Share

Melirik Potensi 'Ecoprint' Desa Suak Gual

Dimas Choirul, MNC Media · Senin 27 Juni 2022 22:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 27 337 2619309 melirik-potensi-ecoprint-desa-suak-gual-usEVzrciQ0.jfif Ecoprint dari warga Desa Suak (Foto MPI)

SUAK GUAL - Suasana pagi yang cerah, ditambah kicauan burung camar laut menyemangati warga Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Sebagian istri nelayan memulai aktivitas di Balai Adat dengan membuat kerajinan ecoprint.

Ruminah (49), terlihat sibuk memilah daun-daun yang ia kumpulkan bersama para istri nelayan lain. Dengan penuh ketelatenan, jari-jari tangan lentiknya memadupadankan dedaunan dengan apik di atas kain kanvas.

"Harus pelan-pelan saat menempelkan dedaunannya, soalnya agak rumit," tuturnya kepada MNC Portal, Senin (27/6/2022).

Pewarna alami yang sering ia gunakan dalam membuat ecoprint ini adalah daun ketapang. Sedangkan untuk motifnya, menggunakan Daun Jarak, Daun Simpur, Daun Gelang, Daun Kletak hingga rerumputan.

Menurut Ruminah, mengerjakan ecoprint ini memiliki keunikan tersendiri. Hasil akhirnya sulit ditebak. Padahal, motif pada lembar kain telah ia sesuaikan dengan daun atau bunga yang ditempel. Namun, gradasi warna yang dihasilkan serta detail bentuknya tak pernah sama.

"Misalnya daun simpur dipakai pewarna (dari) secang jadinya apa, kalau kita tarokan (taruh) di warna tengger, jadinya apa, harus tau. Jadi setiap warna berbeda," jelas Ibu tiga anak ini.

Dikatakan Ruminah, dalam proses pembuatannya, penataan daun atau bunga tak boleh dilakukan sembarangan supaya menghasilkan selembar kain dengan komposisi seimbang. Baik warna maupun jejak daun. Perlu memakan waktu hingga dua hari untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Proses pembuatan yang agak rumit dan perlu ketelatenan itulah yang membuat produk ecoprint memiliki nilai seni yang cukup mahal.

"Kalau kain kanvas penjualan kami engga ada yang di bawah Rp100 ribu. Pasti di atas Rp100 ribu bahkan ada yang Rp250 ribu. Tapi kalau kain blengket untuk masyarakat biasa (lokal), itu masih ada yang kita jual di bawah Rp100 ribu," jelasnya.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Ide Awal

Sudah sekitar tiga bulan kelompok istri nelayan di Desa Gual menjalani kerajinan ecoprint secara mandiri. Meski dibilang baru, namun sudah ada ratusan produk yang dihasilkan berupa kaus, goodie bag, topi, dompet, selendang hingga phasmina.

Ketua Koperasi Produsen Kampung Nelayan Maju Desa Suak Gual, Rozali mengatakan, munculnya ide membuat ecoprint ini bermula saat ditetapkannya Desa Gual sebagai Kampung Nelayan Maju (Kalaju) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Maret 2021 lalu. Dari situ, Desa Gual dilirik menjadi objek wisata baru di Kabupaten Belitung.

Seiring berjalannya waktu, pada April 2022, pihak KKP melihat potensi lain dari Desa Gual. Mereka menilai Desa Gual memiliki sumber daya alam tumbuhan yang beragam, selain potensi sumber daya laut.

Pihak KKP lantas mendorong para warga, khususnya istri nelayan untuk membuat kerajinan ecoprint dengan memberikan pelatihan dan penyuluhan. "Kita (para ibu-ibu di sini) diberikan pelatihan membuat ecoprint ini, terus dari situ kita kembangkan," ucap Rozali.

Membantu Perekonomian Warga

Diakui Ruminah, kegiatan ecoprintĀ ini sangat sangat membantu para istri nelayan. Tak hanya melatih kreativitas, namun juga membantu perekonomian keluarga sebagai mata pencaharian alternatif (MPA) di saat musim tidak melaut.

ā€œKalau saat musim tidak melaut, suami kami juga sering ikut membantu membuat kerajinanĀ ecoprintĀ ini. Mereka membantu menggulung dan mengikat kain yang sudah kami tempeli dedaunan agar lebih kencang sehingga corak daunnya akan lebih muncul pada kain tersebut,ā€ imbuhnya.

Ruminah berharap, hasil produksi ecoprint Desa Suak Gual ini dapat dipasarkan tidak hanya di skala lokal, namun juga bisa dipasarkan hingga luar negeri. "Semoga dengan adanya penyuluhan dari KKP bisa di pasarkan ke luar negeri," ungkapnya.

Bakal dipamerkan pada Presidensi G20

Antusiasme dari para penduduk di Desa Suak Gual membuat KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap mengembangkan potensi ecoprint.

Hasil pemberdayaan ecoprint tersebut direncanakan akan dipamerkan pada rangkaian kegiatan Presidensi Indonesia G-20 pada bulan Oktober hingga November 2022 mendatang.

Camat Selat Nasik, Azhari mengatakan, pihaknya mengaku siap untuk menyambut delegasi G20 mendatang. "Karena Desa Suak gual ini kalau dari sisi kebersihan segala macem enggak pernah kotor. Saya liat bersih. Artinya kalau untuk menyambut delegasi G20 kapan aja siap. Saya pastikan untuk kesiapan kali ini 80 persen sudah siap," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini