Share

Sling Terakhir Sang Datuk di Kaki Harimau Sumatera

Demon Fajri, Okezone · Minggu 26 Juni 2022 12:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 26 337 2618446 sling-terakhir-sang-datuk-di-kaki-harimau-sumatera-0XEcGfLwgQ.jpg Datuk Mawi mantan pemburu harimau (Foto: Demon Fajri)

MUSI RAWAS UTARA - "Satwa ini dilindungi. Semua pemburu harus berhenti! Harimau harus kita selamatkan. Harimau di Sumatera harus diselamatkan,"

Itulah pesan mantan pemburu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), asal Kampung KMPI, Dusun VI, Desa Muara Tiku, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Provinsi Sumatera Selatan.

Pria berkulit gelap itu bernama, Mawi. Di kalangan pemburu, namanya cukup populer. Khususnya, pemburu Harimau di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah III Sumatera Selatan-Jambi-Bengkulu.

Mantan ‘Begal’ raja hutan ini dapat membunuh 3 ekor hingga 6 ekor Harimau, dalam satu bulan di kawasan hutan, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, hingga Provinsi Bengkulu.

Baca juga: Warga Seluma Geger Harimau Sumatera Mangsa 6 Kambing dan Hewan Peliharaan

Namun, pria yang akrab disapa Datuk Mawi ini sudah tidak lagi jadi pemburu di dalam kawasan hutan di daerahnya maupun wilayah lain. pada 2018 lalu, bapak dari tujuh orang anak ini sudah bertobat, dia insaf. Di tahun itu menjadi sling terakhir sang Datuk di kaki Harimau Sumatera.

datuk

Datuk Mawi bermalam di hutan (Foto: Demon Fajri)

Buktinya berbagai alat tangkap berburu, pria kelahiran Muara Tiku, 6 April 1949, telah diserahkan ke Lingkar Inisiatif Indonesia. Seperti, pentungan kayu pemukul, jerat kawat sling baja, golok cikbatu, dan senjata api (senpi) rakitan laras panjang. Sebelumnya alat pendukung berburu itu, Mawi kubur di dalam hutan di daerahnya.

Baca juga: 2 Harimau Surya dan Citra Dilepasliarkan di Taman Nasional Kerinci Seblat

Pada 2020, mantan sang ‘jagal’ itu aktif menjadi bagian dari Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif Indonesia. Sapu jerat kawat sling baja yang dipasang pemburu harimau di kawasan TNKS dan sekitarnya.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Tidak hanya itu. Keseharian sosok pria yang mengidolakan penyanyi, almarhumah Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi atau Nike Ardilla ini mengais rezeki dengan mencari lebah sialang, bertani, buruh harian, dan menjaring ikan di aliran sungai Tiku di daerah tempat tinggalnya.

"Untuk para pemburu yang masih aktif, harus berhenti seluruhnya," ajak pria 73 tahun ini, mantan pemburu Harimau Sumatera, di camp salah satu kawasan hutan di Kabupaten Musi Rawas Utara, Rabu 15 Juni 2022, malam.

Mulai Berburu Harimau Diusia Produktif

Pria uzur ini berburu Harimau bukan tanpa alasan. Dia menjadi 'begal' Harimau terpaksa lantaran kesulitan ekonomi. Baginya, pekerjaan berburu tersebut, bukan untuk mencari kekayaan.

Daatuk

Datuk Mawi mencari ikan untuk dimakan selama berburu Harimau (Foto: Demon Fajri)

Mantan pemburu ini telah menjalankan pemburuan Harimau, tidak kurang dari 46 tahun. Tahun 1972 hingga 2018, tepatnya. Di masa itu sosok pria berambut cepak ini masih berusia produktif, 23 tahun.

Baca juga: Diduga Jual Kulit Harimau, Mantan Bupati Bener Meriah Ditangkap

"Saya mulai berburu Harimau pada tahun 1972," ungkap pria berkulit gelap itu.

Alasan lain pria yang memutuskan berhenti menjadi pemburu pada usia 69 tahun ini, berburu satwa di lindungi juga dilatarbelakangi permintaan dari warga setempat. Permintaan dari masyarakat itu di bawah tahun 1980-an.

Baca juga: Cerita Gubernur Khofifah Bertemu Keluarga Harimau di Gunung Semeru

Sebab di areal perkebunan warga setempat kerap kali didatangi Harimau. Tentu petani menjadi takut beraktivitas di areal perkebunan mereka. Menyadap karet, misalnya.

"Di bawah tahun 1980-an, saya didatangi orang desa. Mereka minta tolong datang ke ladang untuk memburu Harimau yang ada di ladang," cerita Datuk Mawi.

Bahkan, munculnya sosok pria yang identik tidak mengenakan baju ini menjadi bak pahlawan, ketika berburu Harimau di areal kebun masyarakat. Hal itu membuat pemilik kebun menjadi aman saat beraktivitas.

"Berburu Harimau juga karena permintaan dari orang desa. Kalau Harimau tidak ada di ladang, orang kan jadi aman. Nyadap karet aman. Masyarakat desa senang, jika saya berburu," ulas pria kelahiran 1949 ini.

Ikut Kakak dan Belajar Otodidak

Sosok pria yang identik tidak mengenakan alas kaki atau pelindung kaki ini, berburu Harimau diketahuinya dari kakaknya. Abadi Utama, namanya. Badi, begitulah sapaan Mawi kepada kakaknya itu.

Dari sosok Badi, pria dengan tinggi tidak kurang dari 170 cm ini ikut berburu Harimau. Dari situ, Mawi mulai belajar. Peralatan yang dibutuhkan hingga tata cara pemasangan perangkap jerat dan lainnya.

Baca juga: Video Detik-Detik Warga Aceh Diterkam Harimau Sumatera saat Panen di Kebunnya

Namun, Mawi tidak sepenuhnya diajarkan, Badi asal Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan. Pria 73 tahun ini belajar secara otodidak.

"Awal berburu. Kakak saya Badi itu setengah mengajar, setengah tidak. Saya belajar sendiri," ingat sang Datuk.

Di masa itu. Mereka berdua dijemput warga Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, untuk mengamankan masyarakat dari ancaman Harimau Sumatera. Bagi masyarakat di daerah tersebut mereka menjadi pahlawan.

Sebab mereka telah memberikan rasa aman dari gangguan Harimau. Berangkat dari itu sosok kakak Mawi, Badi menjadi orang pertama membuka akses di Desa Sebelat Ulu, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Saat ini sosok Badi, kakak pria berusia 73 tahun ini telah meninggal dunia. Bagi masyarakat, Badi merupakan pahlawan. Sehingga sosok Badi, diabadikan dengan pembuatan patung yang berdiri di desa tersebut.

"Kakak saya sudah meninggal dunia. Kakak saya itu yang mengajarkan berburu sewaktu kecil," cerita Mawi.

Alat Berburu Ala Datuk Mawi dari Masa ke Masa

Awal berburu Mawi hanya mengandalkan sepotong kayu berukuran panjang sekira 50 cm, sebesar tangan orang dewasa, dengan diameter kayu sebesar baterai senter besar. Ukuran panjang sepotong kayu tersebut. Cukup beralasan.

datuk 3

Alat tankap Harimau milik Datuk Mawi (Foto: Demon Fajri)

Jika sepotong kayu lebih dari 1 meter akan kesulitan memukul, ketika Harimau berada disemak-semak. Tentunya kayu tersebut tersangkut. Selain sepotong kayu. Mawi juga membawa sebilah senjata tajam (sajam), golok cikbatu.

Baca juga: Ada Harimau Berkeliaran, Pemilik Kebun Sawit di Riau Sewa Bodyguard

Sejak digunakan tahun 1972, golok itu sudah menjadi pisau pendek, sejengkal orang dewasa kira-kira. Sebab. Golok Cikbatu tersebut kerap di asah dan patah.

Alat pendukung lain pada masa ini Mawi juga menggunakan ijuk yang dijalin sebesar induk mata kaki, sepanjang tidak kurang dari 3 meter. Ini digunakan untuk mengikat leher Harimau.

Tahun 1972 hingga 1980-an, Mawi bersama kakaknya berburu di kawasan hutan di daerahnya, Provinsi Bengkulu hingga ke Provinsi Jambi. Cara berburunya cukup ekstrem. Mereka mengejar Harimau, mengepung dari sisi kiri dan kanan.

Ketika Harimau terkepung, kepala, badan, kaki Harimau langsung dipukul dengan sepotong kayu hingga mati. Lalu, Harimau tersebut langsung dikuliti.

Kemudian direndam dengan air spritus. Cara berburu ala sang 'jagal' Harimau ini bertahan hingga 10 tahun.

"Ke mana dia (Harimau) lari kita pasti tahu. Ke mana dia lari, kita cari jalan pintas untuk mengejar Harimau. Kalau orang belum pernah lihat, mungkin cerita saya ini dongeng. Tapi, kalau orang pernah lihat baru dia percaya," cerita Mawi, meyakinkan.

Memasuki tahun 1980-an, Mawi mulai mengenal senjata api (senpi) rakitan laras panjang atau dikenal kecepek. Pelurunya dari bekas kepala Aki dibuat sebesar buah cengkeh.

Baca juga: Dengar Auman Harimau, Warga Rokan Hulu Ketakutan Langsung Mengungsi

Namun Penggunaan senpi rakitan tersebut tidak bertahan lama. Sebab hasil buruan Harimau tidak memiliki nilai jual. Kulit Harimau berlobang. Alhasil Mawi memutuskan tidak menggunakan lagi senpi.

"Kalau banyak lobang di kulit Harimau maka harganya murah," kilas bapak dengan tujuh orang anak ini.

Di tahun 1980-an itu juga, sosok Mawi mulai mengenal jerat dari kawat sling baja. Hasil dari pemikirannya. Mulanya, Dia uji coba terlebih dahulu apakah kawat sling bagus digunakan atau tidak.

Dari situ, pia bertubuh tegap itu mulai menggunakan jerat dari kawat sling baja cukup lama. Tidak kurang dari 38 tahun. Meski begitu, senpi rakitan laras panjang tersebut tetap digunakan untuk menembak hewan buruan lainnya mulai dari Rusa, Kijang, dan Tapir.

"Jerat dari kawat sling baja itu dipasang di tempat tertentu. Setelah dipasang, saya menunggu cukup jauh sekira 400 meter dari jerat. Ini untuk mengelabui beliau (Harimau)," kenang Mawi.

Ritual Sebelum Berburu

Sebelum berburu, Datuk Mawi juga melakukan prosesi ritual di dalam hutan. Mawi juga menyiapkan beberapa sesajen mulai dari membuat api ungun, jerat kawat sling baja, cikbatu, tang, nasi bubur dua piring dan kemenyan. Ritual itu untuk memikatkan Harimau.

Jika Harimau lambat menyarungkan jerat cepat mati. Lebih baik Harimau cepat menyarung jerat. Selain itu prosesi ini bermaksud meminta keselamatan dan diberikan rezeki saat berburu. Ritual ini Mawi lakukan ketika turun ke dalam hutan.

"Kalau rezeki kita dikit, kita minta dibanyakkan kalau rezeki itu masih jauh kita minta di dekatkan. Kalau sudah dekat minta disampaikan ke kita. Itu artinya. Kita berdoa untuk meminta perlindungan dari Harimau nenek moyang, untuk menjerat Harimau gunung," jelas Datuk Mawi.

Usai melangsungkan prosesi tersebut Mawi pun masuk ke dalam hutan yang menjadi lokasi Harimau bermain. Di sana mantan pemburu ini memasangkan jerat kawat sling baja.

Jerat itu dibuat sedemikian rupa, agar tidak diketahui hewan buruan dan pemburu lainnya. Di mana tidak kurang dari 20 meter hingga 50 meter dari jerat diberi kode pada pohon berbentuk silang atau tanda kurang.

"Setelah memanjatkan doa, saya langsung ke lokasi tempat untuk memasang jerat," kata Mawi.

Berburu Seorang Diri hingga Setahun di Dalam Hutan

Di balik sosok pria yang mengidolakan penyanyi Nike Ardila. Mantan pemburu ini sangar ketika di hutan. Mawi menerobos masuk ke dalam hutan hanya seorang diri, untuk berburu Harimau.

Tak ada rasa takut sedikit pun dalam diri pria yang jarang mengenakan baju dan topi ini. Berbeda dengan pemburu lainnya yang memiliki group, 3 hingga 4 orang.

Baca juga: Harimau Diduga Penerkam Warga Masuk Perkampungan Lain di Bengkalis

Mawi seorang diri bukan tanpa alasan. Pria yang identik tidak mengenakan alas kaki ini, tidak memikirkan berapa lama masuk ke dalam hutan. Bahkan, Mawi sempat 1 tahun di dalam hutan untuk berburu Harimau.

Untuk itu, dia tak pernah mengajak orang. Terlebih jika ada yang ingin ikut tidak akan betah dan tahan. Dia sama sekali tidak memikirkan waktu ketika sudah masuk ke dalam hutan.

"Pernah satu tahun di dalam hutan. Dari sebelum lebaran Idul Fitri hingga ke lebaran Idul Fitri lagi. Kalau pergi berburu tidak ada memikirkan berapa lama waktu. Sebelum dapat belum berhenti," kisah Mawi.

Mawi sempat dibilang tidak ingin berbagi rezeki. Namun hal itu, dia tepis. Sebab ketika di dalam hutan, dan hasil buruan belum ketemu teman sudah mau pulang.

Mawi menjadi serba salah. Mawi berpikir jika temannya pulang nanti akan dibilang yang tidak-tidak oleh penduduk. Terlebih dalam perjalanan pulang terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

"Jika kawan pulang kita tetap di hutan jadi nanti terjadi yang tidak-tidak, pikiran orang saya usir dia. Makanya, setiap saya berburu tidak mau berkawan, takutnya kawan tidak tahan," jelas Mawi.

Dalam diri pria ini, musti membawa hasil ketika pulang ke rumah. Baginya, jika hasil buruan belum dapat maka akan terus dicari hingga ketemu, dan terus melanjutkan perjalanan ke hutan-hutan lainnya.

Selama di hutan Mawi bertahan hidup dengan hasil buruannya mulai dari memakan daging rusa, kijang, tapir hingga daging harimau sekali pun. Camp tempat tinggalnya seadanya. Di pohon yang berlobang besar, misalnya.

Baca juga: Harimau Pemangsa 11 Kambing dan 2 Sapi Warga Masuk Perangkap

"Kita pergi satu bulan, tapi kita belum dapat hasil. Apa yang kita bawa ke rumah? Kalau belum dapat beliau (Harimau) itu. Kita cari. Kalau tidak ada di hutan ini maka hutan yang ada di depannya. Ke mana arahnya kita susul terus," kata pria yang mudah tersenyum ini.

Perjalanan Mawi berburu Harimau cukup panjang. Untuk itu, Mawi selalu memberi tanda-tanda pada pohon agar tidak tersasar. Dia juga menggunakan daya ingat ketika memasuki daerah hutan.

Di dalam hutan tdak hanya bertemu dengan hewan buas. Mawi juga sempat melihat manusia pendek atau orang pendek. Perawakan manusia, penuh bulu mirip Beruk. Begitu juga cara berjalannya. Kata dia, tingginya sekira 1,5 meter.

"Biar tidak nyasar. Saya menggunakan ingatan. Melihat tanda di kayu," ujar pria kelahiran 1949 ini.

Menguliti 100 Harimau Lebih

Dari awal berburu tahun 1972 hingga 2018 tidak kurang dari 100 Harimau Sumatera telah dikuliti, Mawi. Terkadang, dalam satu bulan mantan pemburu ini bisa memperoleh enam ekor Harimau yang terkena jerat.

Tak jarang, jerat kawat sling baja milik pria berkulit gelap ini mengenai satwa lain. Mulai dari Tapir, Beruang, Kijang, Rusa dan anak Harimau. Namun, satwa yang terjerat itu dilepas.

Mawi menilai jika satwa yang terkena jerat diluar Harimau tersebut tidak memiliki nilai jual. Pikirannya juga tidak ingin menyiksa atau membunuh satwa lain di luar Harimau.

Sesekali daging buruan tersebut Mawi konsumsi, ketika bekal di dalam hutan sudah habis. Hal itu untuk bertahan hidup selama perjalanan dari hutan ke hutan termasuk daging Harimau.

Lantaran kerap memakan daging Harimau berdampak pada badan Mawi menjadi panas. Sehingga pria uzur itu jarang mengenakan baju baik ketika di dalam hutan maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan cuaca dingin sekalipun.

"Harimau yang sudah saya kuliti lebih dari 100 ekor. Itu sejak awal berburu tahun 1972 sampai 2018. Pernah saya dapat dalam satu bulan itu 6 ekor. Pernah juga tidak sama sekali. Jika Rusa, Tapir, Beruang, kena jerat saya lepas. Hewan itu mati tidak ada artinya. Tidak ada harganya itu," kata Mawi.

Ketika hasil buruan Harimau telah diperoleh, Mawi. Kulit Harimau, taring, kulit, tulang benulang hingga lainnya dikuliti terlebih dahulu. Kemudian seluruh bagian tubuh itu diawetkan dengan menggunakan air spritus dan dikubur di suatu tempat.

"Setelah dapat saya kubur dulu. Kemudian saya lanjutkan lagi perjalanan ke hutan lain. Tapi, memasuki tahun 1990-an Harimau mulai sepi," cerita dia.

Baca juga: Pekerja Kontraktor Tewas Diterkam Harimau saat Buang Air Besar

Semasa berburu hasil buruan Harimau paling banyak terkena jerat Harimau berjenis kelamin jantan. Bahkan tinggi Harimau terkena jerat, pernah setinggi pinggang orang dewasa. Kira-kira 1,25 meter.

"Yang paling banyak Harimau jantan. Saya pernah dapat Harimau tingginya sepinggang orang dewasa," ungkap Datuk.

Mawi sama sekali tidak takut ketika berburu di dalam hutan, seorang diri. Berburu Harimau, musti banyak beraninya dari pada takutnya. Jika takut maka Harimau tidak dapat dijerat.

"Kita tidak dapat Harimau, kalau takut. Jadi, harus banyak beraninya. Orang bilang jangan berburu Harimau lagi, nanti malah tambah banyak. Saya malah senang, kalau banyak Harimau malah bergairah," ungkap Mawi.

Harimau Dijual Rp50 Ribu

Masa aktif menjadi pemburu Harimau, tahun 1972 harga Harimau hanya di bawah Rp100 ribu per ekor. Pada masa itu harimau masih tergolong masih bebas diperjualbelikan.

Di masa itu juga harga Harimau jantan hanya dibanderol Rp50 ribu per ekor, dan betina di bawah Rp50 ribu. Dulu uang Rp10 ribu setara dengan uang Rp5 juta, sekarang.

Harimau hasil buruan Mawi secara keseluruhan dijual mulai tulang, kulit, kuku, dan taring.

Tak hanya itu minyak Harimau pun ikut dijual. Pada tahun 1980-an harga minyak Harimau dijual satu botol minuman bersoda Rp150 ribu hingga Rp250 ribu. Minyak Harimau dipercaya bisa mengusir hama babi di areal perkebunan.

"Harga Harimau dulu, belum sampai Rp100 ribu satu ekor," jelas Mawi.

Hasil perburuan Mawi, selama 46 tahun tidak ada. Hasil buruan tidak kurang dari 100 Harimau itu hanya untuk makan. Bahkan, Kondisi rumahnya pun tak layak. Sebab hanya terbuat dari papan yang mulai lapuk.

"Kalau orang pikir. Saya itu bisa bangun rumah. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Rumah itu tidak layak. Tapi, jika dibilang tidak ada hasil saya menghidupi anak selama ini dari sana,'' ujar mantan pemburu yang telah insaf selama 4 tahun ini.

Penjualan hasil buruan itu tidak begitu besar keuntungannya. Mawi menjual hasil pengawetan Harimau paling murah Rp1 juta dan Rp5 juta, paling tinggi, Rp18 juta. Itu hanya satu kali.

Dalam transaksi jual beli Harimau Mawi cukup selektif. Pria ini tidak ingin menjual kepada sembarang orang. Baginya, menjual barang seperti itu berbahaya. Bahkan, Datuk sama sekali tidak pernah membawa barang tersebut keluar dari desa.

Alasannya tidak menjual ke luar Mawi tidak memiliki modal. Tak bisa mengendarai sepeda motor. Hal itu berdampak harga jual Harimau tersebut sangat murah. Pembelinya hanya datang ke rumah. Menanyakan, apakah ada barang itu atau tidak.

"Orang datang ke rumah. Paling murah Rp1 juta itu kulit sama tulang. Pernah satu kali Rp18 juta, tahun 2017. Itu adalah penjualan terakhir. Sebelum memutuskan untuk berhenti berburu Harimau," ungkap Mawi.

Dari Tak Tahu Harimau Dilindungi Hingga Berhenti Berburu

Tahun 1972 hingga 2000-an, pria identik tanpa mengenakan alas kaki ini, tidak mengetahui jika Harimau, yang diburu satwa di lindungi. Sehingga, Mawi terus berburu di dalam hutan. Bagi Mawi. Harimau, pada masa itu adalah hama.

Tahun 1990-an. Ada beberapa orang menegur. Jika Harimau adalah satwa dilindungi. Namun, dia sama sekali tidak percaya. Dalam pikiran Mawi teguran orang tersebut merupakan akal-akalan mereka. Datuk Mawi pun tetap berburu Harimau.

Memasuki tahun 2000-an, Mawi kembali ditegur seseorang. Jika satwa yang diburu selama ini dilindungi negara dan tidak boleh diburu.

"Dulunya saya tidak tahu kalau satwa ini dilindungi. Saya tahu satwa ini di lindungi sekira tahun 1990, itu karena omongan orang. Waktu itu bisa jadi orang itu berbohong. Tahun 2000-an, baru mengetahui Harimau di lindungi," kata dia.

Berselang 8 tahun. Tepatnya pada 2018, Mawi kedatangan tim Lingkar Inisiatif Indonesia. Dari pertemuan itu tim mengajak pria bertubuh besar tinggi ini untuk bertaubat, dan tidak berburu Harimau lagi.

Proses pendekatan tersebut cukup lama. Mawi pun disadarkan, dengan pendekatan norma dan agama untuk perlindungan Harimau Sumatera. Mantan pemburu itu pun insaf. Memutuskan untuk berhenti berburu Harimau.

"Pertama itu dia bohong. Saya dibawa ke aliran Sungai Tiku, mancing. Dia pun jujur, meminta untuk berhenti berburu Harimau. Sejak itulah saya memutuskan untuk berhenti berburu, dan bersumpah," cerita Mawi.

Kena Kualat Harimau, Mengajak Pemburu Harimau Insaf

Memasuki 4 tahun, insaf berburu Harimau. Mawi mulai beraktivitas normal. Mencari rezeki di desanya. Apapun pekerjaan yang ditawarkan bisa membuat bahagia, aman dan senang. Dia kerjakan.

Bekerja sebagai buruh harian, mencari lebah sialang, ikut berpatroli sapu jerat Harimau, menjaring ikan dan bertani. Pekerjaan barunya itu membuat Mawi menjadi senang.

Dulu Mawi mahir memasang jerat kawat sling Harimau. Namun, sejak tergabung dalam Tim Smart Patrol Lingkar Inisiatif Indonesia, Datuk Mawi menjadi sosok menonaktifkan jerat yang terpasang di dalam hutan.

"Aktivitas berpatroli, kalau ketemu jerat kita ambil. Kalau ada kawan kita tegur kita mohon untuk berhenti. Harus berhenti. Sebab saya sudah berhenti," ucap Mawi.

Sejak insaf. Setidaknya Mawi sudah mengajak 10 pemburu Harimau, untuk berhenti berburu. Mereka merupakan group berburu. Masing-masing group 3 hingga 4 orang.

Ajakan berhenti itu tidak hanya di daerahnya. Namun, Mawi juga mengajak pemburu Harimau di Provinsi Jambi dan sekitarnya. Pria ini selalu mengingatkan kepada pemburu Harimau jika Harimau itu harus dilindungi. Kehidupan Harimau itu penting. Jaga Harimau, jaga kehidupan.

Sejak berhenti berburu. Mawi merasa mulai terkena karma. Apa yang telah dilakukan selama ini. Sebab. Di bagian kakinya, mengalami penyakit kulit, kudis-kudis. Itu Mawi rasakan ketika memasuki 2018.

Berhenti sebagai pemburu Harimau, Datuk tidak ingin meminta ke pemerintah. Bantuan, misalnya. Hanya saja, baginya pemerintah musti memikirkan kehidupan mantan pemburu Harimau.

"Saat ini, saya merasa berdosa telah mengganggu Harimau. Pernah saat itu Harimau yang masih hidup saya kuliti. Saya sudah kena kualatnya. Hukum karma berlaku, karena kaki Harimau pernah kena jerat, di akhir umur saya ini kaki terserang penyakit kulit, kudis-kudis. Ini saya rasa kualat kepada Harimau. Saya merasa kualat. Ini karma,'' tutup sang Datuk.

1
10

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini