"Kalau misalnya saya sudah ke sana sini dan beri Pika obat medis yang ada di sini dan belum signifikan, kemudian ada sedikit harapan yang bisa saya berikan saya upayakan ya saya kejar harapan itu. Kenapa tidak kita upayakan, yang penting ikhtiar dulu," kata dia.

Ia tak membantah bahwa ada kekhawatiran dalam dirinya, Pika akan mengalami resistensi obat sebagai efek samping. Namun, ia berusaha menyingkirkannya, karena obat sirup yang digunakan oleh Pika sebagai obat penyakitnya dosisnya meningkat dan telah memberikan sejumlah efek samping.

"Obat yang dikonsumsi anak saya semuanya menimbulkan efek samping," kata dia.

Setelah berani berbicara lantang di media dan di lembaga tinggi seperti sekarang, Santi masih belum berpikir akan bertanya soal penggunaan ganja medis ini kepada dokter yang menangani putrinya.

"Kalau saya minta ke dokter memangnya dokter bisa kasih? Kan tidak bisa juga. Nanti kalau kasih diam-diam, ketahuan malah berkasus," kata dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini