Share

Kualitas Udara Memburuk karena WFO? Tidak Juga

Tim Okezone, Okezone · Selasa 21 Juni 2022 10:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 21 337 2615190 kualitas-udara-memburuk-karena-wfo-tidak-juga-AoGJHqo4dx.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Polusi udara tengah ramai jadi perbincangan publik usai DKI Jakarta ditempatkan sebagai posisi nomor wahid kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Sejumlah orang menilai hal itu terjadi karena para pekerja sudah kembali ngantor, atau work from office (WFO).

Soal itu, di media sosial Twitter, pun banyak tokoh yang turut membahasnya. Salah satunya Agus P Sari, selaku CEO landscape.id, yang menyatakan sumber polusi udara di Jakarta bisa dari PLTU yang berada di luar Jakarta.

"Di Jakarta, PLTU (di sekitar Jakarta) adalah kurang dikit dari setengah. Kalau sumber lain berkurang, polusi berkurang. Hujan juga akan melarutkan polusi dan menjatuhkannya ke tanah. Biasanya habis hujan polusi berkurang," ujarnya melalui aku @agussari, seperti dikutip, Selasa 21 Juni 2022.

Sementara, Piotr Jakubowski, selaku Co founder penyedia aplikasi pengukur kualitas udara, Nafas, menyatakan polusi udara Jakarta tidak hanya terjadi lantaran kebijakan WFO kembali diberlakukan.

"Selama beberapa hari yang lalu, ada orang yang menginformasikan bahwa polusi udara yang buruk disebabkan oleh kembalian WFO. Itu statementnya salah. Ada banyak faktor diluar WFO yang pengaruh kepada udara buruk," tulisnya melalui akun @piotrj.

Untuk membahas dampak dari WFO kepada polusi udara, kata dia, harus dilihat rumusnya dulu

"Parahnya Polusi Udara = Sumber + Atmosfer. Sumber - industri, pembakaran sampah, pabrik, transport, listrik dll. (KONTROL PENUH). Atmosfer - cuaca, geografi, angin, hujan, dll (TIDAK ADA KONTROL)," tulisnya.

Piotr menjelaskan sumber polusi berasal dari banyak hal. "Semua yang bisa dibakar dan yang mempunyai asap, memproduksi polusi PM2.5. Kenapa full control? Karena semua sumber ini (in theory) dihentikan," ujarnya.

Sementara terkait atmosfer, dirinya menyatakan bisa berpengaruh terhadap pada udara dari terjadi cuaca dan lain hal yang tidak bisa dikontrol. "Bumi kita mempunyai beberapa hal - termasuk geografi, kondisi cuaca dan lain2 yang berdampak kepada seberapa parah polusi udara kita. Kenapa tidak ada kontrol? Ya, inget aja pawang hujan di Mandalika," kata dia.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Kendati dirinya menyatakan WFO bukan faktor utama yang memperburuk kualitas udara, Piotr pun setuju dengan diberlakukannya Work From Home (WFH) seperti di masa PPKM, akan membuat udara lebih baik karena para pekerja tidak keluar rumah yang artinya tidak menggunakan kendaraan yang bisa memperburuk kualitas udara.

"Nah, kalau dilihat WFO, artinya semua orang ke kantor naik kendaraan dan fix polusi udaranya tinggi. Logikanya, dengan WFH terbalik. No cars. No pollution. Tahun lalu, dengan adanya PPKM Darurat, bener-bener tidak ada mobil di jalan. Dengan adanya lockdown di kota2 besar lain di seluruh dunia, polusi udara bisa membaik sampai 50% Jadi, di Jabodetabek harusnya juga ya," tulisnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini