Share

Kisah Jenderal Dudung Pimpin Timsus Pencari GPK di Timor Timur

Riezky Maulana, iNews · Selasa 21 Juni 2022 05:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 21 337 2615088 kisah-jenderal-dudung-pimpin-timsus-pencari-gpk-di-timor-timur-CwswgH8CRx.jpg KSAD Jenderal Dudung Abdurachman (Foto: Puspen TNI)

JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman lulus dari Akademi Militer (Akmil) Magelang (dulu AKABRI) pada Tahun 1988. Menyandang pangkat Letnan Dua atau Letda, Dudung remaja langsung ditugaskan ke Dili, Timor Timur, untuk mencari gerakan pengacau keamanan (GPK).

Kala itu usianya baru menginjak 24 Tahun, dan masuk ke dalam Batalyon Infanteri (Yonif) 744-SYB yang berada di bawah kendali Kodam IX/Udayana.

Personel dari Batalyon yang kini namanya berubah menjadi Batalyon Infanteri Raider Khusus itu terdiri dari pasukan elite pertempuran infanteri. Sedikitnya ada tujuh peleton dalam batalyon ini.

Dudung remaja mendapat kepercayaan sebagai Komandan Peleton (Danton) 3/B yang bermarkas kompi di Desa Becora, Dili, Timor Timur. Menurut Dudung, ada dua tim khusus yang dipimpinnya kalau bertugas di wilayah yang kini telah bernama Timr Leste itu, yakni Ataka dan Casador.

"Di sinilah saya membawa tim khusus yang namanya 'Ataka' dan 'Casador'. Tim ini terdiri atas prajurit-prajurit pilihan yang berpengalaman untuk mencari anggota Gerakan Pengacau Keamanan (GPK)," kata Dudung mengisahkan cerita, dikutip dari buku Loper Koran Jadi Jenderal, Selasa (21/6/2022).

Prajurit pertama ini haruslah terlebih dulu melakukan masa orientasi sekira lebih dua bulan. Mulai dari pengenalan lokasi, kegiatan fisik hingga mental.

Setelah semuanya rampung, Dudung dan para prajuritnya berangkat naik ke atas sebuah gunung. Di sana, mereka semua akan menjalankan tugas di medan operasi selama tiga bulan lamanya.

"Pertama tugas operasi, saya adalah Danton pertama yang seharusnya masih belum terlihat prestasinya. Akan tetapi, Komandan waktu itu, Kapten Edison, entah menilai fisik saya kuat atau alasan apa, dia memilih saya masuk dalam tim khusus dan bahkan memimpin," tuturnya.

Dudung remaja berpendapat saat itu, tim khusus biasanya dipilih dari mereka yang berprestasi. Dia heran, ketika itu masih tergolong remaja tapi bisa masuk kedalam tim khusus yang beranggotakan sejumlah 12 orang.

"Rupanya memang dipoih dari masih awal penetapanm belum kelihatan keahliannya. Mungkin sauandikenal dengan fisik yang kuat atau apa saya tidak tahu," jelasnya.

Kapten Edison yang merupakan abituren Akmil 1985 kala itu menjabat sebagai Komandan Kompi (Danki). Memang pada akhirnya Dudung mengetahui bahwa anggota tim tersebut dipilih berdasarkan fisik dan pengalaman yang mumpuni.

"Timsus ini bergerak apabila tin yang biasa mengalami hambatan atau mengalami kontak senjata. Pada proses pengejaran, saya ditunjuk lagi menjadi Timsus Casador," ucapnya.

Karier Dudung di Yonif 744-SYB Dili berlangsung sampai dengan Tahun 1994. Jabatan terakhir di Yonif yang terbentuk pada 24 Januari 1978 itu adalah Danton 1 Kompi B.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini