Share

Profil Mahbub Djunaidi, Tokoh Betawi Berjuluk Pendekar Pena

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Kamis 23 Juni 2022 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 23 337 2616474 profil-mahbub-djunaidi-tokoh-betawi-berjuluk-pendekar-pena-0apLCEtL8L.jpg Mahbub Djunaidi (pepnews.com)

MAHBUB Djunaidi merupakan seorang wartawan, politisi, agamawan, kolumnis, organisatoris, yang mendapat gelar pendekar pena karena keahliannya dalam menulis. Dan dia adalah salah satu tokoh betawi yang namanya diabadikan menjadi nama jalan oleh Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Pria yang lahir di Jakarta pada 27 Juli 1933 dan meninggal pada 1 Oktober 1995 ini merupakan putra Kiai Haji Muhammad Djunaidi, salah satu tokoh Nahdlatul Ulama pada masa itu. Mahbub mengenyam pendidikannya di Jakarta. Ia sempat berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia namun tidak tamat.

Mahbub aktif di bidang jurnalistik. Karier jurnalistiknya berkembang pada tahun 1960-1970, saat dia menjabat sebagai pemimpin redaksi Duta Masyarakat. Duta Masyarakat merupakan surat kabar yang berada di bawah naungan NU.

Selain itu, Mahbub juga aktif di bidang politik dan keorganisasian. Hal ini dibuktikan sejak usia 19 tahun, ia sudah menjabat sebagai Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Selain itu, ia menjadi anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.

Mahbub tercatat sebagai Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada tahun 1960-1967. Kemudian, ia menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor. Mengikuti jejak ayahnya, pada tahun 1970-1979, Mahbub diangkat menjadi Wakil Sekjen Nahdlatul Ulama dan Wakil Ketua I PBNU pada tahun 1984-1989. Pada 1977-1982, Mahbub sempat menjadi anggota DPR mewakili Partai NU.

Minatnya di bidang sastra sudah terlihat sejak ia masih kecil dengan menulis sajak dan cerita pendek. Pada tahun 1948, saat SMP, karya Mahbub sudah dimuat di majalah anak-anak Sahabat terbitan Balai Pustaka. Selain itu, cerita pendeknya berjudul Tanah Mati dimuat di Majalah Kisah, salah satu majalah sastra yang menjadi incaran para pengarang untuk memuat karyanya.

Ketika memasuki bangku SMA, syairnya sudah banyak dimuat di berbagai majalah, seperti majalah Pemuda Masyarakat dan Siasat asuhan Rosihan Anwar. Mahbub juga pernah menerbitkan sebuah novel berjudul Angin Musim pada 1954. Kemudian ia kembali menulis sajak dan cerita pendek sampai tahun 1958, yang banyak dimuat di berbagai majalah.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini