Share

Serangan Sekutu Kerajaan Sriwijaya Buat Airlangga Nyaris Tewas di Pesta Pernikahannya

Avirista Midaada, Okezone · Jum'at 24 Juni 2022 05:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 24 337 2617226 serangan-sekutu-kerajaan-sriwijaya-buat-airlangga-nyaris-tewas-di-pesta-pernikahannya-Ozi6oAj7ep.jpg Raja Airlangga (foto: wikipedia)

RAJA AIRLANGGA merupakan pendiri Kerajaan Kahuripan keturunan dari trah Mataram Kuno. Ia menjadi penerus Dinasti Isyana dari Raja Mpu Sindok saat Mataram Kuno berpindah ibu kota ke Jawa Timur, tepatnya di Medang.

Meskipun bukan keturunan langsung dari Mpu Sindok, asal usul Airlangga berasal pernikahan anak Mpu Sindok Sri Isanatunggawijaya dengan Sri Lokapala, yang mempunyai anak bernama Sri Makutawangsawardhana. Kemudian sosok Sri Makutawangsawardhana ini menikah dengan Dharmmodayana, putra Dinasti Warmadewa dari Bali dan mempunyai tiga orang putra yakni Airlangga, Marakata Pangkaja, dan Anak Wungsu.

 BACA JUGA:Silsilah Kerajaan Kediri, Raja-rajanya Keturunan Raja Airlangga

Tapi siapa sangka sebelum menjadi raja besar dan merupakan keturunan dari Mataram Kuno, Airlangga pernah selamat dari kematian. Pemberontakan itu terjadi saat ia masih di Kerajaan Mataram Kuno dan tengah melangsungkan perkawinannya.

Saat itu Airlangga tengah merayakan pernikahan dengan putri Raja Dharmawangsa Teguh, di ibu kota Kerajaan Mataram Kuno di Wotan. Dikutip dari buku "Airlangga Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI" tulisan Ninie Susanti, saat itu tiba - tiba Wurawari melakukan serangan.

 BACA JUGA:Raja Airlangga Ternyata Berasal dari Bali, Hidup Menderita Ketika Datang ke Jawa!

Serangan dari Raja Wurawari, yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya membuat istana Mataram kuno hancur. Bahkan putrinya sekaligus istri Airlangga dan Dharmawangsa Teguh, meninggal dunia pada kejadian itu. Peristiwa ini disebut sebagai pralaya yang terjadi pada 1016 Masehi.

Beruntung Airlangga berhasil lolos dari maut, ia lolos dari upaya pembunuhan dan melarikan diri ke hutan bersama anak buahnya bernama Narottama. Kisah penyerangan Wurawari ke Mataram Kuno ini dikisahkan pada Prasasti Pucangan berbahasa Jawa kuno.

Saat kejadian itu, Prasasti Pucangan mengisahkan Airlangga masih sangat muda dan belum berpengalaman dalam peperangan, serta menggunakan alat - alat senjata. Tetapi karena penjelmaan Dewa Wisnu, maka ia tidak bisa binasa oleh kekuasaan mahapralaya.

Ia kemudian tinggal di hutan lereng Gunung Arjuno dan berteman dengan para pendeta yang suci kelakuannya, dan seorang hamba setianya Narottama. Selama tinggal di hutan lereng gunung inilah Airlangga hidup layaknya kaum pertapa, ia memakai pakaian kulit kayu, dan makan apa saja yang dimakan oleh pendeta.

Selama tinggal di hutan, Airlangga tidak pernah melupakan pemujaan terhadap dewa - dewa siang dan malam. Sebab itu para dewa sangat besar cinta kasih kepadanya. Mereka berharap agar Airlangga memperoleh pohon keinginan untuk melindungi dunia, memperbaiki bangunan suci dan menghancurkan semua kekuatan jahat di dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini