Share

Wasiat Sosrokartono, Guru Spiritual Soekarno yang Juga Kakak RA Kartini

Solichan Arif, Koran SI · Senin 20 Juni 2022 13:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 20 337 2614679 wasiat-sosrokartono-guru-spiritual-soekarno-yang-juga-kakak-ra-kartini-bDpPLDEkKh.jpg Sosrokartono (Foto : Repro/Istimewa)

JAKARTA - Penasihat spiritual atau guru spiritual menjadi salah satu orang yang suaranya didengar Presiden Soekarno atau Bung Karno. Guru spiritual Bung Karno adalah Drs Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono, yang membuat jiwa dan semangat Bung Karno senantiasa kuat dalam memimpin republik.

Dokter Soeharto pernah mengungkapkan kedekatan itu sebagai sumber kekuatan mental spiritual Bung Karno. “Secara mental spiritual Bung Karno masih kuat dan segar karena mempunyai hubungan dengan dua orang penasihat spiritualnya,” kata dokter Soeharto seperti disampaikan H Maulwi Saelan dalam buku “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”.

Dokter Soeharto merupakan dokter pribadi Bung Karno yang hari-harinya banyak berada di sekitar sang proklamator. Dokter Soeharto pernah menemani Bung Karno saat Putra Sang Fajar itu menunaikan ibadah haji tahun 1955. Pertemuan rahasia antara Bung Karno dengan Tan Malaka di awal kemerdekaan juga berlangsung di rumah dokter Soeharto.

Salah satu penasihat spiritual Bung Karno yang disebut Maulwi Saelan dalam percakapannya dengan dokter Soeharto adalah Drs Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono. Sosrokartono yang lahir di Mayong, Jepara, Jawa Tengah 10 April 1887 adalah kakak kandung Raden Ajeng Kartini.

Rekam jejak intelektualnya begitu panjang. Sosrokartono merupakan lulusan Universitas Leiden Belanda tahun 1908 Jurusan Sastra Timur. Sebagai murid terpandai Prof Dr. H Kern Leiden, Sosrokartono menguasai 37 bahasa, dan karenanya ia disanjung sebagai manusia jenius. Kaum intelektual Barat yang terpesona menjulukinya De Javanese Prince (Sang Pangeran Jawa) dan De Mooie Sos.

Saat Perang Dunia I pecah (1914-1918), Sosrokartono yang berada di Eropa menjadi jurnalis koran The New York Herald terbitan New York. Keberadaanya diterima banyak kalangan. Ia juga pernah menjadi juru bahasa untuk Sekutu (1918) di Jenewa, dan kemudian pindah ke Perancis menjadi mahasiswa pendengar di Universitas Sorbonne, jurusan psikometri dan psikotekhnik.

Sosrokartono juga sempat menjadi Pegawai Tinggi Atase Kedutaan Besar Perancis di Den Haag tahun 1921. Selama 29 tahun melanglang di Eropa, yakni sejak 1897, ia kemudian pulang ke Indonesia. Soskrokartono sejak tahun 1927 menempati rumahnya di Bandung, Jawa Barat. Ia menjalani fase kehidupan sebagai pendidik bersama Ki Hajar Dewantara dan kemudian lebih dikenal sebagai ahli kebatinan.

Cinta Sosrokartono kepada Nusantara, khususnya Jawa begitu besar. Ajarannya terkenal dengan mengoptimalkan indera rasa, mengasah rasa baik jasmani maupun rohani. Pada tahun 1899 Sosrokartono pernah berpidato bahasa Belanda dalam sebuah acara Kongres Bahasa di Gent, Belgia.

“Saya akan menyatakan sebagai musuh kepada siapa saja yang akan merobah Bangsa Jawa (Indonesia) menjadi Orang Eropa. Selama matahari dan bintang masih bersinar, saya akan melawan mereka itu!”. Sosrokartono di tahun 40-an pernah meramalkan, bahwa dengan dibukanya Terusan Suez yang banyak memakan korban, Asia dan Afrika akan bersatu padu di Bandung Jawa Barat.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Beberapa tahun kemudian, yakni tahun 1955, Kota Bandung menjadi tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Dan Bung Karno memang memiliki kedekatan khusus dengan Sosrokartono. Sebelum wafat pada 8 Februari 1952, Soskrokartono menanti kedatangan Bung Karno. Kepada dokter Soeharto, ia menyampaikan pesan untuk Bung Karno bahwa perjuangan belum selesai.

Bangsa Indonesia masih perlu perjuangan lama untuk benar-benar mewujudkan Indonesia merdeka. Sementara dalam perjuangan itu akan penuh warna pertengkaran, kekacauan dan jatuhnya banyak korban. Sosrokartono menyatakan akan selalu siap membantu. “Tetapi Bung Karno mesti eling (Ingat) terus. Meskipun Bung Karno sudah menjadi Presiden Republik Indonesia, masih memerlukan petunjuk dan nasihat,” kata Soskroartono seperti dikutip dari “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”.

Dalam setiap mengambil langkah dan tindakan, Bung Karno banyak mengikuti nasihat serta arahan guru spiritualnya. Termasuk kepada Abdurachim, guru spiritual Bung Karno lain, yang berasal dari Banten dan bertempat tinggal di wilayah Petojo Selatan, Jakarta. Maelwi Saelan pada Januari 1967 mengaku pernah diperintah Bung Karno mengunjungi Abdurachim yang dikabarkan sedang sakit keras.

Abdurachim menyampaikan pesan untuk Bung Karno agar tidak mencemaskan sakitnya yang menurut Abdurachim ujian dari yang mahakuasa. Guru spiritual Bung Karno itu juga bercerita bahwa dirinya dengan Bung Karno memiliki hubungan batin yang dekat. Hubungan it seperti halnya hubungan batin antara Bung Karno dengan Sosrokartono. Karenanya jika Bung Karno bersedih, dirinya juga ikut sedih. Sebaliknya ketika sang Proklamator itu gembira, dirinya juga ikut gembira.

Sebelum meninggal dunia pada 28 Maret 1967, Abdurachim sempat bertemu Bung Karno di guesthouse istana. Pertemuan itu merupakan pertemuan yang terakhir. Abdurachim sempat menyarankan Bung Karno untuk ikhlas menyerahkan kepemimpinan bangsa Indonesia kepada yang lain. Bung Karno yang menurutnya sudah tua, yakni berusia 65 tahun dan sakit-sakitan, sebaiknya berkonsentrasi dengan kesehatan dan banyak mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.

“Bung Karno harus lebih serius mengurus kesehatan dan berusaha berobat ke luar negeri dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,” kata Abdurachim seperti tertulis dalam “Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66”. Setelah memimpin Indonesia selama 22 tahun, kekuasaan Presiden Soekarno berakhir pada tahun 1967. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini