Share

Santi Warastuti, Sosok Ibu yang Perjuangkan Ganja Dilegalkan untuk Medis Anaknya

Erfan Erlin, iNews · Kamis 30 Juni 2022 15:32 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 337 2621147 santi-warastuti-sosok-ibu-yang-perjuangkan-ganja-dilegalkan-untuk-medis-anaknya-7wZ60mvPP1.jpg Santi saat aksi di CFD (foto: Twitter @andienaisyah)

SLEMAN - Santi Warastuti, seorang ibu asal Kabupaten Sleman mendadak viral. Dengan lantang membawa poster ia menyuarakan suara hatinya agar ganja untuk keperluan medis dilegalkan. Sebab anaknya membutuhkan ganja untuk pengobatan.

Santi nekat datang ke Car Free Day (CFD) di Jakarta. Ia nekat datang agar mendapat perhatian dari khalayak umum, sebab isi surat yang dua tahun lalu ia tujukan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) serasa tak bertepuk sebelah tangan. Sebab sudah dua tahun, surat tersebut tak kunjung dapat kejelasan dan kepastian.

Dua tahun ia berjuang demi nasib buah hatinya agar mendapatkan perawatan medis yang dia butuhkan. Langkah perjuangannya semakin banyak disorot setelah kehadirannya di CFD ditangkap dan disebarluaskan oleh seniman Andien Aisyah Haryadi lewat media sosialnya.

 BACA JUGA:MUI Bakal Godok Fatwa Penggunaan Ganja untuk Medis

Warga Karangwetan, Kalurahan Tegaltirto Kapanewon Berbah Sleman ini nekat menyuarakan tuntutannya secara terbuka bukan serta merta saja. Sebab, selama ini ia sudah mondar-mandir ke rumah sakit untuk memperjuangkan kesembuhan anaknya.

Pika, anaknya merupakan salah satu penderita Celebral Palsy awalnya harus rutin berobat ke RSUP dr.Sardjito. Namun karena jarak yang jauh dari rumah di Berbah Sleman, maka pengobatan Pika bergeser ke RSI PDHIY, Kalasan.

"Karena alasan biaya mobilitas maka kami cari tempat yang terdekat dari rumah untuk konsultasi bulanan, terapi, kontrol. Baru ketika kondisi anaknya ngedrop di Sardjito," terangnya.

 BACA JUGA:Sejarah Masuknya Ganja di Indonesia, Dibawa Pedagang Gujarat dari India ke Aceh pada Abad ke-14

Berkali-kali ia pindah rumah sakit untuk memperjuangkan kesembuhan anaknya. Namun ada rumah sakit yang tidak bisa menggunakan BPJS Kesehatan maka ia kemudian pindah lagi. Sesekali ia juga harus mendatangi rumah sakit tempat dokter praktek.

 

Ia mengungkap, langkah nekatnya datang ke Jakarta membawa poster tuntutan adalah langkah seorang ibu yang sedang mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Hal tersebut menjadi bentuk ikhtiarnya bagi buah hatinya, yang divonis cerebral palsy sejak 2015 itu.

"Ya saya serahkan pada Tuhan, kelak saya ditanya Tuhan nanti kamu sudah lakuka apa buat anak kamu? saya jadi punya jawabannya," tegasnya.

Secercah harapan mulai tersemat di pundaknya akan keinginan anaknya mendapat ganja untuk penuhi kebutuhan medis. Sebab, belum lama ini, pihak perwakilan Kemenkes menemuinya dan Kamis siang ini, Santi mengikuti rapat dengar pendapat dengan DPR.

Tak terpikirkan perjuangannya akan direspon cepat oleh pemerintah dan anggota dewan. Karena Santi mengaku awalnya hanya ingin hadir ke CFD lalu pulang. Terlebih saat itu, ia tak membawa bekal apa-apa, hanya sandal gunung dan kaos.

"Agak syok juga, capek ya iya, tapi kan harus saya jalani, karena kalau enggak sekarang, kapan lagi. Ini adalah kesempatan untuknya dan kesempatan ini akan saya gunakan sebaik-baiknya," terang dia.

memang datang ke Jakarta untuk memperjuangkan buah hatinya yang menderita Cerebral Palsy. Dukungan penuh dari suaminya, orang-orang terdekat dan komunitas orang tua anak dengan cerebral palsy sudah lebih dari cukup baginya.

Selain berjuang untuk anaknya agar bisa mendapatkan perawatan medis, setidaknya, mungkin juga memberikan manfaat bagi temannya yang lain.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini